BYD menegaskan kebakaran di area pabriknya di Subang, Jawa Barat, bukan insiden besar seperti yang sempat ramai di media sosial. Perusahaan menyebut kejadian pada 3 Juni 2026 itu hanya berdampak pada sebagian kecil bagian atap dan tidak mengganggu pembangunan maupun persiapan operasional fasilitas produksi.
Asal asap yang terlihat pekat itu juga akhirnya dijelaskan secara lebih rinci. Menurut Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, material yang terbakar adalah bahan berbasis plastik dan karet, sehingga asap tampak tebal meski skala kebakarannya kecil.
Pemadaman cepat, dampak dibatasi
Luther mengatakan sumber masalah berasal dari kelalaian salah satu pihak kontraktor yang bekerja di area proyek. Ia menjelaskan api muncul karena ada keteledoran saat pekerjaan berlangsung di bagian atap bangunan.
BYD menyebut penanganan berlangsung cepat. Api dapat dipadamkan sekitar 10 menit dengan penanganan mandiri dan dukungan fasilitas pemadam yang tersedia di lokasi.
Perusahaan juga menegaskan area terdampak hanya sebagian kecil pada bagian atap, sementara struktur utama fasilitas produksi tetap aman. Karena itu, visual asap tebal yang beredar di media sosial dinilai tidak mencerminkan tingkat kerusakan di lapangan.
Pembangunan pabrik tetap berlanjut
Setelah insiden tersebut, pembangunan pabrik BYD di Subang disebut kembali berjalan normal. Aktivitas proyek dan tahap finalisasi fasilitas produksi kendaraan listrik tetap berlangsung seperti rencana.
Pabrik itu berdiri di kawasan Subang Smartpolitan, Kecamatan Cipeundeuy, Jawa Barat. Lokasi ini dipilih karena dekat dengan Pelabuhan Patimban dan berada dalam koridor industri otomotif yang terhubung dengan Karawang dan Cikarang.
Akses logistik yang memadai menjadi salah satu alasan penting dalam mendukung distribusi kendaraan untuk pasar domestik dan ekspor. BYD menempatkan fasilitas ini sebagai basis produksi kendaraan listriknya di Indonesia.
Target produksi dan peran ekspor
Pabrik BYD di Subang dibangun di atas lahan sekitar 100 hektar. Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu memproduksi hingga 150.000 unit per tahun.
Selain memenuhi kebutuhan pasar nasional, pabrik ini juga disiapkan sebagai basis ekspor kendaraan listrik BYD ke sejumlah negara di Asia Tenggara. Investasi untuk pembangunan fasilitas itu disebut mencapai nilai triliunan rupiah.
Meski belum diumumkan beroperasi penuh, BYD mengungkapkan pabrik Subang sudah mulai memproduksi sejumlah kendaraan untuk kebutuhan tertentu. Unit yang dibuat saat ini dipakai untuk display di showroom, armada test drive, dan kebutuhan pengujian produk.
Luther menyebut sejumlah kendaraan untuk display, test drive, dan pengujian sudah diproduksi di fasilitas tersebut. Pernyataan itu menunjukkan proses persiapan operasional pabrik telah memasuki tahap yang semakin matang menjelang produksi penuh.
Source: www.liputan6.com





