Bitcoin Ke $10 Juta? Jordi Visser Kaitkan AI, Tokenisasi, Dan Rotasi Ke Aset Langka

Bitcoin kembali memancing spekulasi besar setelah Adam Livingston memproyeksikan harganya bisa menembus $10 juta. Di saat yang sama, Jordi Visser menilai AI, tokenisasi, dan tekanan inflasi dapat menciptakan kondisi yang mendukung lonjakan Bitcoin dan Ethereum.

Livingston melihat perubahan besar sedang terjadi dalam cara pasar memberi nilai pada aset. Ia menilai modal mulai bergeser dari proyeksi arus kas masa depan ke aset yang langka dan sulit ditiru.

Di X, Livingston menulis bahwa ia tidak bisa tidur karena memikirkan Bitcoin yang akan “menyerap semua monetary premium dari aset-aset dunia yang kuno” lalu naik ke $10,000,000. Ia juga mengakui saham publik mungkin mempertahankan premi moneternya lebih lama, tetapi arah pasar tetap bergerak ke aset yang semakin langka.

AI dan tokenisasi mulai masuk ke tesis kripto

Visser, lewat podcast Anthony Pompliano, menghubungkan pandangan itu dengan ledakan infrastruktur AI dan gelombang tokenisasi. Ia menilai perkembangan tersebut dapat menguntungkan Bitcoin dan Ethereum karena sistem AI membutuhkan token untuk transaksi dan operasi digital.

Ia mengatakan, “AI agents are with us. They need food, and that food is not physical food, it is tokens.” Menurut Visser, lonjakan permintaan dari sistem seperti itu dapat memicu inflasi lebih tinggi dari yang banyak diperkirakan.

Dalam kerangka itu, Visser mulai menjauh dari perdagangan semikonduktor yang padat dan beralih ke aset keras serta kripto. Ia menyebut Bitcoin dan Ethereum, lalu menambahkan emas dan perak jika proyeksinya soal inflasi dan kelangkaan pasokan terbukti tepat.

Rotasi dari saham AI ke aset langka

Visser menegaskan pembelian Bitcoin dan Ethereum bukan karena euforia umum terhadap kripto. Ia justru menilai sebagian perdagangan AI, terutama saham memory-chip dan semikonduktor, sudah terlalu ramai.

Ia mengatakan sedang menjual DRAM bukan karena pesimistis terhadap AI, melainkan karena terlalu banyak dana mengalir ke area itu. Menurutnya, pasar sedang memasuki rezim baru di dalam AI, sehingga modal mulai bergeser ke aset yang dianggap lebih tahan terhadap perubahan tersebut.

Ia juga memperkirakan tokenisasi akan bergerak lebih kuat pada musim panas. Visser menilai belum cukup banyak pelaku pasar yang membahas tokenisasi dan apa yang mulai diumumkan untuk dimulai pada Juli.

Inflasi, pasokan, dan kelangkaan jadi inti argumen

Salah satu pilar utama pandangan Visser adalah kebutuhan infrastruktur AI yang sangat besar. Ia menilai pembangunan itu dapat menciptakan tekanan inflasi yang bertahan lebih lama di ekonomi global.

Visser juga menyoroti masalah inventaris minyak. Ia mengatakan persediaan yang lebih rendah bisa membuat harga bertahan lebih tinggi dari yang diperkirakan, sementara investor yang mengira inflasi akan cepat reda justru meremehkan kelangkaan pasokan dan perilaku penimbunan.

Dalam sudut pandang itu, emas, perak, dan Bitcoin menjadi aset yang lebih menarik dibandingkan investasi jangka panjang tradisional. Visser bahkan menyebut mereka yang tidak memperhitungkan inflasi untuk sisa tahun ini sedang membuat kesalahan besar.

Bitcoin, compute, dan energi makin saling terkait

Visser melihat hubungan struktural yang makin kuat antara AI dan jaringan kripto, terutama pada kebutuhan compute dan energi. Ia menyebut compute sebagai komoditas karena pada dasarnya berkaitan dengan perangkat keras yang mengubah listrik menjadi intelijen, token, dan output digital.

Menurut Visser, penambang Bitcoin punya posisi unik karena sudah membangun infrastruktur compute skala besar. Ia menegaskan ada keterkaitan antara AI dan kripto, serta antara kripto dan kode, yang makin relevan ketika AI berkembang.

Dari sana, ia menyimpulkan bahwa kenaikan AI justru bisa memperkuat pentingnya infrastruktur Bitcoin dalam jangka panjang. Dalam logikanya, keduanya bergantung pada sumber daya yang serupa dan bergerak dalam arah yang saling menguatkan.

Dukungan institusional belum melemah

Di tengah volatilitas pasar, Visser juga menyoroti arus masuk yang masih kuat ke spot Bitcoin exchange-traded funds. Ia menyebut saham beredar ETF BlackRock berada di level tertinggi sepanjang masa, dan itu menjadi sinyal bahwa investor yang lebih tua ikut menambah alokasi.

Visser membandingkan momentum Bitcoin dengan memudarnya kepercayaan pada aset pertumbuhan berdurasi panjang. Ia mengatakan kelompok aset pertumbuhan sudah “mati,” sementara private credit, private equity, dan VC tidak akan kembali dengan cara yang sama.

Bagi Livingston, pergeseran itu mendukung tesis bahwa aset langka akan terus mengambil alih premi nilai dari aset lama. Bagi Visser, kombinasi AI, tokenisasi, dan inflasi justru bisa memperkuat posisi Bitcoin dan Ethereum dalam siklus berikutnya.

Terkait