PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali melanjutkan program buyback saham dengan dana maksimal Rp 5 triliun. Langkah ini langsung menyita perhatian pasar karena muncul saat saham BBCA sedang menguat dan sektor perbankan kembali mendapat dorongan sentimen positif.
Aksi korporasi tersebut dibaca sebagai sinyal bahwa BCA masih percaya pada kekuatan fundamental bisnisnya. Di saat yang sama, program ini juga menunjukkan bahwa bank swasta terbesar di Indonesia itu ingin menjaga stabilitas persepsi pasar terhadap saham perseroan.
Buyback berjalan selama 12 bulan
Program pembelian kembali saham ini merupakan kelanjutan dari persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tahun buku 2025. Masa pelaksanaannya ditetapkan selama 12 bulan, mulai 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyebut buyback sebagai bentuk kepercayaan perusahaan terhadap pasar modal Indonesia. Ia menegaskan keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan kondisi fundamental perseroan secara matang.
Manajemen juga menempatkan kepatuhan terhadap regulasi pasar modal sebagai prioritas utama. BCA turut menyampaikan apresiasi kepada pemegang saham atas kepercayaan dan dukungan yang terus diberikan.
Penguatan BBCA terjadi di tengah sentimen bank besar
Kelanjutan buyback hadir bersamaan dengan penguatan sektor perbankan setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen. Pada penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026), saham BBCA tercatat menguat 9,71 persen ke level 5.650.
Kenaikan ini memberi konteks penting bagi langkah buyback yang sedang dijalankan. Pasar melihat saham bank-bank besar berada dalam fase pemulihan setelah sebelumnya mengalami koreksi yang cukup dalam.
Menurut Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, lonjakan harga saham perbankan saat ini mencerminkan proses pemulihan tersebut. Ia menilai arah pasar ke depan masih akan banyak dipengaruhi agenda global.
Faktor global masih menjadi perhatian investor
Elandry menyebut rapat FOMC The Fed pada 16-17 Juni 2026 sebagai salah satu sentimen yang perlu dicermati investor. Selain itu, proses rebalancing indeks global MSCI pada akhir Juni juga berpotensi ikut memengaruhi arah pasar.
Kombinasi buyback BCA, penguatan BBCA, dan sentimen global membuat perhatian investor tertuju pada perbankan besar. Dalam situasi seperti ini, buyback sering dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas kepercayaan pasar terhadap saham perusahaan.
Bagi BCA, program ini menjadi bagian dari strategi untuk menjaga performa bisnis tetap stabil dan berkelanjutan. Hendra Lembong menegaskan perseroan akan terus melangkah pruden pada 2026 sambil tetap berfokus pada kekuatan fundamental bisnis.







