China menyambut kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Beijing menilai langkah itu bisa meredakan ketegangan di Timur Tengah sekaligus memulihkan jalur pelayaran yang sempat terganggu berbulan-bulan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan Beijing mendukung nota kesepahaman tahap pertama yang disepakati Washington dan Teheran. Ia juga mengapresiasi peran Pakistan sebagai mediator yang membantu membuka jalan bagi perundingan damai tersebut.
Beijing dorong jalur diplomasi
Dalam konferensi pers di Beijing, Lin menegaskan bahwa China berharap semua pihak tetap berkomitmen pada penyelesaian damai. Ia meminta masalah diselesaikan lewat dialog dan negosiasi, bukan melalui eskalasi baru yang dapat memperburuk situasi kawasan.
China juga menyatakan siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk membantu pemulihan stabilitas di Timur Tengah dan Teluk. Sikap itu sejalan dengan pandangan Beijing bahwa keamanan kawasan perlu dijaga melalui mekanisme politik yang disepakati bersama.
Lin menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai langkah yang sangat penting karena jalur itu memegang peran strategis bagi perdagangan energi global. Menurut dia, teks nota kesepahaman tahap pertama juga memuat pembukaan kembali selat tersebut agar lalu lintas laut kembali aman dan bebas dalam waktu dekat.
Isi kesepakatan dan jadwal penandatanganan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah selesai. Melalui Truth Social, Trump juga menyatakan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka setelah blokade Angkatan Laut AS dicabut.
Trump menulis, “Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua pihak!” Ia kemudian menambahkan bahwa ia mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan biaya serta pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat.
Meski begitu, Trump belum membeberkan rincian isi kesepakatan maupun mekanisme pelaksanaannya. Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut penandatanganan resmi perjanjian damai akan berlangsung di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Gharibabadi menjelaskan bahwa kesepakatan itu mencakup penghentian operasi militer di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon. Ia juga mengatakan Iran akan kembali menegaskan komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir atau NPT dengan tidak memproduksi senjata nuklir.
Posisi China di tengah proses perdamaian
Lin Jian tidak menjelaskan apakah China terlibat langsung dalam perundingan antara AS dan Iran. Namun, ia menegaskan bahwa sejak konflik pecah, China terus mendorong upaya mengakhiri perang dan membangun perdamaian di kawasan.
Ia menyebut Presiden Xi Jinping telah mengajukan empat usulan terkait keamanan serta peningkatan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Menurut Lin, gagasan itu mendapat dukungan luas dari negara-negara kawasan dan komunitas internasional.
China, kata Lin, akan terus berkontribusi dengan berpedoman pada semangat usulan tersebut dan menjunjung tinggi keadilan. Beijing menempatkan perdamaian abadi di Timur Tengah sebagai agenda yang perlu dijaga bersama oleh semua pihak terkait.
Di tengah proses ini, Israel mengambil sikap berbeda. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menegaskan bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran tidak mengikat bagi Israel, sehingga dinamika politik kawasan masih berpotensi bergerak cepat setelah penandatanganan resmi di Swiss.
