BI Jateng Dorong UMKM Naik Kelas, Jalan Panjang Menuju Pembeli Mancanegara

Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah bersama Dekranasda mendorong UMKM naik kelas dengan target yang jelas: produk lokal tidak hanya laku di dalam negeri, tetapi juga mampu menembus pasar internasional. Dorongan itu menguat lewat UMKM Grande 2026 di Atrium Mal Paragon Semarang, yang menjadi etalase produk unggulan sekaligus ruang pertemuan dengan calon pembeli dari luar negeri.

Langkah ini menunjukkan bahwa ekspor UMKM tidak cukup berhenti pada pameran. Pelaku usaha harus masuk ke proses pendampingan yang panjang, dari kurasi produk, penguatan modal, hingga digitalisasi agar siap menghadapi pasar yang jauh lebih kompetitif.

Wastra dan kriya jadi fokus utama

BI Jateng dan Dekranasda menempatkan wastra dan kriya sebagai sektor prioritas dalam pendampingan. Dua subsektor ini dianggap merepresentasikan kekayaan budaya dan identitas nusantara, sekaligus memiliki daya tarik di pasar nasional maupun internasional.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jateng Andi Reina Sari menilai produk Indonesia memang punya potensi besar. Namun, ia menekankan bahwa pelaku UMKM tetap harus berinovasi agar bisa mengikuti dinamika global yang terus berubah.

Jalur ekspor butuh pendampingan berlapis

Ketua Dekranasda Jateng Nawal Arafah Yasin menegaskan bahwa tembus pasar ekspor tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Ia menyebut proses itu panjang dan harus berkelanjutan, sehingga pendampingan kepada pelaku usaha perlu dilakukan dari hulu ke hilir.

Menurut Nawal, BI dan Dekranasda terus melakukan kurasi terhadap pelaku UMKM sebelum memberikan dukungan lanjutan. Setelah itu, akses permodalan dan digitalisasi disiapkan agar usaha bisa berkembang lebih luas dan lebih siap bersaing.

BI Jateng juga menempatkan pameran ini sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung pengembangan UMKM. Andi Reina Sari menyebut BI tidak bekerja sendiri, melainkan bersama dinas terkait dan Dekranasda untuk menggerakkan sektor ini secara lebih terarah.

Angka ekspor dan dukungan modal menguat

Data yang disampaikan menunjukkan komoditas kerajinan Jawa Tengah mencatat nilai ekspor sebesar 429,68 juta dolar AS pada periode tahun 2025. Tiga produk utama yang menonjol adalah kerajinan kayu, kerajinan anyaman, dan kerajinan berbasis kertas.

Dukungan pembiayaan juga disebut semakin kuat melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat atau KUR. Nawal menyampaikan bahwa penyaluran KUR di Jawa Tengah pada hari ini mencapai Rp361,36 triliun dengan 10,31 juta debitur, dan menjadi yang terbesar di Indonesia.

Besarnya pembiayaan itu memberi ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi. Di saat yang sama, pembiayaan saja tidak cukup tanpa inovasi produk dan kesiapan masuk ke rantai pasar yang lebih luas.

Pameran jadi pintu jejaring pasar baru

UMKM Grande 2026 berlangsung pada 7-11 Mei 2026 dan menghadirkan 90 pelaku UMKM unggulan dari berbagai sektor. Selain memamerkan produk, agenda ini juga menggelar business matching dengan calon pembeli dari luar negeri serta peragaan busana.

Format itu membuat pameran tidak hanya menjadi ruang promosi, tetapi juga tempat membangun jejaring dagang. Bagi pelaku UMKM, kesempatan berhadapan langsung dengan pembeli potensial menjadi langkah penting untuk memahami kebutuhan pasar ekspor.

Antusiasme publik jadi sinyal positif

Wakil Ketua II Dekranasda Pusat Sri Suparni Bahlil menilai antusiasme pengunjung sebagai sinyal positif bagi produk lokal. Ia menekankan bahwa inovasi tetap menjadi kunci utama agar produk UMKM dapat naik kelas dan diterima lebih luas, termasuk di pasar mancanegara.

Minat pengunjung bahkan terlihat dari aktivitas mencoba memahat kayu di area pameran. Bagi BI Jateng dan Dekranasda, perhatian publik seperti ini menjadi modal penting untuk memperkuat optimisme pelaku UMKM dalam menatap pasar yang lebih besar.

Source: jateng.antaranews.com

Baca Juga

Back to top button