BI Rate Tembus 5,75 Persen, Airlangga Minta Himbara Tak Cepat Naikkan Kredit

Author: Cung Media

Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan ke 5,75 persen, dan pemerintah langsung memberi sinyal agar dampaknya ke kredit tidak berlangsung terlalu cepat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta bank-bank Himbara menahan laju kenaikan bunga kredit supaya pembiayaan ke dunia usaha tetap terjaga.

Permintaan itu muncul di tengah tekanan terhadap rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Dalam sebulan terakhir, Bank Indonesia tercatat sudah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin.

Transmisi kebijakan moneter yang diharapkan tidak terlalu cepat

Airlangga menyampaikan sikap pemerintah itu usai mendampingi jajaran direksi dan komisaris Himbara dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/6). Ia mengakui kebijakan BI pada akhirnya memang biasanya diteruskan ke perbankan, tetapi penyesuaian di sisi kredit diharapkan tidak berlangsung terburu-buru.

Langkah ini bertujuan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah pengetatan moneter. Jika bunga kredit naik terlalu cepat, biaya pembiayaan pelaku usaha bisa terkerek dan permintaan kredit berpotensi melemah.

Rangkaian kenaikan BI Rate dalam sebulan

Bank Indonesia menaikkan suku bunga 50 bps pada Mei 2026, lalu menambah 25 bps melalui RDG mingguan pada 9 Juni, dan kembali 25 bps pada Kamis (18/6). Data BI juga menunjukkan rata-rata suku bunga kredit pada Mei 2026 berada di level 8,72 persen.

Di sisi lain, suku bunga deposito satu bulan tercatat 4,26 persen. Angka-angka ini memperlihatkan bahwa ruang penyesuaian di perbankan masih dipantau ketat, terutama saat suku bunga global tetap tinggi dan rupiah bergerak fluktuatif.

BRI belum melihat kebutuhan mendesak menaikkan bunga secara signifikan

Dari sisi perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyebut belum melihat kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga secara signifikan dalam waktu dekat. Group Head Liquidity and Funding Management Group BRI, Teguh Sulistyono, mengatakan kondisi likuiditas masih memungkinkan untuk menahan kenaikan drastis, terutama pada suku bunga jangka panjang.

Sikap itu memberi sinyal bahwa transmisi kenaikan BI Rate ke perbankan tidak selalu harus terjadi seketika. Pemerintah pun tetap memantau dampaknya terhadap sektor riil agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah tekanan rupiah dan kebijakan moneter yang makin ketat.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru