Perkembangan 6G diperkirakan akan mengubah cara jaringan telekomunikasi dibangun, dan salah satu dampak paling pentingnya adalah berkurangnya ketergantungan pada BTS. Dalam skema baru itu, satelit tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian inti dari konektivitas masa depan.
Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi dan Informasi Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Eko Dono Indarto, menilai paradigma lama soal satelit sudah harus berubah. Dalam Seminar dan Workshop Mastel di Jakarta, Kamis (9/7/2026), ia menyebut 6G akan mengarah pada integrasi berbagai infrastruktur sekaligus.
6G Akan Menggabungkan Banyak Lapisan Jaringan
Menurut Eko, jaringan 6G akan menghadirkan Non-Terrestrial Network atau NTN yang menghubungkan fiber optik, jaringan seluler, WiFi, satelit, High Altitude Platform (HAP), cloud computing, dan AI. Dengan model itu, perangkat telekomunikasi tidak lagi hanya bergantung pada BTS seperti yang umum terjadi saat ini.
Ia juga menyebut perangkat nantinya bisa langsung terhubung ke satelit. Bagi Indonesia, arah ini dinilai penting karena kondisi geografisnya terdiri dari wilayah luas dan ribuan pulau.
| Elemen NTN | Peran dalam 6G | Keterangan |
|---|---|---|
| Fiber optik | Infrastruktur koneksi | Digabungkan dalam sistem 6G |
| Jaringan seluler | Infrastruktur koneksi | Tetap menjadi bagian jaringan |
| WiFi | Infrastruktur koneksi | Diintegrasikan bersama sistem lain |
| Satelit | Infrastruktur koneksi | Bisa terhubung langsung ke perangkat |
| High Altitude Platform (HAP) | Infrastruktur koneksi | Masuk dalam ekosistem NTN |
| Cloud computing dan AI | Pendukung jaringan | Menguatkan sistem telekomunikasi 6G |
Dalam konteks Indonesia, satelit disebut bukan sekadar opsi tambahan. Infrastruktur itu dipandang sebagai elemen strategis untuk membantu pemerataan konektivitas di seluruh wilayah.
Peluncuran 6G Masih Akan Bertahap
Di kesempatan yang sama, Director of Spectrum Policy & Regulatory Affairs (APAC) GSMA, Yishen Chan, menyampaikan bahwa 6G diperkirakan mulai diluncurkan pada 2030. Namun, tahap awal itu baru akan terjadi di sejumlah negara lebih dulu.
Chan menyebut China, Jepang, Amerika Selatan, Eropa, dan Korea Selatan sebagai wilayah yang kemungkinan masuk barisan awal peluncuran. Indonesia diperkirakan membutuhkan waktu sedikit lebih lama sebelum mengikuti langkah tersebut.
GSMA juga memperkirakan 6G akan menjadi teknologi arus utama pada paruh kedua dekade berikutnya. Sementara itu, 4G masih akan tetap digunakan untuk beberapa waktu karena menjadi teknologi yang paling umum saat ini.
Pada 2040, jaringan 6G disebut akan digunakan oleh lebih dari 5 miliar orang. Proyeksi itu menunjukkan bahwa meski adopsinya berjalan bertahap, arah pertumbuhannya sangat besar dalam jangka panjang.
Bagi Indonesia, pesan terpenting dari perkembangan ini bukan hanya soal kecepatan jaringan. Yang lebih mendesak adalah kesiapan memanfaatkan satelit sebagai bagian inti konektivitas, terutama untuk negara kepulauan dengan kebutuhan layanan yang merata.
