ASEAN kembali menekan Myanmar untuk memberi akses langsung kepada Aung San Suu Kyi setelah pemerintah militer menyebut mantan pemimpin itu dalam kondisi sehat. Bagi sejumlah negara anggota, penjelasan itu belum cukup tanpa verifikasi langsung dari utusan khusus ASEAN.
Isu ini mengemuka dalam pertemuan informal para menteri luar negeri ASEAN di Bangkok, yang untuk pertama kalinya digelar sejak kudeta 2021. Pertemuan itu juga dimaksudkan untuk menghidupkan kembali upaya damai yang selama lima tahun belum berhasil menghentikan perang saudara di Myanmar.
ASEAN Ingin Kepastian Soal Suu Kyi
Menurut Menlu Filipina Maria Theresa Lazaro, yang juga merangkap utusan khusus ketua ASEAN untuk Myanmar, Menlu Myanmar menyampaikan bahwa Aung San Suu Kyi dalam keadaan sehat dan akan dirawat dengan baik. Lazaro mengutip pernyataan itu dalam pertemuan di Bangkok pada Minggu (12/7).
Namun, ASEAN belum puas hanya dengan penjelasan verbal tersebut. Menlu Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan Menlu Myanmar Tin Maung Swe menerima banyak pertanyaan tentang kondisi Suu Kyi dan penting agar utusan khusus ASEAN bisa bertemu langsung dengannya.
Akses itu dianggap penting untuk memverifikasi keterangan pihak Myanmar, mengingat lokasi keberadaan Suu Kyi masih tidak diketahui. Lazaro sebelumnya hanya menyebut bahwa ia telah dipindahkan ke lokasi yang telah ditentukan, tanpa rincian lebih lanjut.
Status Politik Suu Kyi Masih Membayangi
Aung San Suu Kyi kini berusia 81 tahun dan telah ditahan sejak pemerintah terpilih yang dipimpinnya digulingkan lewat kudeta militer pada 2021. Ia saat ini menjalani hukuman 27 tahun penjara setelah vonisnya baru-baru ini dipotong sepertiga.
Hukuman tersebut dijatuhkan atas sejumlah perkara, termasuk penghasutan, korupsi, kecurangan pemilu, dan pelanggaran undang-undang rahasia negara. Pendukung Suu Kyi menilai dakwaan itu direkayasa untuk menyingkirkannya dari panggung politik, sementara ia membantah melakukan pelanggaran.
Singapura Tekan Kemajuan Nyata
Singapura menjadi salah satu negara yang paling tegas menyoroti lambatnya pelaksanaan Five-Point Consensus atau Konsensus Lima Poin. Dalam pernyataan setelah pertemuan, Kementerian Luar Negeri Singapura menegaskan Myanmar tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ASEAN dan diharapkan bisa kembali damai, stabil, serta sejahtera.
Vivian Balakrishnan, Menlu Singapura yang hadir dalam pertemuan itu, menulis di Facebook bahwa pembicaraan berlangsung terbuka dan konstruktif. Ia juga menegaskan konsensus tersebut masih berlaku dan tetap relevan bagi penyelesaian krisis Myanmar.
| Isu Utama | Posisi ASEAN | Keterangan |
|---|---|---|
| Keberadaan Aung San Suu Kyi | Ingin verifikasi langsung | Utusan khusus ketua ASEAN diminta diberi akses bertemu Suu Kyi |
| Konflik Myanmar | Butuh kemajuan nyata | Fokus pada penghentian kekerasan dan dialog yang konstruktif |
| Tahanan politik dan bantuan | Diminta dibuka | Mencakup pembebasan tahanan politik dan distribusi bantuan kemanusiaan |
Menurut Singapura, para menteri luar negeri ASEAN ingin melihat kemajuan nyata dalam tiga bidang utama. Tiga bidang itu adalah penghentian kekerasan secara permanen, terutama terhadap warga sipil, pembebasan seluruh tahanan politik termasuk Aung San Suu Kyi, serta penyaluran bantuan kemanusiaan oleh Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan dalam Penanggulangan Bencana ke seluruh wilayah Myanmar yang membutuhkan.
Konflik di Myanmar disebut telah menewaskan sekitar 100.000 orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi. Para pemimpin Myanmar juga dilarang menghadiri pertemuan tingkat tinggi ASEAN sejak militer merebut kekuasaan karena gagal menjalankan Konsensus Lima Poin yang sudah disepakati bersama blok tersebut.
Sejak April, Myanmar dipimpin oleh pemerintahan sipil secara nominal setelah pemilu digelar pada awal tahun ini. Mantan panglima militer Min Aung Hlaing kini menjabat sebagai presiden dan berupaya menormalisasi hubungan Myanmar dengan ASEAN.
Dalam pertemuan itu, ASEAN kembali menegaskan dukungan penuh agar utusan khusus ketua ASEAN untuk Myanmar diizinkan menemui seluruh pihak terkait. Kementerian Luar Negeri Singapura juga menyebut Vivian mengadakan pertemuan terpisah dengan Menlu Myanmar dan sejumlah pemangku kepentingan lain sebagai bagian dari langkah Singapura menjelang perannya sebagai ketua ASEAN berikutnya.
Source: www.liputan6.com






