AI Bongkar Pengadaan Aneh Komdigi, Sewa Tanaman Hias Tembus Rp1,17 Miliar

Penggunaan anggaran di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjadi perhatian setelah sistem kecerdasan buatan milik Abil Sudarman menandai sejumlah pengadaan barang dan jasa yang dinilai janggal. Temuan itu mencakup belanja dekoratif dan pemeliharaan fasilitas yang nilainya mencapai miliaran rupiah, termasuk sewa tanaman hias dan taman indoor.

Dalam unggahan yang menampilkan dashboard early warning system berbasis AI, Abil menyebut sistem tersebut mampu membaca pengadaan aneh dari tingkat daerah hingga kementerian. Dari hasil pembacaan otomatis itu, pengadaan yang menurut sistem paling aneh justru berasal dari Komdigi.

AI Menyoroti Belanja yang Dinilai Tidak Prioritas

Sistem AI yang dipamerkan Abil memberi label pada sejumlah pos belanja yang dianggap tidak mendukung tugas utama instansi. Penilaian itu terutama tertuju pada pengadaan yang lebih berhubungan dengan estetika dan kenyamanan ruang kerja, bukan kebutuhan pokok layanan publik.

Abil menekankan bahwa deteksi dilakukan secara otomatis. AI menandai item yang memiliki indikasi kuat sebagai belanja tidak patut atau tidak esensial bagi fungsi utama kementerian.

Sewa Tanaman Hias Tembus Rp1,17 Miliar

Salah satu temuan yang paling mencolok adalah anggaran sewa tanaman hias untuk lantai 7 gedung Komdigi, ruang Wakil Menteri, dan rumah dinas Menteri. Nilainya mencapai Rp1,17 miliar untuk durasi 12 bulan.

Abil menyoroti angka tersebut karena dinilai terlalu besar untuk kebutuhan dekorasi kantor. Ia mempertanyakan alasan belanja itu dan menyebut nilainya sangat berlebihan.

Taman Indoor dan Fasilitas Ornamental Lain Ikut Terpantau

Selain tanaman hias, AI juga menandai pengadaan sewa taman indoor di lingkungan kementerian dengan nilai Rp1,14 miliar per tahun. Sistem itu memberi perhatian khusus pada anggaran yang dinilai masuk kategori non-prioritas.

Temuan lain muncul pada biaya pemeliharaan akuarium di lantai 7 gedung utama area kerja pimpinan yang mencapai Rp153 juta. AI menilai belanja ini tidak menunjang tugas pokok instansi karena lebih mirip fasilitas ornamental.

Komdigi juga tercatat menganggarkan Rp126 juta untuk pemeliharaan kolam ikan koi selama 12 bulan. Analisis AI menempatkan belanja itu sebagai potensi pemicu kecemburuan sosial karena bersifat dekoratif di tengah tuntutan efisiensi anggaran.

Sewa Pengharum Ruangan Juga Dipertanyakan

Pengadaan lain yang ikut masuk daftar sorotan adalah sewa pengharum ruangan dengan nilai Rp360 juta. AI menilai angka tersebut terlalu besar untuk kebutuhan dasar perkantoran.

Seluruh data itu masuk dalam pembacaan otomatis sistem AI yang ditampilkan Abil. Dari hasil itu, sistem menandai item-item yang dianggap tidak sesuai dengan fungsi utama kementerian dan berpeluang memunculkan pertanyaan publik soal kewajaran penggunaan anggaran.

Sorotan terhadap pengadaan tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi AI bisa digunakan untuk membaca pola belanja pemerintah yang dianggap tidak lazim. Dalam kasus Komdigi, perhatian publik kini tertuju pada item-item ornamental yang nilainya tinggi dan dinilai jauh dari kebutuhan inti layanan pemerintahan.

Source: www.suara.com
Terkait