TOTON membawa panggung mode ke wilayah yang lebih dekat dengan ritual, waktu, dan tafsir budaya lewat koleksi KALA. Sorotan terbesar justru datang dari instalasi raksasa yang mengiringi presentasi itu, sebuah karya yang lahir dari tradisi ogoh-ogoh Bali.
Instalasi tersebut tidak sekadar menjadi latar visual. Karya ini merangkum gagasan tentang Batara Kala dalam mitologi Jawa dan Bali, lalu diubah menjadi bentuk yang kuat, mudah dibongkar, dan bisa dipasang ulang dalam waktu singkat.
Kolaborasi yang berawal dari unggahan Instagram
Seniman Bali Ida Bagus Nyoman Surya Wigenem atau Gusman Surya mengaku tak menyangka ogoh-ogohnya yang berjudul “Sedap Malam” menarik perhatian Toton Januar. Dari unggahan itu, kolaborasi untuk menghadirkan Batara Kala pun berkembang menjadi instalasi besar untuk koleksi KALA.
Gusman Surya menyebut ketertarikannya datang karena proyek ini membuka ruang baru bagi ogoh-ogoh untuk masuk ke dunia fashion. Ia mengatakan kolaborasi itu terasa menantang karena seni tradisi harus bertemu dengan kebutuhan panggung yang sangat terukur.
Waktu menjadi tema utama koleksi
Toton memandang waktu bukan sebagai ancaman, melainkan kekuatan yang terus mendorong perubahan. Sosok Batara Kala yang kerap diasosiasikan dengan kehancuran dan kematian dipakai sebagai pengingat bahwa setiap akhir juga membuka ruang bagi harapan baru.
Gagasan itu diterjemahkan lewat simbol yang sederhana namun tegas. Kaki dimaknai sebagai langkah manusia menuju masa depan, sedangkan mata menjadi lambang cara manusia membaca perubahan yang tak pernah berhenti.
Instalasi besar yang harus selesai dalam 5 jam
Di balik tampilannya yang monumental, instalasi ini menuntut perhitungan teknis yang ketat. Akses menuju lokasi yang terbatas membuat desain harus sejak awal disiapkan agar bisa dibongkar, dikirim, lalu dirakit kembali dengan cepat.
Seluruh persiapan memakan waktu berbulan-bulan, sementara pengerjaan fisiknya berlangsung sekitar 1,5 bulan. Namun saat pemasangan di lokasi, tim hanya diberi waktu 5 jam untuk menyelesaikan instalasi tanpa mengganggu jadwal acara.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Nama koleksi | KALA |
| Inspirasi | Batara Kala dalam mitologi Jawa dan Bali |
| Kolaborator instalasi | Ida Bagus Nyoman Surya Wigenem |
| Waktu pemasangan | 5 jam |
| Durasi pengerjaan | 1,5 bulan |
Tradisi Bali, tapi dibuat lebih aman untuk dibongkar
Batara Kala juga membawa semangat yang hidup dalam tradisi pembuatan ogoh-ogoh di Bali. Struktur utamanya memakai besi sebagai tulang, lalu bambu dianyam sebagai rangka sebelum dilapisi kertas dan finishing tahan air.
Pendekatan itu tetap menjaga teknik tradisional sekaligus mengurangi material yang sulit terurai. Gusman Surya juga menegaskan bahwa material yang dipakai aman ketika karya tak lagi digunakan karena tidak memakai bahan seperti styrofoam.
Tradisi itu sendiri menunjukkan perubahan bahan dari masa ke masa. Jika dulu perajin memanfaatkan koran bekas dan kertas semen, kini bahan tersebut diganti dengan kertas pembungkus kargo atau kertas samson karena ketersediaannya makin terbatas.
Kolaborasi ini mempertemukan idealisme seni dan kebutuhan panggung mode. Gusman Surya mengatakan proporsi, warna, komposisi, dan aksesori dibahas intens selama proses pengerjaan, sementara Toton baru melihat hasil akhir saat instalasi berdiri di lokasi karena seluruh pekerjaan dilakukan di Gianyar.
Busana KALA ikut membawa semangat keberlanjutan
Semangat yang sama hadir dalam busana KALA. TOTON memadukan katun, organza, lace, tulle, satin, dan denim dengan berbagai teknik manipulasi tekstil serta pengerjaan tangan yang menjadi ciri rumah mode tersebut.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga ditekankan lewat penggunaan material daur ulang dan daur naik. Dengan begitu, presentasi ini tidak hanya menampilkan koleksi mode, tetapi juga dialog antara tradisi Bali, simbol waktu, dan pendekatan material yang lebih bertanggung jawab.
