Perubahan besar sedang terjadi di pasar kapal tanker global setelah puluhan kapal tipe Large Range 2 atau LR2 mulai bergeser dari pengangkutan bahan bakar bersih ke angkutan minyak mentah. Pergeseran ini muncul di tengah eskalasi konflik di Iran dan gangguan jalur perdagangan yang membuat pengiriman minyak mentah dinilai lebih menarik secara ekonomi.
Data platform pelacakan kapal Signal Ocean menunjukkan ada 68 unit LR2 yang beralih fungsi sepanjang tahun ini. Jumlah itu melampaui total 49 kapal yang berubah tugas selama periode tahun 2025, sehingga memperlihatkan perubahan pasar yang berlangsung cepat dan cukup tajam.
Perubahan arah muatan kapal tanker
LR2 selama ini lebih dikenal sebagai kapal pengangkut produk olahan seperti diesel dan bahan bakar bersih lainnya. Namun, kenaikan biaya pengangkutan minyak mentah membuat banyak operator memilih memindahkan armada ke segmen yang menawarkan imbal hasil lebih besar.
Perpindahan itu tidak berdiri sendiri. Bloombergtechnoz melaporkan bahwa penutupan efektif Selat Hormuz ikut memperberat situasi karena pembeli harus mencari pasokan alternatif lewat rute yang lebih jauh.
Selat Hormuz dan tekanan pada rute perdagangan
Selat Hormuz memegang peran penting dalam arus energi global, sehingga gangguan di kawasan itu langsung memengaruhi jalur pengiriman. Saat akses menjadi lebih sulit, pasar juga menghadapi biaya logistik yang lebih tinggi dan ketidakpastian pengiriman yang lebih besar.
Kondisi tersebut mendorong operator kapal untuk menyesuaikan strategi. Dalam situasi seperti ini, armada yang fleksibel lebih mudah dialihkan ke pasar yang memberi margin lebih menarik.
Produksi di Teluk Persia ikut terdampak
Georgios Sakellariou, analis penyewaan kapal di Signal Maritime, menilai penurunan produksi dan kapasitas penyulingan di Teluk Persia membuat pusat pemuatan utama bagi kapal tanker LR2 tidak lagi mudah dijangkau. Ia menyebut dampaknya sangat besar terhadap peta penempatan kapal tanker di pasar global.
“Hasilnya adalah angka yang mengejutkan yang telah mengubah peta penempatan kapal tanker,” kata Sakellariou. Pernyataan itu menggambarkan bahwa perubahan arus logistik tidak hanya bersifat sesaat, tetapi juga mengubah komposisi kapal yang tersedia di pasar.
Armada LR2 makin dominan di pasar minyak mentah
Signal mencatat sekitar 296 kapal LR2 saat ini mengangkut minyak mentah secara global. Jumlah itu setara dengan sekitar dua pertiga armada dunia dan menjadi proporsi tertinggi yang pernah tercatat sejak 2019.
Data itu menunjukkan pergeseran fungsi yang sangat nyata. Kapal yang sebelumnya identik dengan pengangkutan bahan bakar bersih kini semakin banyak terserap ke pasar minyak mentah, meski tren konversi dilaporkan mulai melambat dalam beberapa pekan terakhir.
Contoh pergerakan kapal yang berubah rute
Perubahan arah muatan juga terlihat pada tanker Proteus Philippa. Kapal itu sempat mengirim diesel dari Timur Tengah ke Eropa pada Februari, lalu pada awal Maret bergerak ke Houston untuk memuat minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI.
Kasus tersebut menunjukkan bagaimana armada LR2 dapat berpindah mengikuti peluang pasar. Ketika margin pengangkutan minyak mentah lebih menarik, operator cenderung mengubah fungsi kapal daripada mempertahankan pola pelayaran lama.
Dampak ke pasar tanker bersih
Bertambahnya LR2 yang masuk ke pasar minyak mentah justru menekan ketersediaan kapal tanker bersih dalam perdagangan internasional. Pasokan armada yang menipis mulai mendorong kenaikan harga sewa kapal pengangkut bahan bakar.
Tekanan ini bisa mengurangi keuntungan dari peralihan fungsi kapal jika biaya charter terus meningkat. Di tengah pasar yang belum stabil, perubahan haluan armada LR2 memperlihatkan bagaimana konflik, hambatan logistik, dan pergeseran permintaan dapat langsung memengaruhi jalur perdagangan energi dunia.







