Ani, Kota Seribu Satu Gereja yang Kini Hanya Tersisa Reruntuhan di Perbatasan

Author: Cung Media

Di perbatasan timur Turki dan Armenia, Ani menyisakan pemandangan yang kontras: sebuah kota kuno yang dulu sangat berpengaruh, tetapi kini tinggal reruntuhan sunyi. Situs ini pernah menjadi ibu kota Kerajaan Armenia pada abad ke-10 dan berdiri di tepi Sungai Akhuryan, tepat di garis batas dua negara dengan hubungan diplomatik yang rumit.

Ani tidak hanya menarik karena usianya. Kota ini pernah menjadi pusat kehidupan abad pertengahan yang padat, makmur, dan terhubung kuat dengan jalur perdagangan yang membuatnya berkembang pesat.

Julukan Seribu Satu Gereja yang Melekat

Ani dikenal sebagai kota seribu satu gereja karena banyaknya bangunan ibadah di dalam kompleksnya. Raja dan bangsawan Armenia disebut berlomba membangun gereja-gereja indah, meski jumlahnya tentu tidak benar-benar mencapai seribu satu.

Para arkeolog sejauh ini baru mengeksplorasi sekitar 50 gereja di kawasan itu. Di antaranya ada Katedral Ani dengan kubah megah dan Gereja Penebus Suci yang kini tinggal setengah bagian setelah tersambar petir.

Ragam bangunan itu menunjukkan kemampuan arsitektur yang maju pada zamannya. Sisa-sisa ukiran dan dindingnya juga memperlihatkan kuatnya nilai religius yang pernah hidup di kota tersebut.

Pernah Jadi Kota Padat dan Kaya

Pada masa puncaknya, Ani dihuni lebih dari 100 ribu jiwa. Jumlah itu sangat besar untuk ukuran kota abad pertengahan dan bahkan disebut mampu bersaing dengan Bagdad.

Letak strategis di jalur Sutra membuat Ani tumbuh cepat. Kota ini menjadi pusat perdagangan bulu, rempah-rempah, dan logam mulia, sehingga banyak pedagang dari berbagai penjuru dunia datang dan menetap di sana.

Keamanan kota juga diperkuat oleh sistem benteng ganda yang melingkar sepanjang empat kilometer. Tak heran bila banyak saudagar kaya memilih menyimpan harta mereka di kota ini.

Reruntuhan di Wilayah Perbatasan yang Sensitif

Kini, Ani berada langsung di perbatasan antara Turki modern dan Armenia. Sungai Akhuryan menjadi pembatas alami yang memisahkan area situs bersejarah itu, sementara dari kejauhan pengunjung bisa melihat menara pengawas militer Armenia.

Meski berada di zona militer yang dijaga ketat, akses wisata sekarang jauh lebih mudah. Pengunjung tidak lagi memerlukan izin khusus dari polisi setempat dan cukup membeli tiket resmi di gerbang utama yang berada di wilayah Turki.

Suasana di lokasi itu terasa berbeda dari banyak situs sejarah lain. Reruntuhan besar, kesunyian, dan pengawasan di sekitar area membuat kunjungan ke Ani memberi pengalaman yang kuat sekaligus mencekam.

Batu Vulkanis yang Membentuk Ciri Khas Ani

Sebagian besar bangunan di Ani memakai batu tuf vulkanis lokal yang mudah dipahat. Batu ini punya warna alami yang bervariasi, dari kemerahan, cokelat tua, sampai hitam pekat.

Material itu membuat dinding-dinding Ani terlihat eksotis dan berlapis warna. Para pengrajin abad pertengahan juga memanfaatkannya untuk membuat motif geometris dan relief keagamaan yang rumit.

Teknik konstruksinya dikenal tahan terhadap guncangan gempa. Namun, banyak ukiran kini mulai terkikis oleh cuaca ekstrem yang terus bekerja di dataran tinggi itu.

Jejak Runtuhnya Sebuah Kota Besar

Ani mulai ditinggalkan setelah diguncang gempa dahsyat dan diserbu pasukan Mongol. Perubahan rute perdagangan Sutra kemudian mempercepat meredupnya kehidupan sosial di balik benteng kokohnya.

Karena itu, bangunan batu yang tersisa sekarang menjadi saksi bisu dari masa ketika Ani pernah bersinar terang. UNESCO memasukkan kota mati ini ke daftar Situs Warisan Dunia pada 2016, dan hingga kini reruntuhannya tetap memancarkan daya tarik yang kuat bagi siapa pun yang melihatnya langsung.

Source: www.idntimes.com
Terbaru