Ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang memicu penyelidikan yang mengarah ke dugaan motif psikologis dan jejak perakitan daring. Polisi menyebut terduga pelaku adalah pelajar berusia 17 tahun yang diduga mengalami tekanan akibat perundungan di sekolah.
Kasus ini menjadi perhatian karena bahan peledak disebut dirakit sendiri di rumah, sementara sejumlah barang turut diamankan dari pemeriksaan awal. Aparat juga masih menelusuri pengakuan pelaku yang disebut terinspirasi dari kasus bom di SMAN 72 Jakarta.
Terduga Pelaku Masih Pelajar Kelas 12
Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Susmelawati Rosya menyebut terduga pelaku berinisial R adalah siswa kelas 12 berusia 17 tahun. Ia diamankan setelah ledakan terjadi di lingkungan sekolah.
Menurut keterangan awal yang disampaikan kepolisian, tindakan itu diduga dipicu masalah psikologis. Pelaku disebut kerap menjadi korban bully di sekolah dan kemudian memilih jalan pintas dengan merakit bom yang menghasilkan ledakan rendah.
Barang yang Diamankan dari Pemeriksaan Awal
Juru Bicara Densus 88 Polri Kombes Mayndra Eka mengatakan petugas mengamankan beberapa barang dari lokasi dan pemeriksaan awal. Di antaranya ada kotak hitam, tas hitam, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, baut, dan sejumlah barang lain.
| Temuan Awal | Informasi | Keterangan |
|---|---|---|
| Terduga pelaku | Siswa kelas 12, berusia 17 tahun, berinisial R | Diamankan polisi |
| Barang yang diamankan | Kotak hitam, tas hitam, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, baut | Hasil pemeriksaan awal |
| Dampak ledakan | Terjadi sekali di samping kelas | Tidak ada korban |
Mayndra menegaskan ledakan hanya terjadi sekali dan lokasinya berada di samping kelas. Ia juga menyebut tidak ada korban dalam peristiwa itu.
Disebut Terinspirasi dari Kasus di SMAN 72 Jakarta
Dalam penjelasan Densus 88, pelaku juga mengaku mendapat bahan peledak dan inspirasi dari kasus bom di SMAN 72 Jakarta. Polisi masih mendalami pengakuan tersebut dan belum menyimpulkan keterkaitan itu secara final.
Pengakuan itu masih dalam proses verifikasi tim penyelidik. Karena itu, setiap keterkaitan yang disebut pelaku belum dianggap selesai dibuktikan oleh penyidik.
Dirakit Sendiri di Rumah Lewat Bahan Daring
Hasil pemeriksaan awal menyebut alat peledak itu dirakit sendiri di rumah tanpa sepengetahuan orang tua. Bahan-bahannya diperoleh secara daring dan diduga berasal dari sejumlah grup daring yang membahas pembuatan bahan peledak.
Polda Sumatera Barat bersama Densus 88 Antiteror Mabes Polri masih mendalami asal bahan, cara perakitan, dan kemungkinan kaitannya dengan peristiwa lain yang disebut pelaku. Seluruh pengakuan itu tetap menunggu verifikasi lebih lanjut sebelum disimpulkan sebagai fakta akhir.
