Listrik Printer 3D Ternyata Sangat Murah, Biaya per Jam Bisa Cuma 1 Sampai 10 Sen

Banyak orang mengira printer 3D akan membuat tagihan listrik membengkak, terutama saat satu cetakan berjalan berjam-jam. Padahal, konsumsi dayanya pada printer rumahan umumnya jauh lebih kecil dari dugaan, dengan biaya listrik rata-rata hanya sekitar satu sampai 10 sen per jam.

Artinya, beban terbesar saat memakai printer 3D biasanya bukan listrik. Dalam banyak kasus, biaya filamen, harga perangkat, dan perawatan rutin justru lebih dominan dibanding konsumsi daya harian.

Biaya per jam yang sebenarnya masih sangat rendah

Cara menghitung biaya listrik printer 3D cukup sederhana. Daya rata-rata dalam watt dibagi 1.000, lalu dikalikan tarif listrik per kWh di wilayah setempat.

Untuk printer FDM, konsumsi dayanya umumnya berada di kisaran 60 hingga 150 watt. Jika memakai angka 150 watt dan tarif listrik rata-rata di Amerika Serikat sekitar 18 sen per kWh, biaya listrik per jamnya sekitar $0.027.

Dalam skenario yang lebih mudah dibayangkan, cetakan selama 10 jam dengan printer yang rata-rata memakai 120 watt hanya membutuhkan biaya sekitar 22 sen, atau $0.216. Jika pola itu terjadi setiap hari selama sebulan penuh, totalnya menjadi $6.48.

Apa yang paling memengaruhi konsumsi daya

Ukuran printer menjadi faktor utama. Printer yang lebih besar biasanya memiliki bed yang lebih luas, dan menjaga suhu permukaan itu tetap stabil membutuhkan lebih banyak listrik.

Dua komponen yang paling boros daya adalah heated bed dan hot end. Heated bed harus tetap hangat agar hasil cetak tidak melengkung, sedangkan hot end bertugas melelehkan filamen sebelum keluar dari nozzle.

Jenis filamen juga berpengaruh langsung pada kebutuhan energi. PLA mencetak pada suhu nozzle 190 hingga 220 derajat Celsius, sedangkan ABS berada di kisaran 220 hingga 250 derajat Celsius.

Perbedaan suhu itu ikut mengubah beban kerja printer. PLA juga tidak selalu memerlukan heated bed, dan bila dipakai, suhu yang direkomendasikan ada di kisaran 50 hingga 60 derajat Celsius.

ABS sebaliknya membutuhkan suhu bed 80 hingga 110 derajat Celsius. Rentang ini membuat printer harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan panas selama proses mencetak.

Cara menekan biaya listrik printer 3D

Ada beberapa cara sederhana untuk menghemat energi saat mencetak. Menurunkan suhu hot end dan heated bed selama masih aman untuk filamen yang dipakai bisa membantu mengurangi konsumsi daya.

Memilih PLA juga bisa menekan biaya karena material ini membutuhkan suhu lebih rendah. Jika memungkinkan, enclosure ikut membantu karena dapat menahan panas di sekitar printer dan mengurangi energi yang dibutuhkan untuk menjaga suhu bed.

Strategi cetak juga berpengaruh pada efisiensi. Menggabungkan beberapa cetakan kecil dalam satu sesi dapat mengurangi siklus pemanasan, sehingga penggunaan daya menjadi lebih hemat.

Pengaturan infill pun patut diperhatikan. Semakin rendah persentase infill, semakin cepat model selesai dicetak, dan waktu pemakaian listrik pun ikut lebih singkat.

Lokasi penempatan printer dan perawatan rutin juga berperan menjaga efisiensi jangka panjang. Keduanya membantu printer tetap bekerja stabil tanpa boros daya berlebihan.

Apakah listrik perlu jadi alasan untuk menunda membeli printer 3D?

Secara umum, jawabannya tidak. Printer 3D sudah tergolong efisien, dan konsumsi dayanya jauh di bawah microwave atau pemanas ruangan yang biasanya bekerja di kisaran 1.200 hingga 1.500 watt.

Bila dihitung bersama seluruh biaya cetak, listrik justru berada di belakang harga printer, filamen, perawatan rutin, dan bahkan penggantian nozzle. Karena itu, bagi banyak pengguna, tagihan listrik bukan lagi faktor utama yang menahan keputusan untuk mulai memakai printer 3D.

Terkait