Commodore membawa nama besarnya ke arah yang tak biasa lewat Callback 8020, ponsel lipat yang justru memblokir browser web dan media sosial di tingkat sistem. Di tengah pasar smartphone yang berlomba membuka akses seluas mungkin, perangkat ini menawarkan pendekatan yang sengaja dibatasi.
Commodore memosisikan Callback 8020 sebagai ponsel yang tetap terhubung ke internet, tetapi hanya lewat sistem whitelist. Hasilnya, pengguna tidak dipaksa hidup tanpa koneksi, namun diarahkan ke pengalaman digital yang lebih sederhana dan tidak terlalu mengganggu fokus.
Android tetap jalan, akses tetap dipilih
Callback 8020 menjalankan Sailfish OS, sistem operasi berbasis Linux dari Jolla. Meski browser dan media sosial diblokir, Commodore menyebut perangkat ini tetap mendukung aplikasi modern melalui lapisan kompatibilitas Android runtime di Sailfish OS.
Perusahaan mengklaim lebih dari 99 persen aplikasi Android dapat berjalan di perangkat tersebut. Daftar aplikasi yang disebut kompatibel mencakup Spotify, Signal, dan WhatsApp, sehingga ponsel ini tetap bisa dipakai untuk kebutuhan komunikasi dan hiburan tertentu.
Strategi itu menjadi inti pembeda Callback 8020. Alih-alih meniru smartphone arus utama, Commodore menawarkan kompromi antara ponsel klasik yang minim distraksi dan kebutuhan aplikasi yang masih penting untuk banyak pengguna.
Desain retro dengan sentuhan Y2K
Dari sisi tampilan, Callback 8020 hadir dengan desain ponsel lipat berwarna beige yang kuat membawa nuansa era 1980-an. Bentuknya juga mengingatkan pada feature phone pertengahan 2000-an, sehingga kesan retro dan Y2K terasa sekaligus.
Commodore menyiapkan beberapa pilihan warna, yakni ProtoPET White, SX Silver, Basic Beige, Founders Edition berwarna emas, dan Starlight Edition bernuansa biru transparan bergaya Y2K. Ponsel ini juga punya kubah lampu LED yang menyala saat pesan masuk.
Selain itu, Commodore menyediakan cover yang bisa ditukar. Pilihan warnanya meliputi merah, merah muda, kuning, hijau, dan biru, memberi ruang personalisasi yang jarang muncul sebagai daya tarik utama di perangkat bertema minimalis.
Warisan Commodore dibawa ke ponsel
Nama Commodore masih lekat dengan Commodore 64, salah satu PC terlaris dalam sejarah, dan identitas itu ikut dibawa ke Callback 8020. Perangkat ini sudah berisi game-game era Commodore 64, meski daftar judulnya belum diungkap.
Satu game yang dipastikan hadir adalah Snake. Kehadiran game klasik itu mempertegas arah produk ini sebagai ponsel yang menjual nostalgia komputasi lama, budaya feature phone, dan penggunaan teknologi yang lebih terkendali.
Langkah ini juga menambah daftar kebangkitan merek Commodore setelah sebelumnya merilis Commodore Ultimate dan Commodore 64X PC. Kedua produk itu sama-sama menonjolkan warisan komputer rumah klasik, sementara Callback 8020 membawa nama tersebut ke perangkat yang lebih personal.
Comeback Commodore dan harga pre-order
Kembalinya Commodore terjadi setelah Christian Simpson mengambil alih merek dagang resmi Commodore Corporation. Simpson dikenal sebagai sosok di balik kanal YouTube Retro Recipes, yang kini memakai nama Retro Recipes x Commodore.
Nilai akuisisi itu disebut berada di kisaran low seven figures. Setelah pengambilalihan tersebut, Commodore mulai menghidupkan kembali nama lamanya lewat produk-produk baru yang bertumpu pada kekuatan nostalgia.
CEO dan Presiden Commodore, Peri Fractic, mengatakan ada sesuatu yang terasa pas ketika perusahaan yang “lampunya meredup di tahun 90-an” kembali memasuki era Y2K saat konsumen mulai melirik teknologi yang lebih sederhana.
Pre-order Callback 8020 dibuka mulai 30 Juni dengan harga $500. Dengan pembatasan akses yang ekstrem, desain retro, dan dukungan aplikasi Android yang tetap luas, ponsel ini jelas tidak menyasar semua orang, tetapi justru itulah yang membuatnya menonjol.
