50 Guru Didorong Jadi Ujung Tombak Sekolah Aman Bencana di Jatim

BPBD Jatim mempercepat langkah untuk membuat sekolah lebih siap menghadapi bencana dengan mendorong 50 guru SMA dan SMK menjadi fasilitator Satuan Pendidikan Aman Bencana atau SPAB. Pelatihan ini digelar bersama IGI Jatim, Kanwil Kemenag Jatim, dan Dinas Pendidikan Jatim sebagai upaya memperluas kesiapsiagaan dari ruang pelatihan ke sekolah masing-masing.

Langkah itu terasa mendesak karena sebagian besar sekolah menengah di Jawa Timur berada di wilayah rawan bencana. Dari 4.088 SMA sederajat di Jatim, sebanyak 3.645 sekolah atau 89,2 persen masuk kategori rawan bencana tinggi, sementara baru sekitar 95 sekolah atau 2 persen yang sudah mendapat pelatihan SPAB.

Guru Jadi Titik Awal Perubahan

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menilai TOF SPAB dibutuhkan untuk mempercepat ketangguhan sekolah di Jawa Timur. Menurut dia, kapasitas guru harus lebih dulu diperkuat agar pengetahuan kebencanaan bisa langsung diterapkan di lingkungan sekolah.

Pelatihan tatap muka yang berlangsung di The Southern Hotel Surabaya ini merupakan lanjutan dari TOF SPAB daring yang telah digelar pada 22-23 Juni 2026. Sebanyak 50 guru SMA dan SMK perwakilan 38 kabupaten/kota di Jatim mengikuti sesi pembuka pada Senin (6/7/2026).

Data KegiatanInformasi
ProgramTraining of Facilitator Satuan Pendidikan Aman Bencana (TOF SPAB)
Peserta50 guru SMA dan SMK
Wilayah asal peserta38 kabupaten/kota di Jawa Timur
Lokasi tatap mukaThe Southern Hotel Surabaya
Sesi daring sebelumnya22-23 Juni 2026
PembukaanSenin (6/7/2026)

Gatot menekankan bahwa masih banyak sekolah dengan tingkat kerawanan tinggi yang belum tersentuh pelatihan SPAB. Karena itu, BPBD Jatim berharap para guru yang ikut pelatihan bisa menjadi penggerak di sekolahnya masing-masing.

Kolaborasi Tahunan dengan IGI Jatim

Ketua IGI Jatim Sukari menyampaikan apresiasi atas kerja sama rutin dengan BPBD Jatim dalam pelaksanaan TOF SPAB setiap tahun. Ia menilai pelibatan guru sangat penting karena mereka berada di garis depan proses belajar mengajar dan paling dekat dengan kondisi sekolah sehari-hari.

Menurut Sukari, materi kebencanaan yang diterima peserta diharapkan dapat membantu mempercepat lahirnya sekolah tangguh bencana. Target akhirnya adalah satuan pendidikan yang aman dan nyaman bagi siswa maupun warga sekolah lainnya.

Materi Praktik hingga Simulasi

Selama pelatihan, peserta menerima materi yang mencakup peta jalan dan kebijakan kerangka kerja SPAB, Kajian Risiko Bencana Partisipatif atau KRBP, Tim Siaga Sekolah, Pertolongan Pertama Gawat Darurat, hingga simulasi bencana. Rangkaian ini dirancang agar guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menjalankan langkah nyata saat kembali ke sekolah.

Pada hari kedua, para peserta juga diajak berkunjung ke Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim. Kunjungan itu memberi kesempatan bagi guru untuk melihat fasilitas pembelajaran kebencanaan sekaligus menyusun agenda tindak lanjut setelah pelatihan selesai.

Dengan pola pelatihan seperti ini, BPBD Jatim dan mitra pendidikannya berharap gerakan sekolah aman bencana tidak berhenti sebagai agenda pelatihan semata. Peran guru diharapkan menjadi kunci agar kesiapsiagaan tumbuh lebih cepat di banyak sekolah rawan bencana di Jawa Timur.

Source: beritajatim.com
Terkait