Anak bisa tumbuh dengan kebiasaan membaca nada bicara, ekspresi wajah, hingga perubahan kecil di rumah ketika respons orang tua sulit diprediksi. Mereka belajar selalu siaga agar tidak memicu konflik atau ledakan emosi yang penyebabnya tidak mereka pahami.
Kondisi ini kerap dikaitkan dengan eggshell parenting, pola pengasuhan yang membuat anak merasa seperti berjalan di atas kulit telur. Rasa aman di rumah dapat terganggu karena emosi, perilaku, atau respons orang tua tidak muncul secara konsisten.
Istilah tersebut berangkat dari ungkapan walking on eggshells, yaitu perasaan harus bertindak sangat hati-hati dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Psikoterapis Anna Hindell mengatakan kepada Parents bahwa pola ini dapat terlihat saat suasana hati yang tidak stabil dan ledakan emosi orang tua membuat anak terus waspada di dekat mereka.
Dalam situasi yang berat, anak dapat merasa ikut memikul tugas untuk mengelola keadaan emosional orang tua. Mereka juga berisiko menyalahkan diri sendiri ketika suasana rumah memburuk, meski konflik itu bukan tanggung jawab mereka.
Gambaran Tanda yang Dapat Muncul
Pola ini tidak selalu berhenti ketika seseorang meninggalkan masa kanak-kanak. Dampaknya dapat terbawa ke cara mengenali emosi, menghadapi tekanan, dan membangun relasi dengan orang lain saat dewasa.
| Tanda | Gambaran yang Muncul |
|---|---|
| Terlalu waspada | Terus mencari tanda ketegangan, konflik, atau ledakan emosi. |
| Ingin menyenangkan orang lain | Mengabaikan kebutuhan pribadi agar orang lain tidak marah. |
| Sulit mengekspresikan emosi | Menekan atau meragukan perasaan sendiri. |
| Merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain | Merasa harus menjaga perasaan dan kepuasan orang sekitar. |
| Tidak nyaman bersama orang tua | Merasa tegang saat bersama orang tua yang sensitif secara emosional. |
1. Terlalu Waspada
Kewaspadaan berlebihan dapat membuat seseorang terbiasa mengamati ruangan dan mencari tanda bahwa ketegangan akan muncul. Kebiasaan ini bisa berawal dari rumah yang emosinya tidak stabil, lalu terasa pula dalam lingkungan lain, termasuk tempat kerja.
Seseorang mungkin sangat peka terhadap perubahan ekspresi, suara, atau suasana di sekitarnya. Respons tersebut dapat menjadi cara untuk mengantisipasi konflik sebelum konflik benar-benar terjadi.
2. Selalu Ingin Menyenangkan Orang Lain
Keinginan menyenangkan orang lain dapat terlihat dari kebiasaan memantau suasana hati dan kebutuhan orang di sekitar. Seseorang lalu berusaha menjaga orang lain tetap puas, bahkan ketika kebutuhan atau pendapat pribadinya harus ditekan.
Sikap ini dapat terasa seperti perlindungan dari ancaman dan cara mempertahankan citra diri sebagai pribadi yang baik. Namun, kebutuhan emosional diri sendiri bisa semakin sulit mendapat ruang jika pola tersebut terus berlangsung.
3. Sulit Mengekspresikan Emosi Sendiri
Psikolog klinis Noelle Santorelli menjelaskan bahwa anak yang dibesarkan oleh orang tua yang mudah meledak dapat belajar menekan perasaannya. Mereka melakukan itu untuk menghindari konflik yang responsnya sulit diperkirakan.
Kesulitannya tidak hanya muncul saat menyampaikan emosi kepada orang lain, tetapi juga ketika memahami emosi sendiri. Saat kecewa, misalnya, seseorang dapat mempertanyakan apakah perasaan itu wajar alih-alih mengakuinya.
4. Merasa Bertanggung Jawab atas Emosi Orang Lain
Anak yang terbiasa menjaga perasaan orang tua dapat membawa peran tersebut ke hubungan lain. Mereka mungkin merasa wajib memastikan orang di sekitarnya tetap tenang, senang, atau puas.
Pola ini dapat memunculkan rasa bersalah ketika orang lain sedang marah atau kecewa. Padahal, setiap orang tetap memiliki tanggung jawab atas emosinya masing-masing.
5. Tidak Nyaman Bersama Orang Tua
Rasa tegang ketika bersama orang tua dapat muncul bila seseorang pernah hidup dengan tuntutan kehati-hatian yang tinggi. Situasi ini lebih mungkin terasa ketika orang tua sangat sensitif secara emosional dan sulit diprediksi reaksinya.
Eggshell parenting juga dapat berkaitan dengan stres, kesulitan meregulasi emosi, serta masalah kemelekatan atau attachment issue. Sebagian orang dapat berkembang dengan pola anxious attachment, sedangkan yang lain sulit mengandalkan orang lain atau terbuka secara emosional.
Mengenali pola tersebut dapat membantu seseorang memahami bahwa kebutuhan untuk selalu siaga tidak muncul tanpa alasan. Kesadaran ini juga penting agar pengalaman pengasuhan yang menyakitkan tidak diteruskan dalam hubungan keluarga berikutnya.
