Bitcoin Terseret Bukan Karena SpaceX, ETF dan Leverage Justru Jadi Biang Utama

Author: Cung Media

Penurunan tajam Bitcoin belakangan ini ramai dikaitkan dengan SpaceX, tetapi jejak waktunya tidak mendukung narasi itu. Tekanan yang lebih kuat justru datang dari arus keluar ETF, likuidasi leverage, dan tekanan makro yang muncul bersamaan.

Selama beberapa hari, pasar melihat Bitcoin turun sekitar 20% dan sempat jatuh di bawah $60.000 pada 5 Juni. Di saat yang sama, saham SpaceX belum mulai diperdagangkan, sehingga hubungan langsung antara keduanya tampak lemah.

Timing yang Tidak Selaras

SpaceX mengajukan IPO pada 20 Mei 2026 dengan rencana menghimpun $75 miliar pada valuasi mendekati $1,8 triliun. Namun, harga sahamnya baru dijadwalkan ditetapkan pada 11 Juni dan mulai diperdagangkan di Nasdaq pada 12 Juni dengan ticker SPCX.

Artinya, pelemahan terbesar Bitcoin sudah lebih dulu terjadi sebelum saham SpaceX dibuka untuk diperdagangkan. Secara mekanis, investor juga belum bisa mengalihkan dana ke aset yang belum tersedia di pasar.

Data arus onchain dan stablecoin pun tidak menunjukkan keluarnya modal kripto secara abnormal untuk mengejar penawaran itu selama periode penurunan. Ironisnya, SpaceX sendiri masih memegang Bitcoin dan tercatat duduk di atas sekitar $789 juta keuntungan belum terealisasi pada akhir Mei.

ETF dan Leverage Menekan Pasar Lebih Langsung

Tekanan paling nyata datang dari spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat. Selama 13 sesi berturut-turut hingga 3 Juni, ETF tersebut mencatat arus keluar dan menghapus sekitar $4,4 miliar, menjadi rekor terpanjang dalam sejarah.

Ketika dana keluar, penerbit ETF harus menjual Bitcoin di pasar spot untuk menyediakan kas. Tekanan jual ini berlangsung otomatis dan berulang, sehingga efeknya jauh lebih langsung dibanding dugaan rotasi dana ke IPO.

Pasar derivatif juga ikut memperburuk keadaan. Antara 2 Juni dan 5 Juni, likuidasi kripto mencapai sekitar $1,6 miliar hingga $1,8 miliar, dengan satu rangkaian memaksa sekitar $394 juta posisi ditutup dalam satu jam.

Sekitar 272.000 trader tersingkir dalam gelombang itu, dan mayoritas posisi yang terhapus adalah posisi bullish. Pola ini menunjukkan pasar yang terlalu padat dengan taruhan naik sebelum akhirnya runtuh karena beban sendiri.

Sentimen Sudah Rapuh Sebelum Jatuh

Sinyal pelemahan juga muncul dari investor besar lebih dulu. Pada 1 Juni, Strategy, pemegang Bitcoin korporat terbesar, mengumumkan penjualan Bitcoin pertamanya sejak 2022.

Jumlahnya kecil dibandingkan total kepemilikan perusahaan, tetapi cukup menggoyahkan keyakinan “tidak pernah menjual” yang selama ini menjadi bagian penting dari tesis ritel. Bagi trader yang sudah gelisah, kabar itu menjadi alasan tambahan untuk keluar.

Tekanan Makro Menambah Beban

Bitcoin juga bergerak searah dengan aset risiko lain yang ikut terseret aksi jual. Laporan pekerjaan Amerika Serikat yang lebih panas dari perkiraan memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve bisa menaikkan suku bunga, bukan menurunkannya.

Imbal hasil Treasury naik dan aset durasi panjang ikut tertekan. Nasdaq turun 4,2% pada 5 Juni, mencatat penurunan satu hari terburuknya pada 2026, sementara saham chip seperti Nvidia turun sekitar 6% ketika euforia AI ikut goyah.

Tekanan geopolitik ikut memperburuk suasana. Iran meluncurkan rudal ke Israel pada pekan itu, serangan pertama sejak gencatan senjata April, dan Brent naik mendekati $95 per barel.

Dalam kondisi seperti itu, Bitcoin diperlakukan seperti aset risiko tinggi, bukan seperti emas digital. Pasar lebih memilih mengurangi eksposur spekulatif saat sentimen global memburuk.

Ada Benih Rotasi Modal, tapi Bukan Pemicu Utama

Meski begitu, teori rotasi modal tidak sepenuhnya kosong. Selama bertahun-tahun, kripto memang hampir memonopoli spekulasi berisiko tinggi yang menawarkan potensi imbal hasil besar.

Monopoli itu mulai terkikis oleh IPO besar seperti SpaceX, serta potensi listing OpenAI dan Anthropic, ditambah reli saham-saham AI. Dalam jangka panjang, persaingan itu bisa menarik modal spekulatif dari kripto.

Namun, perpindahan semacam itu berjalan bertahap dan tidak cukup menjelaskan koreksi 20% hanya dalam hitungan hari. Saat arus keluar ETF, pelepasan leverage, dan tekanan makro sudah bekerja keras, SpaceX lebih tampak sebagai latar cerita daripada penyebab utama.

Yang paling relevan untuk dipantau sekarang adalah apakah arus ETF mulai stabil dan tekanan makro mereda. Jika itu terjadi, gelombang likuidasi biasanya akan habis dengan sendirinya, sementara pembelian retail atas SPCX baru menjadi cerita tersendiri, bukan penjelasan utama atas jatuhnya Bitcoin.

Terbaru