Berita tentang konflik, kekerasan, dan bencana dapat membuat anak bingung serta cemas melihat keadaan di sekitarnya. Di tengah arus informasi digital, keluarga dapat membantu anak tetap merasa aman tanpa menutup ruang untuk peduli pada orang lain.
Empati anak tidak selalu dibentuk lewat percakapan berat atau tindakan besar. Kebiasaan yang konsisten di rumah dapat mengajarkan mereka mengenali perasaan, mensyukuri keadaan, dan mengambil langkah baik yang sederhana.
Joseph Laino, psikolog anak di Sunset Terrace Family Health Center NYU Langone, menilai empati, kasih sayang, dan kemurahan hati tidak bertentangan dengan kemampuan akademis. Keterampilan tersebut justru dapat saling menguatkan dalam perkembangan anak di sekolah maupun lingkungan sosialnya.
Anak yang mampu bekerja sama dengan guru dan teman sebaya berpeluang mendapat pengalaman belajar yang lebih memuaskan. Perhatian kepada orang lain juga dapat membantu mereka merasa lebih tenang, mampu, dan memiliki tujuan.
Ringkasan Kebiasaan yang Bisa Dilakukan di Rumah
| No. | Kebiasaan | Fokus yang Dibangun |
|---|---|---|
| 1 | Menunjukkan kebaikan sejak dini | Isyarat emosional dan sikap terhadap orang lain |
| 2 | Membacakan cerita sesuai usia | Memahami sudut pandang orang lain |
| 3 | Membahas masalah dunia dengan tenang | Rasa aman dan pemahaman sesuai usia |
| 4 | Mengenali keistimewaan yang dimiliki | Rasa syukur atas keamanan dan kedamaian |
| 5 | Membuka ruang percakapan rutin | Keberanian bertanya dalam keluarga |
| 6 | Mendorong tindakan baik | Keterhubungan, percaya diri, dan tujuan |
1. Tunjukkan Kebaikan Sejak Dini
Welas asih dapat dikenalkan bahkan sebelum anak mampu berbicara. Bayi dapat menyerap isyarat emosional dari kelembutan suara, ekspresi wajah, serta respons orang tua ketika menghadapi orang yang sedang kesal.
Pengamatan sehari-hari itu membentuk gambaran awal anak tentang cara manusia memperlakukan satu sama lain. Sikap hangat dan sabar dari orang tua karena itu punya peran penting dalam membangun empati anak.
2. Beri Cerita yang Sesuai Usia
Cerita dapat menjadi ruang yang aman bagi anak untuk membayangkan kehidupan dari sudut pandang orang lain. Buku bergambar tentang pengungsian, migrasi, atau konflik dapat mengenalkan ketahanan, keluarga, dan kelangsungan hidup tanpa membuat anak kehilangan harapan.
Setelah membaca, orang tua dapat bertanya bagaimana perasaan anak terhadap tokoh atau kejadian dalam cerita. Percakapan sederhana itu membantu anak mengenali emosi orang lain secara bertahap.
3. Jelaskan Masalah Dunia tanpa Menakut-nakuti
Anak bisa mendapat informasi tentang krisis dari sekolah, televisi, teman, atau percakapan orang dewasa di sekitarnya. Orang tua perlu membantu memberi penjelasan agar kekosongan informasi tidak berubah menjadi rasa takut.
Andrea Mucino-Sanchez dari tim komunikasi UNHCR menyarankan penjelasan yang singkat dan sesuai usia. Pembicaraan dapat berfokus pada keselamatan, keadilan, serta adanya banyak orang yang berupaya membantu keluarga yang harus meninggalkan rumah karena situasi tidak aman.
4. Ajarkan Anak Mengenali Hal Baik yang Dimiliki
Tidak semua anak tumbuh dalam kondisi yang damai dan aman. Kesadaran ini tidak perlu disampaikan untuk memunculkan rasa bersalah, melainkan untuk membantu anak memahami keadaan baik yang mereka miliki.
Rasa syukur dapat tumbuh ketika anak mengetahui bahwa keamanan bukan pengalaman yang sama bagi semua orang. Orang tua dapat mengajak mereka menghargai rumah, keluarga, dan situasi yang memungkinkan mereka menjalani hari dengan aman.
5. Sediakan Ruang Percakapan Secara Rutin
Pola asuh yang memberi ruang dialog dapat dimulai dari momen sederhana, seperti makan bersama atau waktu santai di rumah. Rutinitas ini membuat anak lebih leluasa menyampaikan pertanyaan besar maupun kekhawatiran kecil.
Mereka mungkin ingin tahu mengapa seseorang dalam berita menangis atau mengapa sebuah keluarga harus pergi dari rumahnya. Ketika percakapan seperti ini dilakukan secara teratur, anak dapat memandang orang tua sebagai penuntun yang aman saat dunia terasa membingungkan.
6. Dorong Anak Melakukan Tindakan Baik
Kepedulian akan terasa lebih nyata ketika anak memperoleh kesempatan membantu orang lain. Membuat kartu untuk tetangga yang sedang kesulitan atau memilih mainan, buku, dan pakaian untuk disumbangkan dapat menjadi langkah awal yang mudah dilakukan.
Laino menyebut memberi, berbuat baik, dan peduli kepada orang lain dapat meningkatkan rasa percaya diri sekaligus memberi anak rasa tujuan. Kebiasaan kecil tersebut membantu mereka memahami bahwa kebaikan tetap bisa dilakukan, bahkan ketika dunia di sekelilingnya terasa rapuh.
