BGN Lirik Kantin Sekolah Untuk Perluas MBG, Tanpa Bangun Dapur Baru

Badan Gizi Nasional atau BGN mulai melirik kantin sekolah sebagai salah satu cara memperluas Program Makan Bergizi Gratis atau MBG tanpa harus membangun dapur baru. Skema ini disiapkan untuk wilayah 3T, yakni tertinggal, terdepan, dan terluar, yang selama ini membutuhkan pendekatan lebih praktis dan efisien.

Pilihan itu muncul karena BGN ingin menekan beban anggaran APBN sekaligus mempercepat jangkauan layanan. Dengan memakai fasilitas yang sudah ada, program dinilai bisa bergerak lebih cepat ke daerah yang sulit dijangkau tanpa menunggu pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG baru.

Kantin sekolah jadi salah satu opsi utama

Kepala BGN Nanik S Deyang menegaskan bahwa lembaganya tidak harus selalu membangun dapur baru untuk memperluas MBG. Ia menyebut kantin sekolah sebagai salah satu fasilitas yang bisa langsung dimanfaatkan dalam skema pelaksanaan di lapangan.

Nanik mengatakan ada beberapa alternatif yang disiapkan untuk mengurangi beban anggaran negara. Menurut dia, prinsip utama BGN adalah memakai dapur yang sudah tersedia agar perluasan layanan lebih cepat berjalan.

Pendekatan ini juga memberi ruang bagi model pelaksanaan yang lebih sederhana di wilayah dengan akses terbatas. BGN menilai cara tersebut dapat membantu makanan bergizi menjangkau lebih banyak penerima manfaat di kawasan yang selama ini sulit dilayani.

Kolaborasi dibuka lebih luas

Selain kantin sekolah, BGN membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung MBG. Mitra yang disiapkan mencakup badan usaha milik negara, sektor swasta lewat program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, yayasan, dan lembaga lain.

Skema kolaborasi ini dipandang penting agar program tidak bergantung hanya pada fasilitas pemerintah. Dengan lebih banyak mitra, BGN berharap distribusi layanan bisa berjalan lebih cepat dan menjangkau wilayah yang lebih luas.

Pola kerja sama juga memberi fleksibilitas dalam menyesuaikan kondisi tiap daerah. Di wilayah 3T, pendekatan berbasis fasilitas lokal dinilai bisa menjadi jalan tengah antara kebutuhan layanan dan keterbatasan infrastruktur.

Kualitas makanan tetap dijaga

Di tengah dorongan efisiensi, BGN menegaskan mutu makanan tidak boleh turun. Setiap dapur yang terlibat dalam MBG diminta menghasilkan makanan yang aman, sehat, dan bergizi untuk para penerima manfaat.

Nanik menyampaikan bahwa pembenahan standar operasional, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan pengawasan menjadi agenda utama. BGN ingin perluasan program tetap berjalan seiring dengan jaminan kualitas yang konsisten.

Penegasan ini menunjukkan fokus BGN bukan hanya pada perluasan jangkauan. Lembaga itu juga menempatkan keamanan dan mutu pangan sebagai syarat utama dalam setiap layanan MBG.

Tata kelola ikut diperkuat

Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan penguatan program juga akan dilakukan lewat pembenahan tata kelola. Langkah yang disiapkan meliputi peningkatan sistem pengendalian internal, integrasi data, validasi informasi, dan pengembangan sistem yang lebih terstruktur.

Agustina menilai fondasi tata kelola yang kuat penting agar MBG berjalan transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Ia juga menyebut masukan dari sejumlah lembaga pengawas akan menjadi bagian dari penyempurnaan yang sedang dilakukan.

BGN menargetkan setiap kebijakan bisa ditopang oleh data yang valid. Karena itu, integrasi data dan sistem informasi menjadi salah satu titik tekan dalam penguatan program ke depan.

Sasaran program juga meluas ke kelompok 3B

BGN tidak hanya menyasar anak sekolah dan wilayah 3T. Lembaga itu juga memperkuat intervensi untuk kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Kelompok ini dipandang strategis karena terkait langsung dengan pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Dengan target yang lebih luas, manfaat program diharapkan terasa lebih besar di masyarakat.

Melalui pemanfaatan fasilitas yang sudah ada, pembukaan kerja sama lintas pihak, serta penguatan tata kelola, BGN berupaya memperluas MBG ke lebih banyak penerima manfaat di wilayah 3T. Di saat yang sama, lembaga itu tetap menjaga agar layanan berjalan efisien tanpa mengorbankan kualitas makanan dan pengawasan pelaksanaan.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version