Ban Truk Bertekanan hingga 200 PSI, Posisi Motor di Sisinya Bisa Sangat Berisiko

Pengendara sepeda motor perlu memberi jarak lebih saat melintas di samping kendaraan besar, terutama dekat area roda belakang. Pecahnya ban truk bukan hanya dapat melempar serpihan, tetapi juga memunculkan suara ledakan keras yang berpotensi memicu reaksi mendadak.

Risiko itu berkaitan dengan tekanan udara ban kendaraan besar yang jauh melampaui tekanan ban kendaraan biasa. Pada truk, tekanan ban rata-rata disebut dapat berada pada rentang 150 hingga 200 PSI.

Ledakan Ban Bisa Mengganggu Kendali Motor

Serpihan ban dapat membahayakan pengendara yang berada terlalu dekat ketika ban mengalami kegagalan. Selain itu, suara ledakan yang tiba-tiba berisiko membuat pengendara terkejut dan kehilangan fokus dalam mengendalikan motor.

Reaksi spontan seperti mengerem mendadak atau membanting setang dapat mengganggu stabilitas sepeda motor. Dalam kondisi lalu lintas cepat, gerakan mendadak tersebut dapat meningkatkan risiko pengendara terjatuh atau terpental.

Karena itu, posisi motor di sisi truk tidak boleh dipertahankan terlalu lama. Pengendara perlu memastikan tersedia ruang yang cukup untuk menghindar apabila terjadi situasi darurat di sekitar kendaraan besar.

Tekanan Ban Bus dan Truk Berbeda

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan DIY, Bambang Widjanarko, menjelaskan tekanan angin ban kendaraan besar dapat membahayakan orang di sekitarnya saat terjadi ledakan. Ia menyebut tekanan rata-rata ban bus berada di bawah tekanan ban truk.

Jenis KendaraanTekanan Ban Rata-rataRisiko Saat Pecah
Bus120-130 PSIBerbahaya bagi orang di sekitar
Truk150-200 PSISerpihan dan suara ledakan dapat mengganggu pengendara

Bambang menyatakan, “Tekanan angin rata-rata ban bus adalah 120-130 Psi. Sementara tekanan angin rata-rata ban truk adalah 150-200 Psi.”

Perbedaan tekanan tersebut menjadi alasan pengendara motor perlu meningkatkan kewaspadaan ketika berbagi jalan dengan bus maupun truk. Bahaya tidak hanya datang dari kendaraan yang bergerak, melainkan dari kemungkinan kegagalan ban yang sulit diprediksi.

Hindari Sejajar dengan Roda Belakang

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengingatkan agar pengendara motor tidak terlalu dekat atau terlalu lama sejajar dengan roda belakang truk. Area ini juga dikenal sebagai blind spot, sehingga pengendara berisiko sulit terlihat oleh pengemudi kendaraan besar.

Berada sejajar dengan roda belakang membuat pengendara lebih dekat dengan titik yang paling rentan mengirim serpihan saat ban pecah. Posisi tersebut juga mempersempit waktu dan ruang untuk bereaksi apabila kendaraan besar mengalami masalah mendadak.

Menjaga kecepatan tetap stabil dapat membantu pengendara membuat keputusan lebih aman saat berada di sekitar truk. Bila kondisi jalan memungkinkan, pengendara disarankan mendahului dengan aman daripada bertahan lama di sisi kendaraan besar.

Manuver mendahului perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi lalu lintas dan jarak yang tersedia. Pengendara sebaiknya tidak memaksakan diri masuk ke ruang sempit di antara truk, kendaraan lain, atau pembatas jalan.

Jarak Aman Memberi Ruang Menghindar

Jarak aman memberi pengendara motor kesempatan untuk menghindari serpihan maupun melakukan pengereman secara lebih terkendali. Ruang ini menjadi penting karena pecah ban dapat terjadi mendadak tanpa mudah diperkirakan dari posisi pengendara lain.

Menurut Bambang, ban pada kendaraan apa pun tetap berpotensi mengalami kegagalan di berbagai tempat. Risiko tersebut bahkan dapat ada ketika kendaraan sedang tidak digunakan atau berada di dalam garasi.

Kewaspadaan perlu ditingkatkan saat melaju di jalan tol dan jalur arteri yang memiliki kecepatan lalu lintas lebih tinggi. Dalam situasi padat, memilih menjaga jarak dari sisi roda belakang truk lebih aman daripada mempertahankan posisi di area rawan.

Kebiasaan menjaga jarak, menghindari posisi sejajar terlalu lama, dan mendahului secara aman dapat mengurangi paparan risiko bagi pengendara motor. Langkah sederhana ini juga membantu pengendara tetap memiliki ruang untuk bereaksi saat kondisi di jalan berubah tiba-tiba.

Source: otomotif.kompas.com
Terkait