Cuaca Labil di Musim Kemarau, 5 Penyakit Ini Diam-Diam Mengintai Imun

Musim kemarau di Indonesia tak selalu identik dengan cuaca yang stabil. Di banyak wilayah, panas terik pada siang hari bisa berganti hujan deras dan angin kencang pada sore atau malam hari.

Pola cuaca yang naik-turun ini membuat tubuh lebih mudah terganggu. Debu, polusi, genangan air, dan keterbatasan air bersih membuka ruang bagi sejumlah penyakit yang kerap muncul tanpa disadari.

ISPA lebih mudah muncul saat udara kering

Infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA termasuk gangguan yang sering mengintai ketika udara menjadi lebih kering. Debu, serbuk sari, dan partikel polusi bisa bertahan lebih lama di udara dan lebih mudah masuk ke saluran napas.

Iritasi pada hidung dan tenggorokan juga memudahkan virus maupun bakteri memicu infeksi. Gejalanya umumnya berupa tenggorokan kering, batuk, pilek, bersin, hidung tersumbat, dan demam ringan.

Demam berdarah tetap punya celah di kemarau basah

Banyak orang mengira demam berdarah hanya meningkat saat musim hujan, padahal musim kemarau yang diselingi hujan juga berisiko. Genangan air bersih di talang, ember, pot tanaman, dan barang bekas bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.

Kemenkes menyebut suhu hangat di atas 30 derajat celsius dapat mempercepat siklus perkembangan virus dengue dalam tubuh nyamuk. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, serta bintik merah pada kulit.

Diare ikut naik saat sanitasi menurun

Ketersediaan air bersih yang berkurang saat kemarau dapat memaksa sebagian masyarakat memakai air dengan kualitas sanitasi yang kurang baik. WHO menempatkan keterbatasan air bersih sebagai salah satu faktor utama meningkatnya penyakit yang ditularkan lewat makanan dan air.

Suhu hangat juga mempercepat perkembangbiakan lalat yang bisa membawa bakteri ke makanan terbuka. Diare biasanya ditandai buang air besar cair lebih dari tiga kali sehari, kram perut, mual, muntah, dan tubuh lemas akibat kehilangan cairan.

Panas berkepanjangan bisa berujung dehidrasi hingga heatstroke

Cuaca terik dalam waktu lama membuat tubuh mengeluarkan banyak keringat untuk menurunkan suhu. Jika cairan dan elektrolit tidak segera diganti, dehidrasi bisa terjadi dan berkembang menjadi kelelahan akibat panas atau heat exhaustion.

Pada kondisi yang lebih berat, suhu tubuh dapat naik hingga sekitar 40 derajat celsius dan tubuh kehilangan kemampuan mendinginkan diri. Heatstroke merupakan keadaan darurat medis dengan gejala kulit panas dan kering, denyut jantung cepat, urine pekat, pusing berat, hingga penurunan kesadaran.

Konjungtivitis juga lebih mudah dipicu debu dan polusi

Debu dan polusi yang beterbangan saat kemarau dapat mengiritasi mata dan memicu konjungtivitis. Peradangan pada selaput bening mata ini juga bisa terjadi ketika tangan yang kotor digunakan untuk mengucek mata.

Gejalanya meliputi mata merah, perih, terasa mengganjal, keluar kotoran mata lebih banyak, dan lebih sensitif terhadap cahaya. Bila tidak dijaga, infeksi dapat menyebar ke mata lainnya atau menular ke orang lain.

Langkah pencegahan yang disarankan

Kemenkes menganjurkan masyarakat menjaga pola hidup bersih dan sehat selama musim kemarau. Kebutuhan cairan perlu dipenuhi sekitar dua hingga tiga liter atau delapan hingga sepuluh gelas air putih setiap hari.

Untuk aktivitas luar ruangan, penggunaan masker medis atau masker kain tiga lapis, kacamata pelindung, dan tabir surya minimal SPF 30 dapat membantu mengurangi dampak paparan debu, polusi, dan sinar matahari. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menghindari makanan terbuka, serta tetap menjalankan 3M Plus juga penting untuk menekan risiko penyakit.

Demam yang berlangsung lebih dari dua hari, diare berdarah, muntah terus-menerus, atau tanda dehidrasi berat seperti penurunan kesadaran perlu segera mendapat penanganan di puskesmas atau rumah sakit. Waspada sejak awal membantu menahan dampak cuaca labil di musim kemarau sebelum berubah menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

Source: www.beritasatu.com
Terkait