Di pasar koleksi internasional, buku tua bisa bernilai jauh melampaui emas dan berlian. Sejumlah manuskrip langka bahkan pernah menembus harga ratusan miliar rupiah karena kelangkaan, kondisi fisik, dan bobot sejarah yang melekat di dalamnya.
Nilai fantastis itu membuat buku tidak lagi dipandang sebagai benda bacaan semata. Bagi museum, perpustakaan, dan kolektor besar, lembaran tua tertentu berubah menjadi artefak budaya dan intelektual yang berebut diperebutkan di lelang bergengsi.
Codex Leicester dan daftar buku yang paling diburu
Salah satu nama paling terkenal adalah Codex Leicester, kumpulan catatan ilmiah karya Leonardo da Vinci. Manuskrip ini memuat pemikiran tentang astronomi, air, fosil, dan berbagai fenomena alam.
Codex Leicester dibeli Bill Gates pada lelang internasional tahun 1994 dengan harga sekitar 53,2 juta dolar AS. Nilai itu setara lebih dari Rp750 miliar berdasarkan kurs saat ini, dan hingga kini buku tersebut tetap dikenal sebagai salah satu yang termahal yang pernah diperjualbelikan.
Di daftar yang sama, manuskrip asli yang menjadi dasar penyusunan Book of Mormon atau Kitab Mormon terjual sekitar 37 juta dolar AS pada 2015. Sherborne Missal juga masuk jajaran elite setelah dibeli British Library dengan nilai sekitar 31 juta dolar AS.
Naskah keagamaan dan dokumen sejarah ikut mencatat harga tinggi
Injil Heinrich der Löwe, manuskrip keagamaan dari abad ke-12, pernah terjual sekitar 30 juta dolar AS dalam lelang di London. Magna Carta juga masuk daftar buku paling bernilai dengan harga lelang lebih dari 20 juta dolar AS.
Ada pula Injil St. Cuthbert, buku mungil berusia lebih dari 1.300 tahun yang dianggap sebagai salah satu buku Eropa tertua yang masih utuh. Nilainya mencapai lebih dari 16 juta dolar AS, meski ukurannya kecil.
Bay Psalm Book ikut mencuri perhatian karena menjadi buku pertama yang dicetak di wilayah Amerika Utara. Saat dilelang, nilainya sekitar 13 juta dolar AS dan menegaskan bahwa sejarah cetak awal punya tempat penting di pasar koleksi.
Kelangkaan, kondisi, dan pengaruh intelektual jadi penentu
Harga buku tua tidak lahir hanya karena usianya panjang. Kelangkaan salinan, kondisi fisik, kaitan dengan sejarah, dan pengaruh intelektual ikut menentukan nilai jualnya.
Itulah sebabnya kolektor rela membayar mahal untuk naskah yang jumlahnya sangat terbatas. Semakin sedikit salinan yang bertahan, semakin kuat pula daya tariknya di pasar internasional.
Buku-buku seperti Magna Carta dan Codex Leicester juga dinilai penting karena memiliki hubungan kuat dengan sejarah peradaban dan ilmu pengetahuan. Keduanya tidak hanya mahal, tetapi juga dianggap mewakili cara manusia memahami dunia pada zamannya.
Bukan cuma mahal, tetapi juga sangat berpengaruh
Rothschild Prayer Book menjadi incaran karena dikenal sebagai buku doa beriluminasi dengan ilustrasi yang sangat indah. Birds of America karya John James Audubon juga terkenal lewat ilustrasi burung berukuran besar dan detail, hingga pernah memecahkan rekor sebagai buku cetak termahal di dunia.
The Canterbury Tales karya Geoffrey Chaucer turut masuk jajaran buku bernilai fantastis. Salinan aslinya sangat langka, sehingga nama karya itu tetap bertahan sebagai buruan utama kolektor.
Deretan 10 buku tua ini menunjukkan bahwa pasar koleksi tidak hanya mengincar benda antik. Pasar itu juga memberi nilai tinggi pada warisan pengetahuan, seni, dan sejarah yang masih bertahan dalam bentuk lembaran tua.
Ukuran besar tidak selalu berarti nilai tertinggi
Di sisi lain, buku paling mahal tidak selalu menjadi buku paling tebal. Rekor buku tertebal justru dipegang Shree Haricharitramrut Sagar karya Gyanjivandasji Swami, dengan lebih dari 12.400 halaman, berat lebih dari 33 kilogram, dan ketebalan hampir 50 sentimeter.
Indonesia juga sempat masuk sorotan lewat karya M. Mukhlis Bin Arifin dari Surabaya berjudul Muhammad: The Messenger of God. Buku itu pernah tercatat memiliki lebih dari 5.000 halaman dan sempat masuk rekor dunia karena ketebalannya.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa dunia buku menyimpan dua daya tarik yang berbeda. Ada buku yang diburu karena ukurannya, dan ada pula yang dikejar karena nilai sejarah serta harga lelangnya yang luar biasa.
Source: yoursay.suara.com






