Persia Bukan Hilang, Ini Alasan Negara Itu Memilih Nama Iran pada 1935

Nama Persia tidak benar-benar lenyap ketika Iran menjadi sebutan resmi sebuah negara pada 1935. Pergantian itu terutama menandai pilihan identitas nasional yang lebih dekat dengan nama yang telah lama dipakai oleh masyarakat setempat.

Di dunia internasional, Persia selama berabad-abad dikenal lewat peta, karya sastra, dan dokumen diplomatik Barat. Namun, Iran dipandang lebih luas karena tidak hanya merujuk pada wilayah Pars di bagian selatan dataran tinggi tersebut.

Persia adalah nama dari sudut pandang luar

Istilah Persia berhubungan dengan Parsa atau Pars, nama wilayah di selatan dataran tinggi Iran. Bangsa Yunani kuno memakai sebutan itu, lalu penggunaannya meluas untuk menyebut kekaisaran besar yang dipimpin Cyrus II atau Cyrus the Great.

Karena diwariskan dalam tradisi Eropa, Persia dikenal sebagai exonym, yakni nama yang diberikan pihak luar kepada suatu wilayah atau masyarakat. Sebutan ini kemudian melekat kuat pada peradaban kuno, seni, sastra, serta jejak politik kerajaan-kerajaan besar di kawasan itu.

Sebaliknya, Iran merupakan endonym, atau nama yang tumbuh dari penggunaan penduduk setempat. Kata tersebut berakar dari bahasa Avestan airyānąm, yang berkaitan dengan istilah Arya dan telah muncul dalam teks Zoroastrianisme serta sastra Persia kuno.

IstilahAsal SebutanPenggunaan Utama
PersiaBangsa luar, terutama Yunani kunoWilayah Pars dan warisan kekaisaran kuno
IranMasyarakat setempatNama tanah air dan negara modern

Keputusan politik pada masa Reza Shah Pahlavi

Perubahan penggunaan nama secara resmi terjadi pada pemerintahan Reza Shah Pahlavi, yang naik takhta pada 1925. Pada 4 Desember 1934, Kementerian Luar Negeri mengirim pemberitahuan kepada berbagai negara agar memakai Iran dalam komunikasi diplomatik.

Permintaan tersebut mulai berlaku secara internasional pada Maret 1935, bertepatan dengan perayaan Nowruz atau Tahun Baru Persia. Kebijakan itu menjadi bagian dari program modernisasi besar yang dijalankan Reza Shah Pahlavi.

Pemerintah ingin nama negara di panggung internasional selaras dengan identitas yang digunakan penduduknya. Langkah itu juga dimaksudkan untuk menegaskan kedaulatan nasional tanpa bergantung pada istilah yang berkembang dari penggunaan dunia Barat.

Sejumlah intelektual pada masa itu menilai Persia terlalu sempit karena berhubungan dengan satu wilayah atau kelompok etnis tertentu. Nama Iran dianggap lebih mencerminkan keberagaman etnis dan budaya yang hidup di dalam negara tersebut.

Warisan Persia tetap menjadi fondasi budaya

Peralihan nama tidak menghapus sejarah panjang Persia sebagai salah satu peradaban penting dunia kuno. Kekaisaran Achaemenid lahir setelah Cyrus II mengalahkan bangsa Medes pada 550 SM dan kemudian membentang dari Mesir hingga Lembah Indus.

Pada masa Darius the Great, administrasi kekaisaran berkembang melalui mata uang standar, ukuran seragam, Royal Road, serta sistem pos. Wilayah ini juga mengenal teknologi irigasi bawah tanah qanat untuk menopang pertanian di kawasan yang kering.

Setelah Achaemenid ditaklukkan Alexander Agung pada 330 SM, identitas Persia tetap bertahan melalui Dinasti Parthia dan Sassanian. Dinasti Sassanian yang berkuasa dari 224 hingga 651 M meninggalkan inovasi seperti yakhchal, sistem irigasi yang lebih maju, dan Academy of Gondishapur.

Penaklukan pasukan muslim Arab pada abad ke-7 membawa perubahan besar, termasuk berakhirnya posisi Zoroastrianisme sebagai agama utama negara. Meski demikian, bahasa, sastra, seni, dan tradisi Persia terus hidup dalam masyarakat.

Iran resmi, Persia tetap digunakan

Keputusan memakai Iran sempat menimbulkan kebingungan di sejumlah negara Barat, termasuk Inggris yang mengkhawatirkan kemiripan namanya dengan Irak. Lembaga dan perusahaan yang sudah lama menggunakan nama Persia juga perlu menyesuaikan identitas mereka.

Pada 1959, pemerintah menyatakan Persia dan Iran dapat dipakai secara bergantian dalam konteks internasional. Hingga kini, Iran tetap menjadi nama resmi negara, sedangkan Persia lebih lazim dipakai saat membicarakan warisan sejarah dan budaya kunonya.

Source: www.beritasatu.com
Terkait