Rasa lelah, takut, kehilangan, dan keraguan menjadi inti yang dibawa Melisa Darusman lewat album debutnya, Beda. Sembilan lagu dalam album ini dirancang sebagai teman bagi pendengar yang sedang berjuang memahami dan menerima dirinya sendiri.
Beda tidak hanya membicarakan cinta, melainkan juga harapan, keberanian, serta rasa tidak cukup yang bisa dialami banyak orang. Melisa ingin lirik dan melodinya memberi ruang agar pendengar dapat menemukan bagian dari pengalaman pribadi mereka.
Dalam keterangan resminya, Melisa menekankan bahwa setiap orang memang memiliki cerita yang berbeda. Namun, perasaan takut menghadapi hidup atau merasa belum cukup tetap menjadi pengalaman yang dekat bagi banyak orang.
“Jika album ini bisa menemani seseorang dalam perjalanan itu, maka tujuan kami sudah tercapai,” kata Melisa. Pernyataan itu menggambarkan arah Beda yang menempatkan musik sebagai ruang pendamping bagi emosi yang kerap sulit diucapkan.
Warna musik lintas era
Secara musikal, Melisa menghadirkan sentuhan yang merentang dari era 1980-an hingga 2000-an. Warna tersebut menjadi benang pengikat untuk sembilan lagu yang ada di dalam Beda.
Pilihan nuansa lintas era itu juga dimaksudkan untuk mengajak pendengar mengenang perjalanan hidup melalui bunyi yang terasa akrab. Melisa berharap pendekatan tersebut dapat menjangkau pendengar dari generasi yang berbeda.
Baginya, karya yang berangkat dari kejujuran masih dapat menemukan pendengarnya tanpa harus mengejar tren sesaat. Karena itu, album ini dibangun untuk memperkenalkan sisi musikal dan personal Melisa secara lebih utuh.
Sebelum album penuh dirilis, lima lagu dari Beda telah lebih dulu diperkenalkan sebagai single. Kini, seluruh materi dalam album tersebut sudah tersedia di berbagai platform musik digital bagi pendengar di Indonesia maupun mancanegara.
Lagu lama yang kembali menemukan makna
Salah satu lagu yang mendapat perhatian dalam album ini adalah Lelah. Lagu tersebut diketahui telah diciptakan sekitar 16 tahun lalu sebelum akhirnya direkam dan dibawakan oleh Melisa.
Tim produksi menilai tema dalam Lelah tetap relevan dengan berbagai tantangan hidup yang dihadapi banyak orang. Kehadirannya memperkuat suasana Beda yang membahas emosi personal dalam pengalaman sehari-hari.
Alih-alih memandang proses menemukan diri sebagai perjalanan yang selalu mudah, album ini memberi tempat bagi kehilangan dan ketakutan. Di saat yang sama, Beda juga mengangkat keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri.
Kolaborasi yang merangkum perjalanan Melisa
Menurut Lifestyle Bisnis, pengerjaan album ini melibatkan Titi DJ, Kamga, Uap Widya, Dimas Pradipta, Bembong Rifqy, dan Davin Lienardi. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari proses membentuk sembilan lagu yang membawa karakter musikal Melisa.
Kamga, yang juga dikenal sebagai musisi dan vocal director, melihat Beda sebagai rangkuman perjalanan musik Melisa. Ia menilai album tersebut menunjukkan Melisa bukan hanya sebagai penyanyi, tetapi juga pendengar dan pencerita lagu-lagu Indonesia.
“Beda terasa seperti kumpulan mixtape dari Melisa yang merangkum perjalanan musiknya sebagai penyanyi, pendengar, dan pencerita lagu-lagu Indonesia,” ujar Kamga. Ia juga menilai lirik-lirik di album ini terdengar seperti luapan dari lubuk hati yang dalam.
Founder Astari Records, Anggie Setia Ariningsih, mengatakan album tersebut sejak awal tidak dirancang untuk mengikuti arah pasar. Fokusnya adalah menghadirkan karya yang dapat bertahan karena lahir dari proses kreatif yang jujur.
“Beda bukan album yang berusaha membuat Melisa menjadi seseorang yang lain,” kata Anggie. Melalui sembilan lagu itu, album debut ini menjadi perkenalan Melisa Darusman lewat suara yang personal dan penerimaan diri yang tidak selalu mudah.
Source: lifestyle.bisnis.com






