AS Lepas 22 Awak Touska ke Pakistan, Sinyal Damai di Hormuz Masih Rapuh

Amerika Serikat memindahkan 22 awak kapal kontainer Iran Touska ke Pakistan, dan langkah itu segera dipandang sebagai isyarat kecil untuk menahan panasnya ketegangan di Selat Hormuz. Namun, pelepasan para awak belum cukup untuk meredakan benturan kepentingan Washington dan Tehran yang masih terus berputar di jalur air strategis itu.

Pakistan menyebut pemindahan awak tersebut sebagai langkah membangun kepercayaan. Washington, melalui juru bicara CENTCOM Kapten Tim Hawkins, mengatakan para awak telah diserahkan untuk dipulangkan, sementara Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan mereka akan dikembalikan ke otoritas Iran.

Pakistan kembali jadi jalur diplomasi

Langkah ini menempatkan Pakistan lagi di tengah upaya de-eskalasi kawasan. Islamabad berusaha menjaga saluran diplomatik tetap terbuka dengan Washington dan Tehran, sembari memosisikan diri sebagai mediator di tengah memanasnya situasi di sekitar Selat Hormuz.

Posisi itu makin penting karena pertemuan delegasi AS dan Iran di Islamabad bulan lalu berakhir tanpa terobosan. Meski tidak menghasilkan kemajuan, pertemuan tersebut tetap menjadi salah satu kontak langsung yang jarang terjadi antara kedua pihak sejak 1979.

Touska disita di Teluk Oman

Kapal kontainer kecil berbendera Iran itu dioperasikan oleh Islamic Republic of Iran Shipping Lines atau IRISL. Pasukan AS menyitanya di Teluk Oman pada 20 April saat kapal disebut bergerak menuju Bandar Abbas dan dinilai tidak mematuhi blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

CENTCOM menyatakan USS Spruance menembakkan meriam dek 5 inci ke ruang mesin kapal hingga Touska tidak bisa bergerak. Setelah peringatan selama enam jam, Marinir AS dari 31st Marine Expeditionary Unit naik ke kapal dekat pelabuhan Chabahar.

Militer AS juga merilis video yang memperlihatkan Marinir turun dari helikopter yang diluncurkan dari USS Tripoli untuk mengamankan kapal tersebut. Iran mengecam penahanan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan menyebutnya sebagai “piracy”.

Mediasi regional masih berjalan

Pakistan tidak hanya berkomunikasi dengan AS dan Iran, tetapi juga menjalin koordinasi dengan sejumlah negara kawasan. Islamabad disebut telah berbicara dengan Arab Saudi, Turkiye, Qatar, Mesir, dan menjaga komunikasi erat dengan China untuk membangun dukungan yang lebih luas bagi penurunan tensi.

Dalam percakapan dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi pada Senin, Wakil Perdana Menteri Pakistan Ishaq Dar menegaskan bahwa diplomasi adalah satu-satunya jalan yang layak menuju stabilitas. Tehran kemudian mengakui upaya mediasi yang dilakukan Islamabad.

Iran juga sedang menelaah respons Washington atas proposal 14 poin yang dikirim melalui Pakistan pada Jumat. Di sisi lain, Presiden Donald Trump sebelumnya menyebut tawaran Tehran sebagai “unacceptable”.

Selat Hormuz tetap panas

Pelepasan awak Touska tidak otomatis menenangkan keadaan di Selat Hormuz. Pada hari yang sama, Trump mengumumkan kapal perang AS akan membantu memandu kapal-kapal yang terjebak melalui selat itu dalam operasi yang ia sebut “Project Freedom”.

Iran merespons dengan menerbitkan peta baru Selat Hormuz yang menggeser batas ke arah timur. Tehran juga memperingatkan kapal-kapal agar tidak mencoba melintas tanpa koordinasi dengan Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC.

Media pemerintah Iran bahkan melaporkan dua rudal Iran menghantam kapal perang AS di dekat Pulau Jask setelah kapal itu diabaikan peringatan untuk mundur. Washington membantah adanya serangan tersebut.

Risiko salah hitung masih tinggi

Sejumlah analis menilai tanda-tanda de-eskalasi masih sangat rapuh. Iran baru memperluas klaim wilayah kendali di perairan itu lewat peta yang diumumkan IRGC, dan klaim tersebut dinilai melampaui batas yang diakui secara internasional.

Analis militer Alexandru Hudisteanu mengatakan klaim yang saling bertentangan itu menunjukkan ujian kekuatan yang lebih besar. Ia menilai risiko salah kalkulasi sangat tinggi karena kedua pihak terus beroperasi sangat dekat, sementara Selat Hormuz tetap menjadi “only leverage” Iran dalam negosiasi damai.

Pandangan serupa datang dari analis Iran Foad Izadi, yang menyebut gencatan senjata secara efektif runtuh ketika AS memberlakukan blokade. Ia menilai penargetan dan penyitaan kapal-kapal di sepanjang Selat Hormuz semakin melemahkan peluang jeda perang yang nyata, meski pelepasan awak Touska masih memberi sedikit ruang goodwill jangka pendek.

Terkait