Final Pro Futsal League atau PFL 2026 tidak hanya menghadirkan tensi pertandingan yang tinggi, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi pelaku usaha ultra mikro. Di GOR Universitas Negeri Yogyakarta, kehadiran 5.400 penonton membuat arena final berubah menjadi pasar kecil yang hidup.
Keramaian itu dimanfaatkan PT Permodalan Nasional Madani atau PNM dengan membawa nasabah prasejahtera binaannya untuk berjualan langsung kepada pengunjung. Bagi pelaku usaha kecil, momen ini menjadi kesempatan langka untuk menjangkau pembeli baru di tengah arus penonton yang padat.
Olahraga yang ikut menggerakkan ekonomi kecil
PNM sebagai sponsor utama PFL 2025/2026 menempatkan dukungan pada ajang ini bukan semata untuk olahraga. Perusahaan tersebut ingin memastikan final futsal juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat akar rumput, terutama perempuan pelaku usaha ultra mikro.
Melalui kehadiran para nasabah binaan, panggung pertandingan ikut berfungsi sebagai etalase ekonomi kecil. Saat atlet bertanding di lapangan, para pedagang mendapat peluang tambahan untuk menjual produk mereka kepada ribuan penonton yang datang.
Pempek yang menopang keluarga
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampaknya adalah Iin Sutiyani, nasabah PNM Mekaar yang menjual pempek. Usaha makanan khas itu sudah menjadi sumber penghidupan keluarganya selama hampir dua dekade dan dipertahankan dengan resep turun-temurun.
Bagi Iin, berjualan pempek bukan sekadar rutinitas harian. Usaha itu menjadi penopang utama keluarga, terutama ketika kondisi kesehatan suaminya menurun akibat sakit yang dideritanya.
Di tengah tekanan hidup tersebut, kesempatan berjualan di final PFL 2026 terasa sangat berarti. Ia menyebut hasil penjualan di arena final meningkat berkali-kali lipat dibandingkan hari biasa.
“Alhamdulillah, biasanya saya jualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, tapi di sini hasilnya jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan,” ujarnya. Penghasilan tambahan itu akan dipakai untuk kebutuhan keluarga dan pengobatan suami.
Dampak yang terasa langsung di sekitar arena
PNM menilai pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa event olahraga dapat memberi efek berantai bagi pelaku usaha kecil. Ketika ribuan penonton datang, peluang transaksi ikut naik dan pengusaha ultra mikro memperoleh pasar baru yang sulit didapat pada hari biasa.
Direktur Utama PNM, Kindaris, menegaskan bahwa di balik usaha kecil selalu ada perjuangan besar yang layak dihormati. Ia berharap lebih banyak perempuan prasejahtera mendapat ruang untuk bergerak, menjaga harapan, dan memperkuat ekonomi keluarga melalui kesempatan serupa.
Kehadiran 5.400 penonton di final PFL 2026 pun memperlihatkan bahwa sebuah pertandingan tidak hanya soal hasil di lapangan. Bagi pelaku usaha seperti Iin, keramaian itu menjadi pintu masuk bagi pendapatan tambahan, pengenalan produk, dan peluang usaha yang bisa terus tumbuh setelah laga usai.
