China Sebut Penusukan Warga Jepang Di Shanghai Insiden Tunggal, Jepang Minta Penyelidikan Menyeluruh

Kementerian Luar Negeri China menyebut penusukan terhadap tiga orang di Shanghai sebagai insiden tunggal yang dilakukan satu pelaku dan tidak berkaitan dengan negara. Otoritas China juga meminta publik tidak menarik kesimpulan keliru dari kasus yang disebut melibatkan orang dengan gangguan jiwa itu.

Pernyataan tersebut muncul setelah dua warga Jepang dan seorang warga China menjadi korban dalam kejadian di sebuah restoran di kota itu. Kasus ini langsung memicu perhatian diplomatik karena kembali menyentuh isu keamanan warga Jepang di China.

Pelaku Ditangkap, Korban Dirawat

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan korban luka segera dibawa ke rumah sakit. Ia juga menegaskan tersangka langsung ditangkap polisi dan kasusnya kini masih diselidiki lebih lanjut.

Guo menyebut pemerintah China menangani insiden itu sebagai persoalan keselamatan publik. Menurut dia, perkara tersebut akan diproses sesuai hukum yang berlaku di China.

Seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Jepang menyebut para korban terdiri dari dua pria warga Jepang dan seorang perempuan China. Seluruh korban dirawat di rumah sakit dan tidak mengalami luka yang mengancam jiwa.

Sorotan pada Kondisi Pelaku

Polisi setempat menahan seorang pria berusia 59 tahun di lokasi kejadian. Berdasarkan keterangan sumber kepolisian, pria itu diduga memiliki riwayat penyakit mental karena berbicara tidak jelas dan menunjukkan perilaku mencurigakan.

Pemerintah China kemudian menegaskan bahwa pelaku telah diidentifikasi sebagai orang dengan gangguan jiwa. Guo Jiakun juga menyoroti kecenderungan sebagian media dan individu yang dinilai mengaitkan insiden itu dengan sentimen lain secara tidak tepat.

Pemerintah China meminta pembacaan yang hati-hati terhadap kasus ini. Penekanan itu menjadi penting karena insiden tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa peristiwa di Shanghai bisa dipandang sebagai sesuatu yang lebih luas dari dugaan pelaku tunggal.

Respons Jepang Meningkat

Kedutaan Besar Jepang di China kemudian mengirim pemberitahuan kepada warganya agar meningkatkan kewaspadaan. Kedutaan juga menyarankan warga Jepang di Tiongkok untuk bepergian dalam kelompok demi mengurangi risiko.

Pemerintah Jepang meminta China melakukan penyelidikan menyeluruh dan menghukum pihak yang bertanggung jawab. Tokyo juga mendesak agar keselamatan warga negara Jepang di China benar-benar dijamin.

Permintaan itu muncul karena insiden di Shanghai kembali memunculkan kekhawatiran soal keamanan warga Jepang di China. Dalam situasi hubungan kedua negara yang masih sensitif, setiap kasus yang melibatkan warga Jepang dan China kerap menyedot perhatian diplomatik lebih besar.

Latar Kekhawatiran yang Lebih Luas

Kasus di Shanghai menambah daftar serangan terhadap warga negara Jepang yang sebelumnya juga pernah terjadi di China. Pada Juni 2024, seorang ibu dan anak berkewarganegaraan Jepang diserang dengan pisau saat menunggu bus sekolah di Suzhou, Provinsi Jiangsu.

Pada September 2024, seorang anak laki-laki Jepang berusia 10 tahun ditusuk hingga tewas saat berangkat ke sekolah di Shenzhen, Provinsi Guangdong. Lalu pada Juli 2025, di Suzhou, seorang wanita Jepang dan anaknya terluka setelah dipukul dengan benda tumpul.

Kejadian terbaru berlangsung di tengah ketegangan yang masih membayangi hubungan China dan Jepang. Lokasi kejadian juga berada di kawasan yang menjadi tempat berkantornya sejumlah perusahaan Jepang, termasuk beberapa bank besar, sehingga perhatian terhadap insiden ini semakin tinggi.

Source: www.viva.co.id
Terkait