China Makin Dekat ke Listrik Fusi, Matahari Buatan Siap Menyala pada 2030

China semakin dekat ke ambisi besar di bidang energi fusi setelah proyek reaktor Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) mencatat kemajuan penting. Proyek yang dijuluki “matahari buatan” itu kini ditargetkan mulai menghasilkan listrik pada 2030.

Target tersebut menguat setelah dua magnet superkonduktor buatan dalam negeri untuk EAST lolos uji teknis dan pengujian beban penuh. Pencapaian ini menjadi salah satu langkah paling penting dalam upaya China membangun pembangkit listrik fusi nuklir pertama di negaranya.

Terobosan di komponen inti EAST

Menurut laporan China Central Television yang dikutip dari Global Times, dua magnet superkonduktor utama untuk EAST telah mencapai tahap akhir pengembangan dan pengujian parameter penuh. Keberhasilan ini juga disebut menandai lokalisasi menyeluruh atas seluruh teknologi inti dalam proyek tersebut.

Qin Jinggang, Wakil Direktur Institut Fisika Plasma di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (ASIPP), mengatakan timnya mendapat dua target saat ditunjuk menangani proyek ini enam tahun lalu, yaitu meningkatkan performa dan menekan biaya. Setelah enam tahun riset dan pengembangan, tim itu disebut berhasil menaikkan performa alat secara signifikan dan stabil sekaligus membangun rantai pasok serta peralatan produksi.

KomponenData UtamaDampak
Magnet superkonduktorLolos uji teknis dan pengujian beban penuhMasuk tahap akhir pengembangan
Kumparan yang diujiBobot naik dari 350 ton menjadi 580 tonMendukung operasi pada tingkat energi lebih tinggi
Biaya bahan superkonduktorTurun dari sekitar 400 yuan menjadi 100 yuan per meterMenekan biaya produksi secara drastis

Biaya bahan superkonduktor itu kini juga turun drastis. Qin menyebut harga yang dulu sekitar 400 yuan per meter kini turun menjadi sekitar 100 yuan per meter.

Kumparan yang baru diuji juga menunjukkan lompatan skala yang besar. Dibanding desain sebelumnya, bobotnya naik dari 350 ton menjadi 580 ton, dengan dimensi dan kapasitas penyimpanan energi yang ikut meningkat.

Masih ada tahap paling berat

Qin menjelaskan skala yang lebih besar ini membuka jalan bagi perangkat fusi yang bisa beroperasi pada tingkat energi jauh lebih tinggi. Meski begitu, ia menegaskan lolos uji terbaru ini baru mencakup 80 persen dari seluruh perjalanan proyek.

Tantangan berikutnya adalah memasang kumparan tersebut ke dalam perangkat dan menguji stabilitas jangka panjang serta masa pakainya dalam kondisi operasional yang sangat berat. Qin menegaskan, baru setelah tahap itu lolos, China bisa benar-benar mengklaim telah sepenuhnya menguasai teknologi superkonduktor suhu tinggi.

Proyek EAST sebelumnya juga sudah mencatat sejumlah rekor. Pada Januari 2025, perangkat ini berhasil mempertahankan suhu plasma 100 juta derajat Celsius selama 1.066 detik, sebuah capaian yang memecahkan rekor dunia.

Terobosan pada magnet superkonduktor ini dianggap sebagai salah satu hambatan paling menantang dalam jalur menuju pembangkit listrik fusi praktis. Kerja keras itu merupakan buah dari penelitian lintas generasi para ilmuwan China sejak 1980-an.

Qin mengatakan fusi nuklir adalah salah satu teknologi tersulit untuk dikuasai, tetapi setelah puluhan tahun berproses, titik terang mulai terlihat. Target mereka tetap sama, yakni mendemonstrasikan produksi listrik pertama dari fusi nuklir sekitar 2030.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait