Federal Reserve kembali mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5% hingga 3,75% setelah rapat kebijakan terbarunya. Keputusan yang sudah diperkirakan pasar itu langsung memberi tekanan pada aset berisiko, termasuk Bitcoin dan Ethereum, yang bergerak melemah usai pengumuman.
Sikap hati-hati The Fed muncul di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, terutama dari perkembangan di Timur Tengah. Bank sentral menilai kondisi tersebut membuat pendekatan defensif tetap diperlukan karena risiko terhadap prospek ekonomi global belum mereda.
Bitcoin dan Ethereum Masuk Zona Koreksi
Sesaat setelah keputusan diumumkan, Bitcoin diperdagangkan di sekitar $75.100 dan Ethereum berada di sekitar $2.240 menurut CoinGecko. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin terkoreksi 1,4% dan Ethereum melemah 2,3%.
Pergerakan ini menegaskan sensitivitas pasar kripto terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketika suku bunga bertahan lebih lama, investor cenderung menahan minat pada aset spekulatif yang bergantung pada likuiditas longgar.
Pesan “Higher for Longer” Kembali Menekan Sentimen
Pasar membaca keputusan The Fed sebagai sinyal bahwa suku bunga tinggi bisa bertahan lebih lama dari yang diharapkan. Iggy Ioppe, CIO platform infrastruktur perdagangan Theo, mengatakan kepada Decrypt bahwa pesan “higher for longer” menjadi tekanan jangka pendek bagi Bitcoin karena likuiditas yang lebih ketat masih membebani aset tersebut.
Pandangan itu sejalan dengan reaksi pasar yang langsung melemah setelah bank sentral mengumumkan kebijakannya. Bitcoin dan Ethereum sama-sama menjadi barometer awal bagaimana pelaku pasar menilai konsekuensi lanjutan dari kebijakan moneter yang ketat.
Geopolitik dan Inflasi Ikut Membayangi
The Federal Open Market Committee mempertahankan sikap waspada untuk ketiga kalinya tahun ini. Gejolak geopolitik dan risiko inflasi yang belum selesai membuat ruang bagi pelonggaran kebijakan masih terbatas.
Salah satu perhatian utama datang dari Timur Tengah, terutama gangguan pengiriman kapal melalui Selat Hormuz. Situasi itu ikut mendorong harga energi global dan menambah tekanan pada upaya The Fed membawa inflasi kembali ke target 2%.
Di Amerika Serikat, dampaknya mulai terlihat pada harga bensin. AAA mencatat harga rata-rata nasional bensin mencapai $4.22 per galon, naik 6,2% dalam sebulan, jauh di atas kisaran sekitar $2.99 per galon ketika konflik U.S.-Israel dengan Iran mulai memanas.
Powell dan Kegelisahan Politik di Washington
Dalam konferensi pers setelah keputusan, Jerome Powell menyampaikan bahwa dirinya memilih tetap menjadi anggota pemilih FOMC dan akan beralih ke peran gubernur untuk periode yang belum ditentukan. Ia juga menyinggung serangkaian tekanan hukum terhadap The Fed yang dinilai mengancam kemampuan bank sentral menjalankan kebijakan moneter tanpa campur tangan politik.
Powell sebelumnya menyebut akan menjabat sebagai “chair pro tempore” jika pengganti yang diajukan belum disahkan pada 15 Mei. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump terus mendorong Powell agar menurunkan suku bunga selama masa jabatan keduanya.
Sorotan ke Pencalonan Kevin Warsh
Di hari yang sama, Komite Perbankan Senat meloloskan pencalonan Kevin Warsh untuk menggantikan Powell. Proses itu kini berlanjut ke pemungutan suara penuh di Senat, dengan Partai Republik memegang mayoritas sehingga jalur prosedural pencalonan Warsh terlihat lebih terbuka.
Pengungkapan terbaru juga menunjukkan Warsh, yang memiliki kekayaan bersih sekitar $100 juta, memegang sejumlah investasi terkait sektor kripto, termasuk Solana dan Polymarket. Meski kerap menyebut banyak proyek kripto sebagai penipuan dan tidak bernilai, ia tetap menyatakan dukungan terhadap Bitcoin.
Departemen Kehakiman juga telah mengakhiri penyelidikan pidana terhadap Powell pada pekan lalu. Di tengah perubahan politik dan kebijakan yang masih bergerak, pasar kripto kini tetap menunggu sinyal yang lebih tegas dari The Fed terkait arah suku bunga dan dampaknya bagi Bitcoin serta Ethereum.







