Harga emas dunia kembali bergerak naik setelah pasar membaca meredanya tekanan geopolitik dan menurunnya peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Kabar kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran membuat sentimen investor berubah arah dengan cepat.
Di saat yang sama, pelemahan harga energi ikut memberi ruang bagi emas untuk kembali bersinar. Logam mulia ini kembali dipandang sebagai aset lindung nilai ketika ekspektasi terhadap langkah Federal Reserve mulai bergeser.
Emas Menguat Saat Risiko Pasar Menurun
Harga emas spot naik 0,8% menjadi US$ 4.338,86 per troy ons. Pada sesi sebelumnya, emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni 2026 sebelum bergerak lebih stabil setelah kabar kesepakatan itu menyebar ke pasar.
Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus 2026 juga ditutup naik tipis 0,1% ke US$ 4.354,40 per troy ons. Pergerakan ini menunjukkan minat pasar pada emas masih terjaga, meski laju penguatannya belum sepenuhnya lepas dari tekanan kebijakan moneter.
Kesepakatan Sementara AS-Iran Jadi Pemicu Utama
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan sementara yang memperpanjang gencatan senjata yang dicapai pada April 2026 selama 60 hari tambahan. Kesepakatan itu juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya secara efektif diblokade Iran sejak konflik dengan AS dan Israel pecah pada Februari 2026.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan prospek berakhirnya perang antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang menopang harga emas dalam dua sesi terakhir. Ia menegaskan, “Yang menopang pasar selama dua sesi terakhir adalah prospek tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang.”
Meger juga menilai dampaknya terlihat pada turunnya suku bunga jangka pendek, melemahnya harga energi, dan mengecilnya peluang The Fed menaikkan suku bunga tahun ini. Kombinasi itu membuat emas kembali dilirik sebagai tempat berlindung saat arah pasar berubah.
Minyak Melemah, Ekspektasi The Fed Ikut Bergeser
Harga minyak mentah Brent turun di bawah US$ 80 per barel untuk pertama kalinya sejak awal Maret 2026 setelah anjlok hampir 5% usai pengumuman kesepakatan sementara. Pelemahan ini penting karena harga energi yang tinggi selama ini ikut mendorong ekspektasi inflasi dan menjaga peluang suku bunga tetap tinggi.
Data CME FedWatch menunjukkan pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 sebesar 60%, turun dari sekitar 70% pada pekan lalu. Pergeseran ini menandakan investor mulai membaca prospek bunga tinggi dengan lebih hati-hati.
Logam Mulia Lain Juga Ikut Naik
Penguatan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot naik 0,3% menjadi US$ 70,22 per troy ons, sementara platinum melonjak 2,8% ke US$ 1.816,65 per troy ons.
Paladium juga bergerak naik 0,7% menjadi US$ 1.358,06 per troy ons. Kenaikan serentak pada logam mulia ini memperlihatkan pasar sedang merespons gabungan antara meredanya risiko geopolitik dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral.
Selama beberapa bulan terakhir, emas sempat tertekan karena konflik antara AS, Israel, dan Iran memicu kenaikan harga minyak dan memperbesar peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Kini, perhatian pelaku pasar bergeser ke sejumlah pertemuan bank sentral global sepanjang pekan ini, termasuk keputusan suku bunga The Fed yang menjadi pertemuan pertama di bawah kepemimpinan ketua baru Kevin Warsh.
