Iran Ancam Balas Negara Pendukung Serangan AS, Ketegangan di Teluk Persia Memanas

Iran mengirim peringatan keras kepada negara mana pun yang mengizinkan wilayah atau fasilitasnya dipakai untuk menyerang Teheran. Jika itu terjadi, Iran menyebut negara tersebut bisa dianggap ikut dalam agresi dan menjadi target sah operasi pertahanan angkatan bersenjatanya.

Sikap itu muncul di tengah eskalasi terbaru dengan Amerika Serikat, setelah gelombang serangan militer menghantam sejumlah wilayah di Iran. Teheran menilai operasi tersebut bukan sekadar aksi militer, tetapi juga pelanggaran mencolok terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Teheran Menekan PBB dan Menolak Serangan AS

Kementerian Luar Negeri Iran mendesak PBB untuk meminta pertanggungjawaban Washington atas serangan tersebut. Iran juga mengkritik Sekretariat PBB karena dianggap belum memberikan respons yang memadai terhadap perkembangan itu.

Dalam pernyataannya, Teheran meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Dewan Keamanan PBB segera mengambil langkah tegas. Iran menilai operasi militer AS jelas bertentangan dengan hukum internasional dan Piagam PBB.

Korban Jatuh di Khuzestan

Serangan udara AS turut menimbulkan korban jiwa di Iran. Seorang petugas keamanan tewas dan empat orang lainnya terluka setelah sebuah stasiun pompa air pertanian di Mahshahr, Provinsi Khuzestan, dihantam pada Senin pagi.

Wakil Gubernur Khuzestan Valiollah Hayati mengatakan korban tewas berada di lokasi saat serangan terjadi. Empat korban lain masih menjalani perawatan medis, meski tingkat keparahan luka mereka tidak dijelaskan.

LokasiPeristiwaDampak
Mahshahr, KhuzestanStasiun pompa air pertanian dihantam serangan udara1 petugas keamanan tewas, 4 orang terluka
Bandar Abbas, Sirik, Pulau Qeshm, Jask, Bushehr, KanganSerangan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah selatan IranRangkaian serangan udara AS

Menurut Mehr News Agency, serangan di Khuzestan merupakan bagian dari gelombang operasi udara terbaru AS ke sejumlah wilayah di Iran selatan. Selain Mahshahr, serangan juga dilaporkan terjadi di Bandar Abbas, Sirik, Pulau Qeshm, Jask, Bushehr, dan Kangan.

Target AS dan Klaim Centcom

Komando Pusat Amerika Serikat atau Centcom menyatakan operasi itu bertujuan semakin melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang pelaut sipil dan kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Pada Sabtu waktu setempat, militer AS mengumumkan telah menyerang sekitar 140 target militer Iran.

Target tersebut dihantam menggunakan amunisi presisi dari pesawat tempur, drone, dan kapal perang yang beroperasi di darat maupun laut. Sasaran yang disebut mencakup lokasi peluncuran rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, fasilitas penyimpanan amunisi, jaringan komunikasi, hingga lokasi pengawasan pantai.

Centcom kemudian menyebut selama tiga hari operasi militer dalam sepekan terakhir, pasukan Amerika Serikat telah menghantam lebih dari 300 target di berbagai wilayah Iran. Rangkaian operasi itu menandai eskalasi yang makin tajam antara dua negara di kawasan Teluk Persia.

Muscat dan Kekhawatiran Konflik Meluas

Di tengah memanasnya situasi, Iran juga membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump soal hasil pembicaraan yang sebelumnya berlangsung di Muscat, Oman. Teheran menyebut klaim itu sebagai kebohongan total dan menegaskan pembahasan saat itu hanya menyangkut pengaturan pengelolaan Selat Hormuz serta keamanan jalur pelayaran internasional.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan kekhawatiran mendalam atas konfrontasi militer tersebut. Ia memperingatkan bahwa eskalasi yang terus berlanjut dapat berdampak serius pada keamanan Timur Tengah dan stabilitas global.

Dengan ancaman balasan terhadap negara yang membantu serangan AS, konflik Iran dan Amerika Serikat kini merembet lebih jauh dari sekadar target militer. Ketegangan itu juga ikut menyentuh ruang diplomatik, jalur pelayaran, dan kalkulasi keamanan di seluruh kawasan.

Source: www.beritasatu.com
Terkait