Pemerintah didorong bergerak lebih cepat untuk menurunkan tekanan harga dari bahan baku plastik. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto meminta Peraturan Menteri Keuangan atau PMK soal bea masuk 0% bahan baku plastik segera diterbitkan karena kebijakan itu dinilai penting untuk membantu menekan inflasi.
Airlangga menilai kenaikan harga plastik tidak bisa dipandang sepele. Material itu dipakai luas, terutama untuk kemasan makanan, sehingga setiap kenaikan biaya dapat merambat ke harga barang di pasar.
Biaya kemasan ikut menekan harga barang
Dalam keterangannya di Kementerian Koordinator Perekonomian Jakarta, Selasa (14/7/2026), Airlangga menyoroti kenaikan harga packaging sebagai salah satu faktor yang perlu segera ditangani. Menurut dia, hampir seluruh makanan menggunakan plastik sebagai kemasan.
“Beberapa yang akibat daripada harga packaging yang naik. Nah itu yang tadi kita bahas dengan kita minta supaya PMK-nya segera dikeluarkan karena itu sangat berpengaruh terhadap kontribusi. Karena seluruh makanan kan ada plastik packaging-nya,” ujar Airlangga.
Kebijakan bea masuk 0% itu diharapkan bisa meringankan biaya produksi, terutama pada sektor yang paling dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Jika beban bahan baku turun, tekanan harga di sisi hilir juga diharapkan ikut melambat.
| Isu | Kebijakan yang Disorot | Dampak yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Bahan baku plastik | PMK bea masuk 0% | Menekan inflasi dari biaya kemasan |
| LPG | Bea masuk 0% | Mendukung pengendalian inflasi |
| Spare parts | Bea masuk 0% | Meringankan tekanan biaya di transportasi udara |
Transportasi udara dan komoditas pangan ikut diawasi
Selain plastik, Airlangga juga menyoroti insentif fiskal untuk sektor transportasi udara. Ia menyebut bea masuk LPG 0% dan bea masuk spare parts 0% juga dibutuhkan karena sektor penerbangan dan transportasi udara punya pengaruh terhadap inflasi.
Airlangga mengatakan kebijakan itu diharapkan segera berlaku setelah PMK keluar. Dengan begitu, pemerintah bisa menjaga agar tekanan harga dari bahan baku dan logistik tidak semakin melebar ke banyak sektor.
Di sisi lain, perhatian pemerintah juga masih tertuju pada pangan yang harganya bergerak naik turun. Airlangga menyebut sumber inflasi sebelumnya sempat dipengaruhi emas, tetapi saat ini fokus lebih banyak mengarah ke volatile food.
“Yang inflasi tentu kita melihat beberapa komoditas yang bisa mempengaruhi kenaikan inflasi. Kalau di periode yang lalu kan kita lihat emas naik, tapi kita lihat sudah turun. Kemudian yang masih meningkat itu volatile food, sehingga volatile food termasuk bawang putih itu perlu ditangani secara baik,” tutur Airlangga.
Dengan dorongan percepatan PMK bea masuk 0% plastik, pemerintah ingin menahan efek kenaikan biaya dari hulu ke hilir. Namun perhatian utama belum bergeser dari pangan, karena komoditas volatile food masih menjadi sumber tekanan inflasi yang harus dijaga.
Source: finance.detik.com






