AI Makin Ditakuti Jadi Pengganti Kerja, 53% Warga AS Khawatir Pekerjaannya Tergusur

Author: Cung Media

Kecerdasan buatan kini bukan hanya dipandang sebagai alat bantu kerja, tetapi juga sebagai ancaman yang nyata bagi banyak pekerja di Amerika Serikat. Survei terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan 53% warga AS khawatir AI akan menggantikan pekerjaan di rumah tangga mereka.

Kekhawatiran itu muncul saat penggunaan AI terus meluas di kehidupan sehari-hari dan dunia profesional. Dalam survei enam hari tersebut, 73% responden menyatakan khawatir terhadap meningkatnya penggunaan AI, naik dari 68% pada survei Reuters/Ipsos pada 2023.

Keresahan yang belum merata

Meski rasa waswas meningkat, tidak semua orang melihat AI sebagai ancaman langsung. Sebanyak 37% responden mengatakan mereka tidak khawatir sama sekali, sementara 10% lainnya tidak yakin atau memilih tidak menjawab.

Survei itu juga memperlihatkan bagaimana AI sudah menjadi bagian dari rutinitas digital banyak orang. Sekitar 40% warga AS menggunakan AI secara rutin, dan angkanya lebih tinggi di kalangan lulusan perguruan tinggi.

Di kelompok lulusan perguruan tinggi, 50% mengaku rutin memakai AI. Pada responden tanpa gelar sarjana, angkanya turun menjadi 34%, menunjukkan adopsi teknologi ini jauh lebih kuat di kelompok berpendidikan tinggi.

Tekanan ke pasar kerja mulai terasa

Kekhawatiran publik mendapat bahan bakar dari langkah sejumlah perusahaan besar yang mengaitkan PHK dengan strategi pengembangan AI. Intuit bulan lalu menyatakan akan memangkas 17% tenaga kerja globalnya untuk merampingkan operasional dan memperkuat investasi AI.

Meski begitu, pasar kerja AS secara keseluruhan belum menunjukkan pelemahan besar. Perekonomian masih mencatat pertumbuhan lapangan kerja yang solid dalam beberapa bulan terakhir.

Di tingkat individu, dampak AI juga mulai dirasakan secara personal. Jennifer Schalhoub, penulis lepas berusia 62 tahun dari Little Ferry, New Jersey, mengatakan ia baru-baru ini kehilangan pekerjaan menulis surat kepada pejabat pemerintah untuk mendukung kebijakan tertentu.

Schalhoub menduga perkembangan AI ikut berperan dalam hilangnya pekerjaan tersebut. Ia mengatakan kepada Reuters, “AI mengambil alih karena orang semakin kurang peduli dengan kualitas pekerjaan yang dihasilkan.”

Tak hanya soal pekerjaan

Kekhawatiran terhadap AI tidak berhenti di urusan lapangan kerja. Penggunaannya yang makin luas juga memunculkan pertanyaan soal propaganda politik, hiburan, hingga peperangan, sehingga sejumlah pemimpin dunia termasuk Paus Leo XIV memberi peringatan.

Di ruang akademik, respons serupa juga mulai terlihat. Bulan lalu, mahasiswa Universitas Arizona mencemooh mantan CEO Google Eric Schmidt saat ia membahas dampak AI dalam sebuah upacara wisuda.

AI mulai menjadi perhatian luas di Amerika Serikat sejak 2022 ketika OpenAI meluncurkan ChatGPT. Produk itu mampu menjawab pertanyaan layaknya manusia dan mengubah cara orang mencari informasi di internet, sekaligus menantang dominasi mesin pencari Google milik Alphabet.

Di saat yang sama, perusahaan AI lain seperti Anthropic terus memperluas bisnisnya lewat produk seperti asisten pemrograman Claude Code. Anthropic dan OpenAI juga kini menjadi sorotan Wall Street karena rencana mereka menawarkan saham kepada publik.

Masuk ke ruang terapi

Kecemasan atas masa depan kerja bahkan mulai terbawa ke ruang terapi. Lauren Hayes, psikolog klinis di negara bagian Washington, mengaku khawatir setelah beberapa kliennya mulai berkonsultasi dengan AI di sela-sela sesi terapi untuk membantu mengatasi kecemasan.

Hayes menegaskan, “Saya tidak percaya kecerdasan buatan mampu memiliki pemahaman dan kepekaan sekompleks manusia.” Bagi banyak orang, pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan hadir di tempat kerja, melainkan seberapa besar perubahan itu akan menggeser rasa aman dalam mencari nafkah.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru