Ketidakpastian geopolitik, perubahan arah suku bunga, dan gejolak pasar keuangan membuat investor perlu lebih berhati-hati dalam menyusun portofolio. PT Bank DBS Indonesia melihat saham Asia di luar Jepang dan emas sebagai aset yang layak ditambah ketika risiko global belum mereda.
Pandangan itu menekankan pentingnya tidak bertumpu pada satu pasar maupun satu jenis aset saja. DBS menilai peluang investasi masih terbuka pada semester II-2026, meski volatilitas pasar diperkirakan tetap berlangsung.
Saham Asia dan Emas Jadi Pilihan Utama
Dalam pandangan Chief Investment Office DBS untuk kuartal III-2026, saham Asia di luar Jepang masuk kelompok aset yang direkomendasikan untuk ditingkatkan. Rekomendasi ini muncul di tengah lanskap ekonomi global yang semakin multipolar dan membuat penyebaran risiko menjadi lebih relevan.
Emas juga dipandang menarik sebagai instrumen diversifikasi sekaligus perlindungan nilai. Prospek jangka panjang logam mulia tersebut, menurut DBS, didukung oleh risiko geopolitik, tekanan inflasi, serta tren dedolarisasi global.
Selain dua aset tersebut, DBS menyarankan peningkatan eksposur pada obligasi korporasi negara maju, aset swasta, dan dana lindung nilai atau hedge funds. Kombinasi ini mencerminkan pendekatan yang tidak hanya mengejar potensi imbal hasil, tetapi juga mempertimbangkan ketahanan portofolio terhadap perubahan kondisi pasar.
| Kategori Aset | Arah Rekomendasi DBS | Rincian |
|---|---|---|
| Saham dan aset alternatif | Tingkatkan | Saham Asia di luar Jepang, emas, aset swasta, dana lindung nilai |
| Obligasi | Tingkatkan | Obligasi korporasi negara maju |
| Aset pasar utama | Netral | Saham global, saham AS, saham Jepang, obligasi pemerintah negara maju |
| Aset yang dikurangi | Kurangi | Saham Eropa, obligasi pasar berkembang, kas |
Untuk saham global, saham Amerika Serikat, saham Jepang, dan obligasi pemerintah negara maju, DBS memilih posisi netral. Sebaliknya, saham Eropa, obligasi pasar berkembang, serta kas menjadi kelompok aset yang direkomendasikan untuk dikurangi.
Penilaian tersebut disampaikan dalam DBS Insights Forum 2026 bertajuk A New Lens on a Multipolar World. Forum itu membahas arah ekonomi global serta implikasinya terhadap strategi investasi di tengah pergeseran geopolitik.
Acara tersebut menghadirkan Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia Dino Patti Djalal serta Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya. Sejumlah pakar, mitra manajer investasi, dan ahli Bank DBS Indonesia juga terlibat dalam pembahasan prospek ekonomi dan pasar.
Pengelolaan Kekayaan yang Lebih Personal
Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong menyatakan forum tersebut ditujukan bagi nasabah private dan priority banking yang menghadapi perubahan geopolitik serta ekonomi. Beragam perspektif dinilai diperlukan untuk mendukung pengembangan kekayaan, usaha, dan perencanaan suksesi keluarga yang berkelanjutan.
Di tengah fokus pada strategi investasi, bisnis wealth management DBS Indonesia juga mencatat pertumbuhan pada semester I-2026. Segmen DBS Treasures Private Client membukukan kenaikan aset kelolaan atau assets under management sebesar 13% secara tahunan.
| Indikator DBS Treasures Private Client | Pertumbuhan Tahunan |
|---|---|
| Total aset kelolaan | 13% |
| Rata-rata aset kelolaan per nasabah | 15% |
| Total pendapatan | 34% |
| Investment fee income | 65% |
| Laba bersih setelah pajak | 24% |
Pertumbuhan total pendapatan sebesar 34% ditopang kenaikan investment fee income hingga 65%. Laba bersih setelah pajak juga meningkat 24% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
DBS Indonesia turut mengembangkan layanan DBS Treasures Private Client untuk nasabah dengan kekayaan tinggi. Layanan tersebut menekankan pendampingan investasi yang lebih personal, solusi pengelolaan kekayaan, serta perencanaan suksesi keluarga.
Consumer Banking Director DBS Indonesia Melfrida Gultom menyebut pengelolaan kekayaan kini semakin bersifat multi-faceted dan membutuhkan solusi yang lebih personal. Pendekatan itu mencakup produk KPD dengan model hubungan high-touch, corporate wealth management, serta persiapan generasi penerus melalui pengalaman kerja nyata.
Untuk mendukung kualitas pendampingan, Bank DBS Indonesia mendirikan Wealth Management Institute sebagai pusat pengembangan kompetensi relationship manager. Program pelatihannya mencakup strategi menghadapi volatilitas pasar global, solusi bisnis, tren industri, perencanaan pensiun, hingga succession planning.
Source: finansial.bisnis.com






