
China dan Kamboja menggelar pertemuan perdana dalam format “2+2” Strategic Dialogue Mechanism yang mempertemukan menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara. Forum ini menjadi kanal baru untuk memperdalam koordinasi politik dan keamanan antara Phnom Penh dan Beijing.
Dalam dialog tersebut, Menteri Luar Negeri China Wang Yi bersama Menteri Pertahanan Dong Jun bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn serta Menteri Pertahanan Tea Seiha di Phnom Penh. Pertemuan tingkat menteri ini menunjukkan bahwa kedua negara ingin menjaga kemitraan strategis komprehensif yang sudah lama menjadi fondasi hubungan bilateral mereka.
Format baru untuk hubungan yang lebih terstruktur
Mekanisme “2+2” muncul dari gagasan yang sebelumnya diajukan Presiden China Xi Jinping saat kunjungan kenegaraan ke Kamboja pada April tahun lalu. Beijing memandang format ini sebagai sarana untuk memperkuat komunikasi yang lebih teratur dalam isu luar negeri dan pertahanan di kawasan Asia Tenggara.
China juga sudah memperkenalkan format dialog serupa dengan Indonesia tahun lalu. Langkah itu memperlihatkan pola yang konsisten dari Beijing untuk membangun jalur komunikasi yang lebih formal dengan mitra dekatnya di kawasan, terutama pada sektor yang berkaitan dengan keamanan.
Kehadiran dua kementerian sekaligus dalam satu forum memberi sinyal bahwa hubungan China dan Kamboja tidak hanya bertumpu pada kerja sama ekonomi. Di sisi lain, format ini juga menegaskan bahwa isu pertahanan kini mendapat ruang yang lebih besar dalam relasi kedua negara.
Pembicaraan lanjutan di Phnom Penh
Selama berada di Kamboja, Wang Yi dan Dong Jun juga dijadwalkan bertemu secara terpisah dengan Presiden Senat Hun Sen dan Perdana Menteri Hun Manet. Setelah dialog bersama, Wang Yi akan melanjutkan pembahasan lebih mendalam dengan Prak Sokhonn pada Kamis.
Agenda lanjutan itu akan berfokus pada pelaksanaan kerangka kerja sama yang sudah ada serta kontribusi terhadap perdamaian, keamanan, dan stabilitas regional. Hingga pertemuan berlangsung, pejabat Kamboja belum merilis rincian isi pembahasan yang dilakukan.
Pola pertemuan seperti ini menunjukkan bahwa Beijing dan Phnom Penh ingin menjaga komunikasi politik tetap rapat. Di tengah dinamika kawasan yang sensitif, koordinasi tingkat tinggi dipakai untuk memastikan hubungan bilateral tetap berjalan dalam jalur yang diinginkan kedua pihak.
Jejak ekonomi yang sangat kuat
Di luar dimensi politik dan pertahanan, hubungan China dan Kamboja juga ditopang oleh kedekatan ekonomi yang sangat besar. China masih menjadi investor terbesar sekaligus donor bantuan terbesar bagi Kamboja, sehingga pengaruhnya di negara itu terasa kuat di banyak sektor.
Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai $19,73 miliar pada tahun lalu, meski neraca perdagangan tetap timpang dan lebih menguntungkan China. Data itu menggambarkan bahwa hubungan ekonomi mereka berjalan jauh lebih dalam dibanding banyak kemitraan lain di Asia Tenggara.
Keterikatan ekonomi tersebut ikut membentuk konteks politik pertemuan “2+2”. Saat hubungan dagang, investasi, dan bantuan terus menguat, Beijing memiliki posisi yang sangat strategis untuk memperluas pengaruhnya di Phnom Penh.
Sorotan pada isu keamanan kawasan
Kedekatan China dan Kamboja juga memunculkan perhatian dari analis serta pemerintah Amerika Serikat, terutama terkait proyek peningkatan Pangkalan Angkatan Laut Ream yang didanai China. Pembangunan di fasilitas yang berada di Teluk Thailand itu mencakup dermaga baru untuk kapal yang lebih besar, dry dock untuk perbaikan, dan sejumlah fasilitas lain.
Washington menyatakan kekhawatiran bahwa Beijing diam-diam memperoleh hak istimewa eksklusif untuk menggunakan pangkalan tersebut. Pemerintah Kamboja berulang kali membantah tuduhan itu, sementara Hun Manet pada pembukaan perluasan pangkalan pada April tahun lalu menegaskan bahwa proyek tersebut tidak disembunyikan dari negara lain.
Mekanisme “2+2” akhirnya menjadi bagian dari pertaruhan yang lebih luas bagi Beijing di Asia Tenggara. Dengan memperdalam koordinasi pertahanan dan politik bersama Kamboja, China memperlihatkan upaya menjaga pengaruhnya tetap kuat di tengah perhatian besar terhadap keamanan regional dan arah hubungan strategis kedua negara.





