Barcelona Raup Rp 4,1 Triliun dari Merchandise, Cara Mandirinya Mengungguli Real Madrid

Barcelona sedang menunjukkan bahwa kekuatan finansial di sepak bola modern tidak selalu datang dari hak siar atau transfer pemain. Dari penjualan jersey dan merchandise resmi, klub asal Catalunya itu membukukan pendapatan 200 juta Euro atau setara Rp 4,1 triliun sepanjang musim 2025/26.

Capaian itu membuat bisnis komersial Barcelona melompat jauh dan bahkan melampaui gabungan pendapatan 15 klub pesaing di LaLiga. Angka tersebut juga menegaskan bahwa merchandise kini bukan sekadar produk pelengkap, melainkan sumber uang utama yang langsung menggerakkan kas klub.

Kontrak baru dan jaringan penjualan yang makin luas

Lonjakan pendapatan Barcelona tidak muncul secara kebetulan. Salah satu pendorong terbesarnya datang dari kontrak baru dengan apparel Nike yang sudah diteken sejak 2024.

Klub juga memperkuat jalur penjualan lewat platform e-commerce. Di saat yang sama, Barcelona menambah jaringan toko resmi agar produk klub lebih mudah dijangkau para penggemar.

Saat ini, Barcelona mengoperasikan 21 toko fisik. Keberadaan jaringan itu memberi ruang lebih besar untuk penjualan langsung, baik untuk jersey maupun merchandise resmi lainnya.

Lamine Yamal jadi magnet penjualan

Di antara semua produk yang dipasarkan, jersey dengan nama Lamine Yamal menjadi yang paling laris. Popularitas pemain muda itu ikut mendorong minat suporter untuk membeli produk resmi klub.

Fenomena tersebut memperlihatkan hubungan yang sangat dekat antara daya tarik pemain dan pemasukan komersial. Barcelona berhasil mengubah sorotan terhadap skuad mudanya menjadi kekuatan bisnis yang nyata.

Kondisi ini juga menunjukkan bahwa performa lapangan dan nilai pasar pemain bisa memberi dampak langsung ke kas klub. Dalam kasus Barcelona, daya jual skuad muda ikut mengangkat bisnis retail ke level yang jauh lebih tinggi.

Model mandiri jadi pembeda dari Real Madrid

Keuntungan komersial Barcelona dari merchandise kini berada di atas Real Madrid. Salah satu alasan utamanya adalah keputusan manajemen Blaugrana untuk mengelola Barca Licensing & Merchandising atau BLM secara langsung.

Model itu membuat keuntungan penjualan masuk penuh ke kas internal klub. Real Madrid mengambil jalur berbeda karena bisnis ritelnya dijalankan melalui kemitraan dengan pihak Legends.

Perbedaan pengelolaan ini memberi Barcelona ruang lebih besar untuk menikmati hasil penjualan secara langsung. Dalam konteks finansial, strategi mandiri tersebut menjadi nilai tambah yang sangat signifikan.

Keunggulan ini bukan hanya soal besarnya angka pendapatan, tetapi juga soal kontrol atas bisnis. Dengan mengelola sendiri operasi retail, Barcelona punya posisi lebih kuat untuk memaksimalkan margin dan mempercepat aliran pemasukan.

Rekor baru meski stadion belum pulih total

Barcelona tetap mencetak rekor komersial baru meski fasilitas stadion mereka belum sepenuhnya beroperasi kembali secara total. Situasi itu menunjukkan bahwa mesin bisnis klub tetap berjalan kuat di luar aktivitas pertandingan.

Pencapaian BLM menegaskan pentingnya sektor retail bagi stabilitas finansial Barcelona secara keseluruhan. Di tengah tekanan finansial yang kerap menghampiri klub besar, penjualan merchandise kini berubah menjadi salah satu aset paling bernilai bagi Blaugrana.

Terkait