Tidak semua burung bergantung pada terbang untuk bertahan hidup. Sejumlah spesies justru berkembang dengan tubuh yang lebih cocok untuk berenang, menyelam, atau menyeberangi air, dan kemampuan itu menjadi keunggulan utama di habitat mereka.
Daftar burung tak bisa terbang ini memperlihatkan bagaimana evolusi bekerja secara berbeda pada tiap spesies. Alih-alih sayap untuk mengudara, mereka mengandalkan kaki kuat, tubuh ramping, dan adaptasi lain yang membuat mereka tetap unggul di lingkungan yang keras.
Penguin, spesialis air dingin
Penguin adalah contoh paling populer dari burung yang tidak bisa terbang, dan seluruh 18 spesiesnya memang kehilangan kemampuan itu. Tubuh gempal, kaki pendek, dan gaya bergerak khas membuat mereka sangat efisien di air.
Penguin menghabiskan sebagian besar waktunya di perairan dan dikenal sebagai perenang serta penyelam yang andal. Banyak orang mengira penguin hanya hidup di Antartika, padahal sebagian besar spesies justru berada di wilayah beriklim dingin lain, sementara penguin Galapagos hidup di sekitar garis khatulistiwa.
Steamer duck, pemburu air dari ujung Amerika Selatan
Steamer duck mendapat namanya dari gerakannya saat berenang, ketika sayap dan kaki terus mengepak seperti kapal uap. Pemandangan itu membuatnya mudah dikenali di pesisir berbatu Chile dan Argentina.
Dari empat spesies yang ada, hanya satu yang masih bisa terbang, sedangkan sisanya benar-benar tak lagi memiliki kemampuan itu. Ukuran tubuhnya juga besar, dengan panjang lebih dari 80 cm dan berat yang bisa melewati 7 kg.
Kormoran Galapagos, satu-satunya kormoran yang tak bisa terbang
Flightless cormorant atau kormoran Galapagos menjadi satu-satunya kormoran di dunia yang tidak bisa terbang. Spesies ini hanya ditemukan di Kepulauan Galapagos dan termasuk salah satu yang terbesar di kelompoknya.
Tubuhnya berwarna cokelat kehitaman dengan paruh panjang yang melengkung di ujung. Kaki berselaput dan tubuh yang kuat membantunya berenang dan menyelam untuk mencari ikan serta gurita.
Bulu kormoran ini tidak tahan air, sehingga ia perlu berjemur setelah berenang. Adaptasi itu penting untuk menjaga tubuhnya tetap siap kembali ke laut.
Burung besar yang juga bisa masuk air
Burung unta dikenal sebagai burung terbesar di dunia dan sudah lama tidak bisa terbang. Meski lebih terkenal karena larinya yang sangat cepat, burung ini juga mampu berenang ketika harus berada di danau atau sungai.
Tubuh besar dan leher panjangnya membantu kepala tetap di atas air, sementara kaki yang kuat mendorong tubuhnya bergerak. Emu memiliki kemampuan serupa, dan burung terbesar kedua di dunia itu juga bisa berenang jika ada kesempatan.
Bulu emu punya ciri unik karena setiap helainya memiliki dua batang utama tanpa kait, sehingga tampak seperti rambut dari kejauhan. Warna bulunya pun bisa berubah dari hitam pekat menjadi cokelat pucat akibat paparan sinar matahari.
Kasuari dan grebe, perenang tangguh dengan strategi berbeda
Kasuari hidup di hutan hujan tropis Papua, Papua Nugini, hingga Queensland, Australia, dan dikenal sangat kuat saat menyeberangi air. Burung besar ini bahkan bisa berenang di laut untuk berpindah wilayah atau menghindari predator.
Kaki yang kuat bekerja seperti dayung alami sehingga kasuari dapat bergerak efektif di air. Sementara itu, grebe juga menarik karena beberapa spesiesnya bisa kehilangan kemampuan terbang, termasuk Atitlán grebe dari Guatemala yang dikenal sebagai perenang dan penyelam hebat.
Grebe memiliki jari kaki berbentuk lobus yang sangat membantu saat berenang. Mereka umumnya hidup di danau atau kolam air tawar, lalu menyelam untuk berburu ikan dan serangga air.
Kelima kelompok burung ini menunjukkan bahwa bertahan hidup tidak selalu berarti harus bisa terbang. Bagi mereka, berenang dan menyelam justru menjadi cara paling efektif untuk menguasai habitatnya masing-masing.
Source: www.idntimes.com






