Bank Pelat Merah Kian Agresif Buka Cabang, Swasta Justru Rampingkan Jaringan

Peta jaringan bank di Indonesia sedang bergeser. Saat bank swasta nasional menutup dan merelokasi cabang, bank pelat merah justru menambah kantor fisik lebih agresif.

Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan jumlah kantor bank umum pada kuartal I/2026 tetap 3.407 unit, sama seperti periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, di balik angka total yang stabil itu, komposisi jaringan antarkelompok bank berubah cukup jelas.

Bank BUMN Paling Gencar Menambah Jaringan

Kelompok bank persero menjadi yang paling ekspansif pada periode tersebut. Jumlah kantor bank milik negara naik 12,58% secara tahunan menjadi 1.083 unit pada kuartal I/2026, dari 962 unit pada kuartal I/2025.

Bank Pembangunan Daerah juga masih menambah jaringan, meski dalam laju yang jauh lebih tipis. Jumlah kantornya naik 0,44% menjadi 686 unit.

Kelompok BankKantor Kuartal I/2025Kantor Kuartal I/2026Perubahan YoY
Bank Persero9621.083+12,58%
BPD683686+0,44%
Bank Swasta Nasional1.7371.615-7,02%
Bank Berkedudukan di Luar Negeri2523-8%

Berbeda dengan itu, bank swasta nasional terus mengurangi jaringan fisiknya. Jumlah kantor kelompok ini turun 7,02% secara tahunan menjadi 1.615 unit dari 1.737 unit pada kuartal I/2025.

Penurunan juga terjadi pada kantor cabang bank yang berkedudukan di luar negeri. Jumlahnya menyusut dari 25 unit menjadi 23 unit, atau turun 8% secara tahunan.

Swasta Memilih Digital, Cabang Dibuka Secara Selektif

Perubahan arah ini sejalan dengan kebiasaan nasabah yang makin banyak beralih ke layanan digital. Karena itu, bank swasta nasional cenderung mengoptimalkan jaringan yang ada sambil mempercepat transformasi teknologi.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan mengatakan perseroan memiliki 386 kantor cabang, dengan sebagian kecil berupa kantor cabang digital maupun hybrid. Ia menegaskan pembukaan cabang tidak lagi menjadi fokus utama karena perilaku nasabah sudah banyak bergeser ke kanal digital.

“Kami menutup, merelokasi, dan membuka kantor cabang sesuai kebutuhan nasabah,” ujar Lani kepada Bisnis, Senin (13/7/2026).

Pendekatan serupa ditempuh PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Direktur Community Financial Services Maybank Indonesia Bianto Surodjo menyebut perkembangan teknologi, digitalisasi, dan tingginya ketergantungan masyarakat pada gawai mendorong perseroan memperkuat investasi teknologi dan layanan digital.

Bianto menilai kondisi itu membuat relevansi kantor cabang semakin berkurang. Karena itu, Maybank Indonesia melakukan peninjauan terhadap cabang-cabang yang lokasinya berdekatan dan wilayah sekitarnya lebih memilih kanal digital daripada datang ke cabang.

Cabang Fisik Masih Punya Peran

Meski digitalisasi makin dominan, perluasan jaringan fisik belum kehilangan fungsi sepenuhnya. Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Trioksa Siahaan menilai setiap bank memiliki strategi berbeda sesuai target bisnis masing-masing.

Menurut Trioksa, penambahan kantor cabang masih diharapkan dapat mendorong pertumbuhan bisnis, termasuk penghimpunan dana pihak ketiga. Namun, strategi itu kini perlu berjalan beriringan dengan penguatan layanan digital agar hasilnya lebih efektif.

“Untuk penghimpunan DPK, di samping penambahan cabang, penguatan fungsi digitalisasi juga memegang peranan sehingga dapat memperluas inklusi perbankan,” ujar Trioksa kepada Bisnis, Senin (13/7/2026).

Trioksa memperkirakan persaingan memperebutkan dana masyarakat akan semakin ketat di tengah tren kenaikan suku bunga. Dalam situasi itu, bank akan berlomba menawarkan produk simpanan yang lebih kompetitif.

Ia juga menilai kombinasi jaringan fisik dan kanal digital akan menjadi pembeda antarabank. Kantor cabang masih unggul di daerah yang masyarakatnya lebih mengandalkan layanan tatap muka atau wilayah dengan infrastruktur digital yang belum memadai.

Di sisi lain, layanan digital tetap menjadi tulang punggung operasional perbankan di kawasan perkotaan, terutama kota-kota besar. Perilaku nasabah di wilayah ini dinilai lebih mengutamakan kemudahan dan kecepatan transaksi.

“Jadi, terlepas dari segmen, kantor fisik masih dibutuhkan untuk di daerah yang karakteristik masyarakat masih mengandalkan layanan fisik dan jaringan juga belum optimal sementara perbankan digital memegang peranan di daerah perkotaan khususnya kota besar,” pungkasnya.

Source: finansial.bisnis.com
Terkait