BRI Tetap Tahan Guncangan, LDR 86,7 Persen Dan CAR 22,90 Persen Masih Aman

Di tengah gejolak global yang masih membayangi pasar, BRI justru menunjukkan bahwa fondasi keuangannya tetap kokoh hingga Triwulan I 2026. Bank pelat merah ini mampu menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat sambil mempertahankan disiplin prudential banking dan manajemen risiko.

Sinyal paling kuat terlihat dari likuiditas dan permodalan yang sama-sama berada di level memadai. BRI menyebut rasio likuiditasnya tetap kuat dan jauh di atas ketentuan regulator, sementara struktur modalnya masih memberi ruang untuk ekspansi bisnis secara prudent.

LDR tetap aman dan intermediasi terjaga

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengatakan, hingga akhir Maret 2026 loan to deposit ratio atau LDR BRI tercatat 86,7 persen. Menurut dia, level itu masih ideal untuk menjaga fungsi intermediasi.

Posisi tersebut dinilai tidak terlalu ketat, tetapi tetap cukup optimal untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan. Artinya, BRI masih punya ruang untuk menyalurkan pembiayaan tanpa mengganggu keseimbangan likuiditas.

Biaya dana turun, komposisi dana murah membaik

Di sisi pendanaan, BRI mencatat perbaikan yang signifikan. Cost of fund berbasis dana pihak ketiga turun dari 3,0 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 2,3 persen pada Triwulan I 2026, atau turun 65 basis poin.

Penurunan itu sejalan dengan penguatan komposisi dana murah. Rasio CASA BRI naik dari 65,8 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 68,1 persen pada Triwulan I 2026, yang menunjukkan strategi pengelolaan funding berjalan lebih efisien.

Achmad menyebut disiplin pengelolaan likuiditas menjadi faktor penting dalam menjaga kecukupan dana. Pengelolaan yang konsisten juga berdampak langsung pada efisiensi cost of fund dan kualitas struktur pendanaan yang semakin optimal.

Modal tebal memberi ruang ekspansi

Dari sisi permodalan, BRI mencatat Capital Adequacy Ratio atau CAR di level 22,90 persen. Angka ini disebut jauh di atas ketentuan minimum regulator bagi BRI sebagai bank sistemik.

Modal yang kuat itu memberi kapasitas yang cukup besar untuk mendukung ekspansi bisnis secara hati-hati. Di saat yang sama, posisi tersebut juga menjadi penyangga yang memadai untuk menyerap berbagai potensi risiko ke depan.

Kondisi itu membuka ruang bagi BRI untuk terus mendorong pertumbuhan kredit, terutama di segmen UMKM dan pembiayaan produktif. Namun, ekspansi tetap dijalankan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian yang menjadi dasar operasional bank.

Pertumbuhan tetap diarahkan secara berkelanjutan

BRI menegaskan akan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan likuiditas dan ketahanan permodalan. Keseimbangan itu dinilai penting agar bank tetap bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Dengan likuiditas yang terjaga, biaya dana yang makin efisien, dan modal yang tebal, BRI memasuki periode berikutnya dengan bantalan yang cukup kuat. Kombinasi itu juga memperlihatkan bahwa kualitas struktur pendanaan perseroan masih berada pada jalur yang sehat hingga Triwulan I 2026.

Baca Juga

Back to top button