Brasil datang ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 dengan beban yang tidak kecil. Norwegia bukan hanya lawan yang sedang percaya diri, tetapi juga tim yang selama ini membuat Selecao gagal menang dalam empat pertemuan terakhir.
Laga di Stadion Metlife, New York New Jersey, Amerika Serikat, pada Senin (6/7) WIB itu menjadi ujian penting bagi Brasil untuk mengamankan tiket perempat final. Di atas kertas, skuad asuhan Carlo Ancelotti memang punya kedalaman dan pengalaman lebih, tetapi catatan head-to-head justru memberi peringatan keras.
Rekor yang belum dipatahkan Brasil
Dalam empat pertemuan melawan Norwegia, Brasil belum meraih satu pun kemenangan. Hasilnya terdiri dari dua kekalahan dan dua imbang, termasuk kekalahan yang paling membekas saat Brasil tumbang 1-2 pada fase grup Piala Dunia 1998.
Situasi itu membuat duel kali ini terasa berbeda dari sekadar pertandingan gugur biasa. Brasil harus membuktikan bahwa performa solid mereka di turnamen ini cukup kuat untuk menembus blokade yang selama ini gagal mereka lewati saat berhadapan dengan Norwegia.
Brasil membawa modal permainan yang makin stabil
Brasil melaju ke fase ini setelah menyingkirkan Jepang 2-1 di babak 32 besar. Sepanjang turnamen, mereka baru kebobolan dua gol sejak fase grup, sebuah catatan yang menunjukkan organisasi permainan mulai terbentuk dengan baik.
Di lini depan, Vinicius Junior menjadi ancaman utama dari sisi kiri dan tercatat sebagai pencetak gol terbanyak Brasil di turnamen ini. Matheus Cunha juga memberi kontribusi penting karena rajin turun menjemput bola dan membantu membuka ruang untuk rekan-rekannya.
Rayan menambah intensitas di sisi kanan lewat pressing dan lari vertikal, terutama saat Raphinha cedera. Kombinasi ini membuat serangan Brasil lebih fleksibel dan sulit ditebak, sesuatu yang bisa sangat menentukan dalam laga gugur seperti ini.
Neymar dan Raphinha memberi harapan tambahan
Kabar baik datang dari kondisi beberapa pemain kunci. Carlo Ancelotti mengonfirmasi Neymar sudah pulih dan siap bermain, sementara Raphinha sudah kembali berlatih.
Di lini tengah, Brasil tidak hanya mengandalkan bakat individu, tetapi juga keseimbangan permainan. Bruno Guimaraes menjadi motor utama karena mampu menghubungkan pertahanan dan serangan, mengatur tempo, dan menciptakan peluang.
Guimaraes juga sudah mencatat empat umpan, terbanyak untuk Brasil di turnamen ini. Di belakangnya, Casemiro tetap menjadi jangkar yang kuat meski sudah berusia 34 tahun, dengan kemampuan membaca permainan, memotong serangan lawan, dan unggul dalam duel udara.
| Tim | Modal Utama | Catatan Penting |
|---|---|---|
| Brasil | Menang 2-1 atas Jepang | Baru kebobolan 2 gol sejak fase grup |
| Norwegia | Menang 2-1 atas Pantai Gading | Didukung duet Erling Haaland dan Martin Odegaard |
Norwegia datang tanpa rasa gentar
Norwegia juga membawa momentum besar setelah membuat sejarah dengan lolos ke fase gugur. Mereka menyingkirkan Pantai Gading 2-1 di babak 32 besar dan kini datang dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi.
Tim asuhan Stale Solbakken memiliki ancaman nyata di lini depan melalui Erling Haaland dan Martin Odegaard. Haaland sejauh ini sudah mencetak lima gol sepanjang turnamen dan berada di posisi ketiga dalam perburuan Sepatu Emas.
Brasil memang sedikit lebih diunggulkan karena kedalaman skuad dan pengalaman di laga besar. Namun, rekor pertemuan yang belum bersahabat membuat Norwegia tetap menjadi lawan yang berbahaya, apalagi Marquinhos dan kawan-kawan belum benar-benar diuji oleh penyerang sekelas Haaland.
Perkiraan susunan pemain
| Brasil | Norwegia |
|---|---|
| Alisson Becker | Orjan Nyland |
| Vanderson | Julian Ryerson |
| Marquinhos | Leo Ostigard |
| Gabriel Magalhaes | Kristoffer Ajer |
| Guilherme Arana | Birger Meling |
| Casemiro | Sander Berge |
| Bruno Guimaraes | Patrick Berg |
| Gerson | Martin Odegaard |
| Raphinha | Antonio Nusa |
| Vinicius Junior | Erling Haaland |
| Matheus Cunha | Alexander Sorloth |
Brasil perlu menjaga stabilitas yang sudah mereka bangun, sambil tetap mewaspadai efisiensi Norwegia dalam transisi dan penyelesaian akhir. Dengan tiket perempat final dipertaruhkan, duel ini berpotensi ditentukan oleh detail kecil yang selama ini justru sering membuat Brasil kesulitan saat melawan lawan asal Skandinavia itu.
