CLARITY Act Menutup APY Pasif, AI Disiapkan Memburu Yield Baru di Stablecoin

Aturan baru tentang stablecoin di Amerika Serikat mulai mengubah cara industri kripto memandang imbal hasil. Saat regulator menekan passive yield, sebagian pelaku pasar justru menyiapkan model yang memindahkan return dari saldo menganggur ke strategi aktif yang dijalankan AI.

Pergeseran ini penting karena permintaan atas yield tidak hilang, meski batas atas APY pada stablecoin makin ketat. Joe Vollono, Chief Compliance Officer di STBL, menilai tekanan legislatif lebih banyak memindahkan lokasi yield daripada mematikannya.

Larangan yang Makin Luas

Senat AS bergerak ke arah pelarangan passive stablecoin yield dari platform yang teregulasi di negara itu. CLARITY Act memperluas larangan yang sebelumnya dalam Genius Act hanya berlaku untuk penerbit, lalu kini menargetkan bursa, broker, dan perantara kustodian yang menawarkan APY pada saldo stablecoin yang menganggur.

Naskah Senat yang ada masih mempertahankan bahasa lama yang melarang reward atas saldo stablecoin yang disimpan di akun. Namun, aturan itu tetap membuka ruang bagi yield yang muncul dari aktivitas transaksi, selama tidak menyerupai bunga deposito bank.

Kunci penafsirannya ada pada frasa hukum “functional or economic equivalent” dari bunga deposito bank. Jika sebuah produk terlihat seperti savings APY, produk itu akan diperlakukan seperti savings APY, apa pun label yang dipasang.

Tekanan Politik di Balik Aturan

Kompro­mi Tillis–Brooks yang mendorong rancangan undang-undang saat ini justru menutup celah pengecualian itu. Dalam teks baru, larangan diperluas ke “all intermediaries, any exchange, any platform holding your stablecoins.”

Kelompok bank dan credit union mendukung larangan yang ketat. Mereka menilai rewards stablecoin sebagai bentuk shadow banking yang tidak diatur dan bersaing langsung dengan deposito yang diasuransikan.

Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih memodelkan larangan penuh itu sebagai kebijakan yang dapat menaikkan pinjaman bank AS sekitar $2,1 miliar. Pada saat yang sama, kebijakan itu disebut menimbulkan biaya kesejahteraan bersih sebesar $800 juta, dengan rasio biaya-manfaat 6,6 yang mencerminkan surplus konsumen dari passive yield yang selama ini tercipta.

AI Masuk Sebagai Mesin Yield Baru

Pembatasan pada penerbit dan kustodian mendorong industri ke arsitektur yang berbeda. Dalam kerangka Yield-as-a-Service, yield tidak lagi dibayar langsung dari saldo pasif, melainkan berasal dari eksekusi strategi aktif yang tidak tersentuh larangan secara langsung.

Model ini menempatkan lapisan agen AI di antara saldo stablecoin yang teregulasi dan protokol DeFi penghasil imbal hasil. Agen-agen itu memantau likuiditas on-chain secara real time, menilai risiko protokol secara dinamis, lalu mengeksekusi perdagangan untuk menangkap peluang yield.

Di skema ini, AI bukan sekadar alat bantu. Lapisan AI menjadi inti operasional yang menghubungkan kepatuhan, eksekusi, dan akses ke strategi penghasil return.

Arah Baru untuk Stablecoin Teregulasi

Perubahan regulasi membuat perdebatan bergeser dari soal boleh atau tidaknya membayar APY menjadi soal bagaimana yield itu dibentuk. Jika regulator menutup pintu bagi bunga pasif, industri tampak siap membuka jalur baru lewat strategi aktif yang dikendalikan sistem otomatis.

CLARITY Act pada akhirnya bukan hanya soal pembatasan. Aturan itu juga mendorong lahirnya infrastruktur baru yang memisahkan saldo menganggur dari aktivitas yang benar-benar menghasilkan imbal hasil.

Terkait