
Ubur-ubur bulan Asia sering memikat perhatian karena tubuhnya yang transparan dan bentuknya yang membulat seperti jelly. Namun, daya tarik itu menyimpan sisi lain yang lebih penting: spesies ini bisa memicu gangguan besar saat populasinya meledak di perairan.
Hewan laut ini bukan perenang andal. Geraknya lambat, tidak bisa menyelam terlalu dalam, dan lebih sering ditemukan di perairan dangkal, pinggir pantai, laguna, serta wilayah bersuhu dingin.
Ciri fisik yang mudah dikenali
Ubur-ubur bulan Asia memiliki tubuh tipis dan transparan seperti ubur-ubur bulan lain. Diameter maksimalnya dapat mencapai sekitar 50 sentimeter, sementara ukuran rata-ratanya berada di kisaran 20–40 sentimeter.
Bentuknya makin khas karena tubuhnya membulat seperti bulan. Panjang oral arms hewan ini sekitar 33–38 persen dari diameter bagian tubuh utamanya, atau bell, dan ia memiliki 16 cuping marginal.
Tidak berbahaya, tetapi bisa mengacaukan ekosistem
Secara umum, ubur-ubur bulan Asia tidak berbahaya bagi manusia. Masalah muncul ketika populasinya naik tajam dan meledak dalam jumlah besar.
Sebuah artikel di jurnal Marine Ecology Progress Series menyebut ledakan populasi ini dapat memengaruhi suhu air. Kondisi tersebut juga mampu mengurangi frekuensi pembangkit listrik tenaga nuklir.
Gangguan lain terjadi pada rantai makanan. Penelitian pada 2018 di Journal of Oceanography menunjukkan lonjakan populasi ubur-ubur bulan Asia dapat menurunkan populasi plankton secara signifikan, lalu mengganggu tatanan ekosistem.
Dua fase hidup yang membuatnya bertahan
Perjalanan hidup ubur-ubur bulan Asia berlangsung dalam dua fase, yaitu metagenetic dan direct development. Artikel di jurnal PLOS ONE menjelaskan bahwa pada fase metagenetic, hewan ini berubah menjadi polip dan menempel pada substrat di dasar laut selama sekitar satu setengah tahun.
Setelah itu, fase direct development dimulai saat ia berubah menjadi ephyra, atau larva ubur-ubur, lalu berkembang menjadi individu dewasa. Pada fase ini, tingkat kematiannya disebut terbilang rendah.
Pola hidup tersebut membantu spesies ini bertahan dan berkembang di habitatnya. Kombinasi kemampuan adaptif dan reproduksi yang efektif membuat ubur-ubur bulan Asia mudah muncul dalam jumlah besar saat kondisi mendukung.
Menarik untuk riset medis dan bioteknologi
Di balik reputasinya sebagai pengganggu ekosistem, ubur-ubur bulan Asia juga punya nilai ilmiah. Dilansir Atlas of Australia, hewan ini hidup di daerah yang kaya bakteri dan dapat mengeluarkan zat phenolic yang merupakan antioksidan alami.
Ubur-ubur ini juga terbukti mampu melakukan aktivitas lysozyme lewat “tangan” dan mukus. Para ahli berspekulasi kemampuan itu menjadi bagian dari strategi pertahanan untuk melawan bakteri di air.
Zat phenolic yang dihasilkannya berpotensi dimanfaatkan manusia, terutama di bidang medis dan bioteknologi. Meski begitu, pemanfaatan tersebut masih sebatas wacana dan belum terealisasi.
Peka terhadap kondisi perairan
Meski tahan pada kadar oksigen yang minim, ubur-ubur bulan Asia sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan salinitas air. Sifat itu membuat keberadaannya erat dengan kondisi lingkungan perairan tempat ia hidup.
Karena itu, ubur-ubur bulan Asia sering dipandang bukan hanya sebagai hewan laut transparan yang unik. Spesies ini juga menjadi penanda penting tentang bagaimana perubahan kecil di laut dapat berdampak besar pada ekosistem.
Source: www.idntimes.com




