Sel baterai sodium-ion mulai keluar dari bayang-bayang statusnya sebagai alternatif cadangan. Dalam pengujian pada sel komersial, teknologi ini bisa diisi ulang sekitar 15 menit sambil menjaga keseragaman produksi yang kuat.
Temuan itu membuat sodium-ion terdengar semakin relevan di tengah pasar baterai yang selama ini didominasi lithium-ion. Bukan hanya soal kecepatan isi ulang, tetapi juga soal biaya bahan baku yang lebih murah dan pasokan yang lebih melimpah.
Kinerja cepat dari sel komersial
Tim peneliti di Jerman memeriksa 120 sel sodium-ion dari perusahaan China HiNa. Mereka menggunakan impedance spectroscopy, pengujian suhu, sinar-X, dan analisis pembongkaran untuk menilai keseragaman dan daya tahan sel secara menyeluruh.
Hasilnya menunjukkan variasi resistansi internal hanya 5,3% di antara 120 sel. Angka ini menandakan proses produksi yang sangat terkendali, sementara sel tetap mempertahankan kapasitas penuh saat diisi dengan laju cepat yang memungkinkan baterai penuh dalam sekitar 15 menit.
Masih cukup kuat di cuaca dingin
Studi itu juga memberi sinyal positif untuk performa suhu rendah. Saat sel diisi pada suhu mendekati suhu ruangan, baterai masih menghasilkan lebih dari 80% energi yang bisa dipakai pada minus 4 derajat.
Meski begitu, output tetap turun ketika pengisian dilakukan dalam kondisi beku. Moritz Schütte, peneliti baterai di RWTH Aachen University yang ikut memimpin studi, menilai aplikasi yang membutuhkan pengisian rutin di suhu ambien rendah akan memerlukan manajemen termal atau strategi operasi yang tepat.
Kenapa sodium-ion mulai dipertimbangkan serius
Untuk kendaraan yang membutuhkan jarak tempuh jauh, lithium-ion masih menjadi patokan karena mampu menyimpan lebih banyak energi per paket baterai. Namun, sodium-ion punya keunggulan lain yang sulit diabaikan, yaitu bahan baku yang murah, melimpah, dan tersedia luas di seluruh dunia.
Karakter itu berpotensi menekan biaya baterai dan mengurangi tekanan rantai pasok yang selama ini terkait dengan penambangan serta pengolahan lithium. Jika penghematan itu menular ke produk akhir, sodium-ion bisa membuka jalan bagi mobil listrik yang lebih terjangkau, terutama untuk penggunaan harian di area komuter dan perjalanan kota.
Teknologi ini juga dinilai cocok untuk penyimpanan listrik stasioner. Aplikasinya mencakup penyimpanan tenaga surya, stabilisasi jaringan listrik, dan pasokan cadangan saat pemadaman atau cuaca ekstrem.
Ada kompromi pada jarak tempuh
Keterbatasan utama sodium-ion masih ada pada jangkauan. Mengacu pada angka International Energy Agency yang dikutip SingularityHub, SUV sodium-ion diperkirakan menempuh sekitar 215 mil, dibandingkan sekitar 250 hingga 370 mil untuk model lithium-ion yang sebanding.
Schütte menilai kombinasi keseragaman yang baik, kemampuan daya tinggi, dan performa suhu rendah yang kuat membuat sel ini menarik untuk penyimpanan stasioner, layanan jaringan, serta kendaraan jarak pendek atau komersial. Di skenario seperti itu, biaya yang lebih rendah dan ketersediaan sumber daya bisa lebih penting daripada jarak tempuh maksimal.
Industri mulai bergerak lebih cepat
Meski masih punya batasan, sejumlah perusahaan tampaknya tidak ingin menunggu terlalu lama. Bloomberg melaporkan CATL, produsen baterai terbesar di dunia, berencana memproduksi massal sel ini menjelang akhir tahun.
Gao Huan, chief technology officer CATL, menyebut era ketika sodium dan lithium bersinar bersama sudah tiba. Pernyataan itu memperkuat sinyal bahwa sodium-ion tidak lagi dipandang sebagai opsi pinggiran, melainkan bagian dari persaingan nyata di pasar baterai yang lebih luas.
