BeeMa Honey mengubah madu lokal dari komoditas curah menjadi produk premium yang mulai menembus pasar luar negeri. Di balik pertumbuhan itu, ada rantai pasok yang ikut mengangkat posisi peternak lebah di sejumlah daerah.
Perusahaan ini berangkat dari keyakinan bahwa madu Indonesia punya kualitas yang kuat, tetapi belum mendapat tempat yang layak di pasar. Di saat yang sama, isu keaslian madu membuat konsumen semakin mencari produk yang benar-benar murni dan minim proses.
Mengincar pasar yang lebih percaya pada madu lokal
Pemilik BeeMa Honey, Fransisca Natalia Widowati, melihat jarak yang lebar antara potensi madu Nusantara dan pengenalan pasar terhadap produk lokal. Ia menilai masyarakat lebih akrab dengan madu impor, sementara madu Indonesia masih kalah menonjol di rak penjualan.
Karena itu, BeeMa Honey memilih fokus pada raw honey atau madu mentah yang diproses seminim mungkin agar kandungan alaminya tetap terjaga. Pendekatan ini menjadi pembeda utama di tengah dominasi produk impor di pasar domestik.
Berawal dari modal kecil, lalu tumbuh jadi usaha premium
BeeMa Honey didirikan pada 2017 dan resmi berbadan hukum sebagai perseroan terbatas pada 2019. Nama BeeMa diambil dari sosok Bima dalam pewayangan Jawa yang melambangkan kekuatan, kejujuran, dan integritas.
Usaha ini juga berangkat dari modal awal Rp20 juta yang dikumpulkan Fransisca bersama suaminya. Dari modal terbatas itu, BeeMa Honey berkembang hingga memiliki kapasitas produksi sekitar 25 ton per bulan.
Peternak lebah mendapat pembinaan dan pasar yang lebih pasti
Di sisi hulu, BeeMa Honey membina sekitar tiga kelompok peternak lebah yang tersebar di Sumatra, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Total peternak yang didampingi mencapai sekitar 30 orang.
Fransisca menilai banyak peternak lebah belum mendapat dukungan yang memadai dan kerap menjual madu curah dengan harga rendah. Akibatnya, posisi tawar mereka di pasar menjadi lemah.
BeeMa Honey lalu memberi pendampingan soal sustainable beekeeping, mulai dari teknik panen, penyimpanan madu, hingga pemahaman peran lebah sebagai agen penyerbuk bagi ekosistem pertanian. Perusahaan juga memberi kepastian pasar melalui kerja sama yang terstruktur.
Pendekatan itu ikut berdampak pada kesejahteraan peternak, dan sebagian di antaranya disebut mampu meningkatkan produksi hingga tiga kali lipat. Bagi BeeMa Honey, model ini bukan hanya soal pasokan, tetapi juga soal membangun usaha yang lebih sehat di tingkat lokal.
Panen lestari dan habitat lebah yang dijaga
Untuk madu hutan, BeeMa Honey mendorong praktik panen lestari dengan hanya mengambil sebagian hasil dan menyisakan sekitar 30% sarang. Cara ini membantu koloni lebah tetap berkembang tanpa harus memulai produksi dari awal setelah panen.
Komitmen keberlanjutan itu diperkuat lewat gerakan Save the Bees. BeeMa Honey menggandeng pemilik lahan organik bebas pestisida, termasuk BSP Farm di Bogor, untuk membangun bee sanctuary di kawasan Gunung Salak.
Di sana, BeeMa Honey mengembangkan stingless bee meliponini dan memproduksi Java Trigona, madu dari lebah klanceng yang dikenal memiliki kandungan antioksidan tinggi. Lebah dibiarkan hidup bebas tanpa gangguan di habitat yang disiapkan khusus.
Produk beragam, sertifikasi lengkap
Selain madu murni, BeeMa Honey juga memasarkan infused honey dalam beberapa varian, seperti coffee infused honey, madu infused jahe, dan madu infused cabai. Varian cabai ditujukan untuk konsumen yang menyukai rasa pedas tetapi ingin menghindari bahan kimia dan pengawet.
Produk-produk BeeMa Honey dijual dengan kisaran harga Rp110 ribu hingga Rp250 ribu. Perusahaan juga telah mengantongi sertifikat halal, Nomor Kontrol Veteriner atau NKV, izin edar BPOM untuk produk formula, dan sertifikasi HACCP.
BRI membuka jalan ke pasar ekspor
Perjalanan BeeMa Honey ke pasar yang lebih luas mendapat dorongan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Dukungan itu dimulai ketika Fransisca mengikuti program Brilianpreneur 2019 dan kemudian bergabung sebagai UMKM binaan BRI.
Melalui pembinaan dan Rumah BUMN, BeeMa Honey memperoleh akses promosi yang lebih luas dan kesempatan mengikuti pameran, termasuk Food & Hotel Asia di Singapura. Dari sana, perusahaan bertemu calon pembeli baru dan memperluas jangkauan pasar.
Saat ini Singapura menjadi pasar ekspor rutin BeeMa Honey dengan nilai transaksi sekitar Rp60 juta hingga Rp100 juta per bulan. Produk dipasarkan lewat distributor yang memasok hotel-hotel di negara tersebut.
Peluang Eropa masih tertahan aturan
Minat juga datang dari calon pembeli di Eropa, termasuk Bulgaria, Bosnia, dan Norwegia. Namun, peluang itu belum sepenuhnya berjalan karena Indonesia belum masuk daftar negara produsen madu yang diakui Uni Eropa.
Fransisca berharap Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU-CEPA dapat membuka jalan bagi ekspor ke pasar Eropa. Permintaan yang terus muncul menunjukkan madu Indonesia punya peluang besar jika hambatan administratif itu bisa diatasi.
Di pasar internasional, madu lebih sering diposisikan sebagai konsumsi harian, baik sebagai pemanis alami, campuran minuman, maupun pelengkap makanan. Pola konsumsi itu ikut mendorong permintaan global terhadap madu, sementara minat terhadap madu lokal di dalam negeri juga mulai tumbuh.
Source: mediaindonesia.com






