Hujan di Indonesia kian jarang turun pada awal Juli, dan kondisi itu membuat banyak wilayah masuk fase cuaca kering yang lebih panjang. BMKG menyebut hampir separuh wilayah Indonesia sudah berada di musim kemarau, sementara peluang hujan dalam beberapa hari ke depan juga masih terbatas.
Yang membuat situasi ini penting dicermati adalah meluasnya wilayah dengan potensi curah hujan rendah. BMKG mencatat 92,64 persen wilayah berpeluang mengalami curah hujan di bawah 50 mm per dasarian, sehingga sebagian besar daerah masih berada dalam pantauan kondisi kering.
Musim Kemarau Semakin Meluas
Pada awal Juli, 48,9 persen wilayah Indonesia atau 342 Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Di saat yang sama, pemantauan Hari Tanpa Hujan menunjukkan 329 titik pengamatan, atau sekitar 6,77 persen dari seluruh titik, mengalami hari tanpa hujan kategori sangat panjang selama 31-60 hari.
Kondisi itu menandakan penurunan curah hujan terus terjadi di banyak daerah. BMKG juga mencatat jumlah titik dengan hari tanpa hujan kategori sangat panjang ini lebih banyak dibanding pengamatan sebelumnya.
| Data BMKG | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| Wilayah memasuki musim kemarau | 48,9 persen | 342 Zona Musim |
| Potensi curah hujan rendah | 92,64 persen | Di bawah 50 mm per dasarian |
| Titik pengamatan HTH sangat panjang | 329 titik | 31-60 hari tanpa hujan |
Wilayah Selatan Masih Lebih Kering
Analisis citra satelit terkini menunjukkan adanya udara kering dari selatan Indonesia, terutama di sekitar Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara. Massa udara kering ini berpotensi mengurangi pertumbuhan awan hujan, khususnya di Jawa, Bali, NTB, dan NTT.
BMKG menjelaskan kondisi kemarau yang meluas ini masih didukung oleh fenomena El Niño di Samudra Pasifik. Dalam Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan periode 10-16 Juli, BMKG menyebut indeks Niño 3.4 berada di +1,25 dan Southern Oscillation Index atau SOI di -24,7.
Hujan Masih Mungkin Turun Secara Lokal
Meski peluang hujan menurun di banyak wilayah, BMKG masih melihat adanya potensi hujan skala lokal atau regional. Peluang itu dipengaruhi beberapa fenomena atmosfer, termasuk Aktivitas Madden-Julian Oscillation, Gelombang Rossby Ekuator, dan dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Bavi.
Untuk Dasarian II Juli 2026, BMKG memprakirakan distribusi curah hujan akan lebih banyak berada pada kategori rendah. Hanya 0,04 persen wilayah Indonesia yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori tinggi, sementara 7,32 persen berada pada kategori menengah.
Wilayah dengan curah hujan rendah diperkirakan mencakup Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian wilayah Papua. Kondisi ini menunjukkan potensi hujan di banyak wilayah Indonesia masih relatif terbatas.
