China meminta Dewan Keamanan PBB meninjau ulang keputusan untuk mengakhiri mandat UNIFIL di Lebanon. Seruan itu muncul ketika situasi di perbatasan Lebanon-Israel kembali memanas dan pertanyaan soal masa depan misi penjaga perdamaian itu belum mereda.
Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, menyampaikan bahwa Beijing khawatir terhadap kondisi di Lebanon. China juga memegang presidensi Dewan Keamanan PBB untuk Mei, sehingga dorongan itu datang di tengah pembahasan yang sensitif di New York.
Mandat yang sudah disepakati untuk berakhir
UNIFIL dibentuk pada 1978 untuk berpatroli di perbatasan selatan Lebanon dengan Israel. Tahun lalu, Dewan Keamanan secara bulat menyetujui penarikan misi itu yang akan dimulai pada akhir 2026.
Namun Fu menilai keputusan itu belum final untuk situasi saat ini. Ia mengatakan penarikan misi perlu ditinjau ulang, dan ia telah berbicara baru-baru ini dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengenai isu tersebut.
Fu juga mengatakan sekretariat PBB sedang memikirkan peninjauan dan akan mengajukan opsi pada Juni untuk pelaksanaan resolusi 1701. Resolusi itu mengakhiri putaran konflik mematikan antara Hezbollah dan Israel pada 2006.
Gencatan senjata dinilai belum nyata
Dalam penjelasannya, Fu menyebut belum ada gencatan senjata yang benar-benar berlaku. Ia mengatakan yang ada saat ini hanya “lesser fire” dan menegaskan bahwa Israel harus menghentikan pemboman ke Lebanon.
Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran bahwa kondisi keamanan di lapangan belum cukup stabil untuk mengakhiri kehadiran penjaga perdamaian secara bertahap. Di sisi lain, dukungan internasional terhadap keberlanjutan UNIFIL disebut masih terbuka.
Fu juga menyebut pandangan mayoritas besar anggota Dewan Keamanan adalah bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk menggambar ulang UNIFIL. Kepala penjaga perdamaian PBB Jean-Pierre Lacroix bahkan bulan lalu mengatakan bahwa semacam kehadiran PBB yang berkelanjutan mungkin tetap ada setelah mandat UNIFIL berakhir.
Perang yang masih menyisakan kerusakan
Pembahasan itu berlangsung saat lebih dari 2.500 orang tewas dalam serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret. Serangan tersebut terjadi setelah kelompok bersenjata Hezbollah menembakkan serangan ke Israel untuk mendukung sekutunya, Iran.
Langkah Hezbollah memicu kampanye darat dan udara Israel yang membuat banyak wilayah Lebanon selatan hancur. Israel mengatakan operasi militernya di Lebanon bertujuan menghentikan serangan oleh militan Hezbollah.
Situasi ini membuat masa depan UNIFIL kembali menjadi isu strategis, bukan sekadar persoalan administrasi mandat. Di tengah konflik yang belum benar-benar reda, keputusan soal penarikan atau penyesuaian misi penjaga perdamaian akan sangat bergantung pada penilaian Dewan Keamanan terhadap kondisi keamanan di perbatasan.







