Kucing hutan kerap disangka sekadar kucing liar biasa, padahal satwa ini menyimpan kemampuan yang tidak umum. Felis chaus bisa mengeluarkan suara keras seperti gonggongan anjing besar, dan pada saat yang sama juga mahir berenang.
Keunikan itu membuat kucing hutan menonjol di antara kucing liar lain. Hewan berukuran sedang ini juga punya sebaran wilayah yang luas, habitat yang fleksibel, dan pola berburu yang menyesuaikan lingkungan tempat hidupnya.
Hidup di banyak wilayah Asia dan sekitarnya
Kucing hutan tersebar di Asia dan wilayah sekitarnya, dengan populasi yang banyak ditemukan di India, Bangladesh, dan Pakistan. Sebarannya lalu meluas ke Mesir, Asia Barat Daya, Asia Tenggara, Asia Tengah, hingga selatan China.
Meski namanya mengarah ke hutan, satwa ini justru lebih sering dijumpai di lahan basah, semak lebat, padang rumput tinggi, dan area dekat sumber air. Kucing hutan juga mampu beradaptasi di habitat lain, termasuk gurun.
Aktif di waktu fajar dan petang
Kucing hutan bukan satwa nokturnal murni. Mereka cenderung berburu saat fajar dan petang, lalu beristirahat di area yang tertutup dedaunan pada siang hari.
Saat musim dingin, kucing hutan juga bisa berjemur untuk menghangatkan tubuh. Pola ini menunjukkan bahwa aktivitas mereka sangat dipengaruhi kondisi lingkungan dan ketersediaan mangsa.
Jelajah malamnya bisa mencapai beberapa kilometer
Dalam satu malam, kucing hutan bisa menempuh jarak 3–6 km untuk mencari makan. Jarak ini bergantung pada seberapa banyak mangsa yang tersedia di wilayahnya.
Menu makannya pun beragam, mulai dari hewan pengerat, kadal, katak, ular, burung, ikan, serangga, terwelu, hingga hewan ternak. Pada musim dingin, mereka juga sesekali memakan buah-buahan.
Suara keras dan perilaku sosialnya menarik perhatian
Salah satu fakta paling mencolok dari kucing hutan adalah suaranya. Melansir Big Cat Rescue, vokalisasinya bisa terdengar sangat keras seperti gonggongan anjing besar, selain kicauan, dengkuran, geraman, dan desisan.
Di alam liar, kucing hutan hidup dalam kelompok keluarga yang terdiri dari jantan, betina, dan anak-anaknya. Dalam penangkaran, jantan disebut tampak lebih protektif terhadap anak-anak dibanding betina.
Ahli berenang sekaligus pelari cepat
Banyak kucing menghindari air, tetapi kucing hutan justru mampu berenang dengan baik. Mereka bahkan bisa berenang hingga 1,5 km di dalam air untuk menangkap ikan.
Di darat, kemampuan itu dilengkapi kecepatan lari yang bisa mencapai 32,18 km/jam. Kombinasi ini membuat kucing hutan efektif berburu di daratan maupun perairan dangkal.
Sangat teritorial dan punya sistem kawin poligami
Kucing hutan dikenal sangat teritorial. Jantan biasanya menandai wilayah dengan menggosokkan aroma pada benda-benda di sekitarnya, meski wilayahnya kadang tumpang tindih dengan beberapa betina.
Mereka juga saling menggosok pipi untuk menempelkan aroma, dan jantan dapat menggosok pipi betina. Sistem perkawinannya poligami, sehingga jantan dan betina sama-sama dapat memiliki beberapa pasangan sepanjang hidupnya.
Musim kawin berlangsung dari Januari hingga Maret, meski waktunya bergantung pada lokasi. Masa kehamilan betina 63–66 hari, dan biasanya melahirkan 1–3 anak, bahkan bisa memiliki dua anak dalam setahun.
Anak kucing mencapai usia dewasa reproduktif pada umur 11–18 bulan. Di alam liar, populasinya diperkirakan belum pasti, tetapi ada sekitar 500 individu di Rusia dan lebih dari 10.000 di Nepal, sementara statusnya masih tergolong tidak terancam punah meski trennya menurun di beberapa wilayah.
