Anus Bisa Mengubah Sejarah Hidup di Bumi, Ini Penjelasan di Baliknya

Sebuah perubahan evolusi yang tampak sederhana ternyata diduga ikut memicu salah satu pergantian terbesar dalam sejarah kehidupan di Bumi. Munculnya saluran pencernaan lengkap dengan mulut dan anus terpisah disebut berperan dalam runtuhnya ekosistem purba sekitar 550 juta tahun lalu.

Gagasan itu dibahas naturalis dan penyiar asal Inggris, Chris Packham, dalam serial dokumenter BBC Evolution. Penjelasan tersebut juga diulas dalam wawancara dengan IFLScience, terutama saat membahas berakhirnya periode Ediakara ketika banyak organisme purba tiba-tiba lenyap dari catatan fosil.

Perubahan yang membuat hewan makan tanpa jeda

Pada awal evolusi hewan, banyak organisme hanya punya satu lubang untuk memasukkan sekaligus mengeluarkan makanan. Sistem seperti ini disebut blind gut atau saluran pencernaan buntu, sehingga hewan tidak bisa makan sambil mencerna makanan sebelumnya.

Chris Packham menjelaskan bahwa mutasi yang menghasilkan dua bukaan pencernaan mengubah banyak hal sekaligus. “Begitu hewan memiliki saluran pencernaan lengkap, makanan masuk dari satu ujung dan terus diproses hingga keluar dari ujung lainnya, mereka bisa makan hampir tanpa henti,” katanya.

Kemampuan itu memberi hewan energi lebih besar untuk tumbuh dan berkembang. Namun, efisiensi baru ini juga membawa tekanan besar bagi lingkungan purba yang sudah ada sebelumnya.

Lapisan mikroba yang ikut terkikis

Pada masa itu, dasar laut ditutupi lapisan mikroba tebal yang disebut Ediacaran microbial mats. Lapisan ini menjadi sumber makanan sekaligus habitat bagi banyak organisme Ediakara yang bergantung pada kondisi laut purba tersebut.

Saat hewan dengan saluran pencernaan lengkap berkembang, mereka mengonsumsi lapisan mikroba itu dalam jumlah besar. Akibatnya, habitat utama banyak organisme Ediakara rusak, lalu spesies yang bergantung pada mikroba tersebut ikut menghilang.

Perubahan ekologi inilah yang diduga menjadi salah satu pemicu kepunahan massal pertama dalam sejarah kehidupan kompleks di Bumi. Inovasi yang membuat hewan lebih efisien makan justru ikut mengubah fondasi ekosistem purba.

Mulut, anus, lalu lahir kepala

Packham juga menyoroti dampak anatomi lain dari evolusi saluran pencernaan lengkap, yakni munculnya kepala. Ketika mulut dan anus terpisah, bagian depan tubuh menjadi pusat aktivitas mencari makanan.

Organ indera seperti mata, hidung, dan alat pengecap kemudian berkembang di sekitar mulut agar hewan lebih mudah menemukan makanan. Setelah itu, otak tumbuh di dekat organ-organ tersebut supaya pengolahan informasi berlangsung lebih efisien.

“Begitu Anda memiliki mulut dan anus, Anda ingin mulut berada di tempat makanan berada. Itu berarti Anda membutuhkan organ indera di dekat mulut, dan otak harus berada sedekat mungkin dengan organ-organ itu. Dari situlah kepala berevolusi,” ujar Packham.

Ia merangkum gagasan itu dengan kalimat singkat, “Singkatnya, tanpa anus, tidak akan ada kepala.”

Evolusi belum selesai

Menurut Packham, kisah ini juga mengingatkan bahwa manusia bukan tujuan akhir evolusi. Serial tersebut, katanya, ingin menunjukkan bahwa evolusi terus berlangsung dan manusia hanyalah salah satu bagian dari sejarah panjang kehidupan di Bumi.

“Serial ini ingin menunjukkan bahwa kita bukan tujuan akhir evolusi, dan evolusi belum berhenti. Kita hanyalah bagian dari sebuah kisah yang akan terus berlanjut selama miliaran tahun ke depan,” kata Packham.

Di balik pernyataannya yang terdengar jenaka, penjelasan ini menegaskan bahwa perubahan biologis yang sangat kecil bisa membawa dampak ekologi yang luar biasa besar. Dalam kisah saluran pencernaan, kemampuan makan yang lebih efisien diduga ikut mengubah arah evolusi kehidupan di Bumi untuk selamanya.

Terkait