Barito Pacific Cetak US$271 Juta, TPIA Balik Untung dan Jadi Mesin Utama Grup

Barito Pacific membuka kuartal pertama 2026 dengan perubahan kinerja yang sangat kuat. Emiten energi terintegrasi ini membukukan laba bersih konsolidasi setelah pajak sebesar US$271 juta, ditopang oleh lonjakan tajam di bisnis petrokimia.

Pendorong utamanya datang dari PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), anak usaha Barito Pacific, yang berhasil berbalik dari rugi menjadi laba. Perubahan itu langsung mengangkat hasil konsolidasi grup pada periode tiga bulan pertama tahun ini.

TPIA jadi mesin utama pembalik keadaan

Pada kuartal pertama 2026, TPIA mencatat laba bersih US$146,13 juta atau setara Rp2,54 triliun. Setahun sebelumnya, pada periode yang sama, perusahaan masih membukukan kerugian US$25,64 juta.

Kenaikan laba itu berjalan seiring dengan lonjakan pendapatan yang sangat agresif. Pendapatan TPIA naik 286,40 persen secara tahunan menjadi US$2,40 miliar atau sekitar Rp41,77 triliun.

Lonjakan tersebut menunjukkan betapa besar peran bisnis petrokimia dalam memperbaiki kinerja Barito Pacific. Di tengah skala usaha yang luas, kontribusi TPIA menjadi penentu paling menonjol pada awal tahun ini.

Penjualan domestik dan ekspor sama-sama menguat

Berdasarkan data Databoks, pendapatan TPIA ditopang oleh penjualan energi dan kimia di pasar domestik. Kontribusi domestik masing-masing tercatat sebesar US$2,56 juta untuk energi dan US$338,44 juta untuk kimia.

Di pasar luar negeri, penjualan energi menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$1,45 miliar. Sementara itu, penjualan kimia di luar negeri mencapai US$548,13 miliar.

Komposisi itu memperlihatkan bahwa pemulihan TPIA tidak hanya bertumpu pada satu pasar. Kinerja domestik dan ekspor sama-sama bergerak kuat dan mendorong kenaikan pendapatan secara keseluruhan.

Aset tetap besar di tengah ekspansi laba

Hingga 31 Maret 2026, total aset TPIA berada di level US$12,51 miliar. Nilai itu naik 1,51 persen dibandingkan posisi akhir 2025.

Struktur aset tersebut terdiri dari liabilitas sebesar US$7,65 miliar dan total ekuitas senilai US$4,86 miliar. Komposisi itu menunjukkan skala bisnis yang tetap besar di tengah pertumbuhan pendapatan dan laba yang cepat.

Bagi Barito Pacific, kekuatan TPIA menjadi penopang yang paling terlihat dalam laporan kinerja terbaru. Emiten ini memperoleh dorongan signifikan dari unit usaha yang mampu membalik kerugian menjadi keuntungan besar.

Portofolio Barito Pacific meluas di luar petrokimia

Di luar bisnis petrokimia, Barito Pacific juga mengoperasikan tiga aset panas bumi dengan total kapasitas terpasang sekitar 885 megawatt. Portofolio ini menegaskan posisi perusahaan di sektor energi terintegrasi yang lebih luas.

Perusahaan milik Prajogo Pangestu itu juga memiliki aset properti melalui PT Griya Idola. Salah satu aset yang dikelola adalah Wisma Barito Pacific di Slipi, Jakarta Barat.

Segmen bisnis Barito Pacific mencakup pengelolaan gedung dan hotel, sumber daya energi, hingga produk hulu dan hilir industri plastik. Produk yang dihasilkan meliputi etilen, propilen, polietilen, dan polipropilen untuk kebutuhan industri manufaktur.

Dengan kombinasi bisnis energi, properti, dan petrokimia, Barito Pacific memiliki basis usaha yang beragam. Namun pada awal 2026, sorotan terbesar tetap tertuju pada TPIA yang menjadi mesin utama pembalik keadaan grup.

Terkait